« Joy’s Pride

Hari untuk Anak »

h1

“Atheisme” yang (Tidak) Bertuhan

July 23rd, 2006

Atheisme sering dikatakan sebagai paham yang tidak mempercayai Tuhan, baik itu keberadaannya maupun perannya dalam kehidupan manusia. Sulit untuk merunut sejak kapan paham ini ada di muka bumi. Walaupun demikian, banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya atheis. Atheisme mulai diberikan landasan rasional ilmiah ketika Ludwig Feuerbach menerbitkan karyanya The Essence of Christianity dan melakukan kritik agama khususnya agama Kristen.

Atheisme model Ludwig Feuerbach adalah filsafat model “tak lain daripada…”. Hal ini karena pemikiran yang diajukan hanya melihat sesuatu dibalik/dibelakang masalah yang dibicarakannya. Bukannya secara jujur mengungkapkan kebenaran dan kesalahan dari agama tapi langsung masuk kedalam adanya sesuatu di balik layar dari agama itu : “bahwa agama tak lain daripada….”. Landasan filosofis ini sering disebut dengan nama Reduksionisme.

Dalam tulisan ini saya hanya mengungkapkan 4 landasan berpikir para pemikir aliran utama atheisme, tentunya dengan penjelasan singkat ala kadarnya. Keempat pemikiran itu, yang mempelopori filsafat kritis terhadap agama, adalah Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, Friederich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.

1. Atheisme Ludwig Feuerbach

Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan konsep Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach, manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan oleh Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.

Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat bagi manusia untuk mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain dari sesuatu yang diberikan penghargaan positif terhadap dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama tak lain daripada hasil proyeksi manusia itu sendiri. Dengan kata lain, manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia yang menciptakan Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.

Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, Pengampun, dll yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan dan penyembahan kepada agama dan Tuhan yang sebetulnya telah berada dalam dirinya dan menjadi miliknya. Oleh karena itu, manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama dan Tuhan bukan lagi merupakan sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi justru manusialah pusat dari segalanya.

2. Atheisme Sigmund Freud.

Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptkan dan mengembangkan metode Psikoanalisis. Suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan filsafat reduksionisme-nya bahwa agama “tak lain daripada…”

Buku karya Freud yang menyatakan atheismenya adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual-ritual keagamaan mempunyai kemiripan dengan ritual yang ada dalam gangguan obsesif-kompulsif. Obsesif-kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/aktivitas berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan “neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis”. Suatu pernyataan yang jelas mengaitkan antara agama dan neurosis.

Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bisa bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual manusia agar dapat diterima oleh masyarakat.

3. Atheisme Friederich Nietzsche.

Whiter is God, ‘he cried. ‘I shall tell you. We ahve killed Him-you and I. All of us are murderers…God is dead. God remain dead. And we have killed him…” (Friederich Nietzsche, The Gay Science, 1882).

Kutipan diatas adalah salah satu pernyataan Nietzsche dalam bukunya. “God is Dead” yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan terhadap Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan seandainya Dia belum mati, adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).

Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science) bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik dan bidang-bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.

4. Atheisme Jean-Paul Sartre

Sartre adalah salah satu tokoh terkemuka dalam Filsafat Eksistensialis. Dia adalah orang yang pertama kali menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Atheisme adalah salah satu inti dari filsafat Sartre.

Sartre menolak konsep tentang Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (self-contradiction). Sartre mendefinisikan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for-itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak relevan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat terhadap apapun. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti ini karena konsep ini berisi kontradiksi dalam dirinya. (Jean-Paul Sartre, Being and Nothingnes : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943).

Selain itu, konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberiarti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaan dan ketidakmampuannya.

=============

Konsep-konsep atheisme diatas dapat berkembang menjadi pemikiran-pemikiran baru dalam aliran-aliran atheisme. Dan perdebatan seputar konsep ini masih terus berlanjut.

 

 

 

 

 

 

FILSAFAT MANUSIA

Ditulis oleh Aiter dan Billy

PENDAHULUAN

Banyak tulisan modern sarat dengan perasaan absurditas, kebosanan,
kemuakan dan ketidak-artian. Bagaimana timbulnya semua perasaan muram
ini? Jelaslah antara lain karena dua kali terjadi perang dunia yang
disertai badai kekerasan, kebencian serta ketidak-manusiawian dan
mengakibatkan korban berjuta-juta, ditambah lagi semua pengungsi dan
orang yang kehilangan tempat tinggal.

Barangkali yang paling buruk bukanlah kekerasan fisik, melainkan
pembusukan kepribadian serta hati nurani karena perang memaksa manusia
memainkan peranan-peranan di mana ia tidak lagi mengenal dirinya sendiri
dan mengkhianati keterlibatannya. Perang seolah-olah mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang menghancurkan kemungkinan untuk
bertindak dengan cara yang sungguh-sungguh manusiawi.

Pertanyaan yang menarik bagi kita ialah apakah kita sebagai pribadi atau
sebagai masyarakat, masih sanggup memberikan suatu makna kepada
kehidupan kita. Kita berefleksi tentang diri kita sendiri dan tentang
pertanyaan eksistensial ini: apakah hidup kita masih mempunyai makna?
Dan kalau masih ada makna yang bagaimana?

Dalam tulisan ini kami berusaha untuk menampilkan beberapa filsuf yang
representatif berbicara mengenai manusia. Beberapa thema yang penting
yang menjadi pokok pembahasan yang digeluti misalnya seperti tentang
siapakah manusia (Sokrates), makna tertinggi keberadaan manusia (Plato),
esensi atau hakekat manusia (Descartes), eksistensi manusia
(Kierkegaard, Sartre), tubuh manusia (Plato, Marcel). Dan akhirnya kami
mengakhiri tulisan ini dengan sebuah mini eksegese dari tulisan Paulus
kepada jemaat di Roma (pasal 12:1-2) yang menurut hemat kami menjadi
jawaban yang mengakhiri semua perdebatan filsuf-filsuf tentang manusia.

PRE-SOKRATES --- SOKRATES

Pada permulaan perkembangan pemikiran filsafat Yunani, tampaknya
semata-mata berurusan dengan dunia fisik saja. Kosmologi jelas amat
mengungguli penyelidikan-penyelidikan dalam cabang-cabang filsafat
lainnya.

Aliran ini berpendapat bahwa unsur-unsur kualitatif kosmos berasal dari
unsur-unsur kuantitatif, yaitu bilangan-bilangan. Mazhab ini juga
menaruh perhatian yang dalam pada masalah manusia, tetapi terutama dari
sudut keagamaan di dalam kelompok tertutup tempat mereka hidup.

. Para pemikir Eleatik menjadi orang-orang pertama yang menggariskan
cita-cita logika. Mereka menegaskan bahwa hanya rasio yang dapat membuka
jalan ke arah Ada yang benar dan nyata.

. Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis
dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang
dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik
tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos)
sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan
terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.

. Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang
menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan
Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu
dia berpendapat bahwa “manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya”.

Meskipun mereka tergolong filsuf alam, namun Heraklitos sudah yakin
bahwa mustahil menyelami rahasia alam tanpa mempelajari rahasia manusia.
Kita harus memenuhi tuntutan akan pengenalan diri bila kita hendak tetap
menguasai realitas dan memahami maknanya. Oleh sebab itu Heraklitos
menyebut seluruh filsafatnya dengan dua kata edizesamen emeoton (“Aku
mencari diriku sendiri”). Namun kecendrungan berpikir yang baru ini,
baru matang pada masa Sokrates, sehingga persoalan tentang manusia
merupakan patokan yang membedakan pemikiran Sokrates dengan pemikiran
pre-Sokrates. Ungkapan Sokrates yang sangat terkenal adalah “kenalilah
dirimu sendiri”.

Manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya sendiri dan
yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat
kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, “Hidup
yang tidak dikaji” adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Bagi
Sokrates, manusia adalah makhluk yang bila disoroti pertanyaan yang
rasional dapat menjawab secara rasional pula.

Menurut Sokrates, hakekat manusia tidak ditentukan oleh
tambahan-tambahan dari luar, ia semata-mata tergantung pada penilaian
diri atau pada nilai yang diberikannya kepada dirinya sendiri. Semua hal
yang ‘ditambahkan dari luar’ kepada manusia adalah kosong dan hampa.
Kekayaan, pangkat, kemasyhuran dan bahkan kesehatan atau kepandaian
semuanya tidak pokok (adiaphoron). Satu-satunya persoalan adalah
kecendrungan sikap terdalam pada hati manusia. Hati nurani merupakan
“hal yang tidak dapat memperburuk diri manusia, tidak dapat juga
melukainya baik dari luar maupun dari dalam”.

PLATO (427 – 347 SM)

Terjadi titik balik dalam kebudayaan dan pemikiran Yunani ketika Plato
menafsirkan semboyan “kenalilah dirimu sendiri” (gnothi seauton) dengan
cara yang sama sekali baru. Penafsiran ini memunculkan persoalan yang
tidak hanya tidak terdapat pada pemikiran pre-Sokrates, tetapi juga di
luar jangkauan metode Sokrates sendiri. Untuk memenuhi permintaan orakel
Delphi, untuk memenuhi kewajiban religius berupa pengkajian diri serta
pengenalan diri, Sokrates mendekati manusia sebagai individu. Pendekatan
Sokrates ini oleh Plato dianggap punya keterbatasan-keterbatasan. Bagi
Plato, untuk memecahkan persoalan tersebut kita harus membuat rancangan
yang lebih luas. Dalam pengalaman individual, kita menghadapi
gejala-gejala yang demikian beraneka, rumit dan saling bertentangan,
sehingga kita sulit melihatnya secara jelas.

Manusia seharusnya dipelajari dari sudut kehidupan sosial dan politis.
Menurut Plato, manusia adalah ibarat teks yang sulit, maknanya harus
diuraikan oleh filsafat. Tapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi,
teks itu ditulis dengan huruf-huruf yang terlampau kecil sehingga tidak
terbaca. Maka sebagai tugas pertama, filsafat harus ‘memperbesar’
tulisan-tulisan tersebut. Filsafat hanya dapat mengajukan teori yang
memadai tentang manusia apabila sampai pada teori tentang negara. Dalam
teori tentang negara, sifat-sifat manusia ditulis dengan huruf-huruf
besar. Dalam teori tentang negara, arti ‘teks’ yang semula tersembunyi
seketika muncul, dan apa yang semula kabur dan ruwet menjadi jelas dan
dapat dibaca. Namun negara bukanlah segala-galanya, serta negara tidak
mencerminkan dan tidak menyerap seluruh aktivitas manusia, meskipun
kegiatan manusia dalam perkembangan sejarahnya berhubungan erat dengan
bertumbuhnya negara.

Plato bertitik tolak dari manusia yang harmonis serta adil dan dalam hal
itu ia menggunakan pembagian jiwa atas 3 fungsi, yaitu:

puncak dan pelingkup).

Menurut Plato, negara diibaratkan sebagai Manusia Besar, sebagai
organisme yang terdiri atas 3 bagian atau golongan yang masing-masing
sepadan dengan suatu bagian jiwa, yaitu:

pedagang.

Plato juga mengajarkan teori tentang pra-eksistensi jiwa. Dia mengatakan
sebelum kita dilahirkan, atau sebelum kita memperoleh suatu status
badani, kita sudah berada sebagai jiwa-jiwa murni dan hidup di kawasan
lebih tinggi di mana kita memandang suatu dunia rohani. Sejak kita
dilahirkan, kita berada di bumi dan jiwa kita meringkuk dalam penjara
tubuh, terbuang dari daerah tinggi itu. Karena penjelmaan dalam tubuh
itu, jiwa kita tidak lagi menyadarkan diri dan dengan mendadak tidak
lagi menyadari pengetahuan tentang idea-idea dalam dunia kayangan dulu.
Dari sini Plato kemudian mengembangkan teori tentang manusia. Manusia
pada mulanya adalah roh murni yang hidup dari kontemplasi akan yang
ideal dan yang ilahi.

Jadi, kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula
terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang
benar, dan yang indah. Tetapi kita gagal mencapai kehidupan yang
sebagaimana mestinya karena kita menyimpang dari kiblat idea-idea
tersebut, sehingga kita langsung terhukum dengan dipenjarakannya jiwa ke
dalam tubuh. Kita harus berusaha naik ke atas dan memperoleh perhatian
dan cinta besar untuk dunia ideal dan ilahi itu. Akan tetapi kemungkinan
untuk mewujudkan makna ini sangat dibatasi karena kita terbelenggu dalam
materi. Bagi kita, dunia jasmani dan tubuh menjadi
kemungkinan-kemungkinan buruk untuk tersesat lebih jauh lagi dan
tenggelam dalam rawa-rawa materi dan sensual. Kemungkinan yang paling
jahat ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinya sendiri (egoisme
radikal) dan kepada benda-benda jasmani (materialisme dan sensualisme).
Jadi, bagi manusia, dunia dan tubuh itu bersifat ambivalen, artinya
dunia serta tubuh dapat merayu dia ke arah kemungkinan-kemungkinan yang
jahat, tetapi dapat juga mendorong dia kepada kemungkinan-kemungkinan
yang baik.

Manusia memiliki suatu daya yang kuat dan gemilang yang dapat mendorong
dia ke atas, yaitu cinta (eros). Eros adalah daya kreatif dalam diri
manusia, pencetus kehidupan, inspirator para penemu, seniman dan genius.
Eros memenuhi kita dengan semangat kebersamaan, membebaskan kita dari
kesendirian kita, dan mengajak kita ke pesta, musik, tarian, dan
permaian. Plato menyebutnya sebagai “bapak segala kehalusan, segala
kepuasan dan kelimpahan, segala daya tarik, keinginan dan asmara”. Eros
mendorong kita semakin tinggi, sehingga kita dapat beralih dari cinta
yang kelihatan kepada cinta yang tidak kelihatan, ideal, ilahi. Menurut
Plato, kematian hanyalah permulaan suatu reinkarnasi baru yang lebih
rendah atau lebih tinggi daripada keberadaannya sebelumnya. Dalam
karyanya: Phaidros, Plato berkata bahwa setelah 10.000 tahun, jiwa akan
kembali ke asal usulnya. Jadi menurut pandangan Plato, manusia mempunyai
banyak jiwa dan banyak manusia individu.

RENE DESCARTES (1596-1650)

Filsafat Rasionalismenya membawa dampak terhadap pandangan tentang
manusia. Pemikiran-pemikiran penting dalam filsafatnya:

. Ada dua bentuk realitas yang berbeda, dua “substansi”. Yang pertama
adalah gagasan (res cogitan), atau “pikiran”, dan yang kedua adalah
perluasan (res extensa). Pikiran itu adalah kesadaran, tidak mengambil
tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam
ruang dan tidak mempunyai kesadaran.

. Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain.
Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses
materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.

. Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan
perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di
dalam badan – itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak
tergantung pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat
menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan.
Interaksi konstan berlangsung antara “roh” dan “materi”. Pikiran dapat
selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan badaniah. Namun pikiran dapat menjauhkan diri dari
impuls-impuls ‘tercela’ semacam itu dan bekerja tanpa tergantung pada
badan (jika aku merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah
sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka manusia mempunyai
kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah dan
bertindak secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada
badan.

SÖREN KIERKEGAARD (1813-1855)

Sebagai Bapak Eksistensialisme, pandangan filosofis Kierkegaard tentunya
banyak membahas tentang manusia, khususnya eksistensinya. Beberapa point
yang penting dalam filsafatnya:

. Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan, melainkan di hadapan
Tuhan.

. Dia menganggap Hegelianisme sebagai ancaman besar untuk individu,
untuk manusia selaku persona.

. Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari kebenaran, yaitu
bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu. Kebenaran
obyektif – termasuk agama – harus mendarah daging dalam si individu.

. Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat
dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat.
Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah
benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan
kematianku. Apakah gunanya menemukan suatu kebenaran yang disebut
obyektif dan mempelajari semua sistem filosofis … Sejauh mana ada
baiknya bagiku dapat menjelaskan arti agama Kristen bila agama itu tidak
mempunyai arti mendalam untuk aku sendiri dan kehidupanku …” Kierkegaard
mencari kebenaran yang konkret serta eksistensial, suatu pengetahuan
yang dihayati (connaissance vécue), a real knowledge.

. Dia membedakan manusia dalam stadium estetis, etis dan religius.

. Pada stadium estetis manusia membiarkan diri dipimpin oleh sejumlah
besar kesan-kesan indrawi, mengikuti prinsip kesenangannya, lebih
dijadikan hidup daripada ia hidup sendiri. Manusia menyibukkan diri
dengan rupa-rupa hal, tetapi ia tidak melibatkan diri; ia hanya tinggal
seorang penonton yang berminat. Ia bisa menjadi seorang hedonis yang
sempurna, seorang “perayu” seperti Don Juan, atau seorang yang “sok
tahu” dan seorang Sofis (mis. Mendalami filsafat dan teologi).

. Kebosanan, kekurangsenangan dan kecemasan memimpin seseorang ke arah
stadium etis. Mulai mekar keinsafan akan kemungkinan-kemungkinan kita,
akan kebebasan, tanggung jawab dan kewajiban kita. Kita sampai pada diri
kita sendiri, menggantungkan kehidupan kita pada norma, bertumbuh
menjadi persona. Kita semakin mengikat diri, dari penonton menjadi
pelaku, kita melibatkan diri. Dalam stadium ini juga, manusia menyadari
keadaannya yang tragis dan bercacat; ia menginsafi bahwa ia penuh
kekurangan. Ia akan merasa jengkel karena ketidaksempurnaannya serta
ketidaksanggupan morilnya dan mungkin akan memberontak terhadap seluruh
tatanan etis.

. Manusia bisa merasa dirinya kecil dan tidak berdaya sambil mendambakan
topangan serta bantuan Tuhan, yang mengulurkan tangan-Nya untuk membantu
manusia yang terkoyak-koyak (bandingkan Mat 5:3). Bila kita menangkap
tangan ini dan membuka diri untuk Tuhan, maka kita tiba pada stadium
religius. Sebagai orang Kristen – ia berani menerjunkan diri ke dalam
petualangan untuk – dengan ketidakpastian intelektual yang besar –
mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi mengikuti jejak Kristus. Iman
kepercayan Kristiani itu bersifat paradoks, sebagaimana Kristus
merupakan Paradoks besar yang mempersatukan keabadian serta keduniawian,
keilahian serta kemanusiawian. Hidup sebagai Kristen adalah cara hidup
tertinggi yang merupakan kemungkinan ultim dan makna keberadaan manusia.

GABRIEL MARCEL (1889-1973)

Salah satu thema utama dalam filsafatnya adalah mengenai tubuh. Beberapa
hal yang penting:

. Masalah mengenai “mempunyai” dan “Ada” dikaitkan dengan tubuh. Saya
mempunyai tubuhku atau saya adalah tubuhku? Tubuhku bagi saya bukan
obyek, melainkan selalu melibatkan pengalaman saya sendiri tentang
organisme fisis-kimiawi, inilah yang ingin diselidiki oleh Marcel.

. Analogi “saya mempunyai tubuhku” dengan “saya mempunyai anjingku”
harus dihentikan karena tiga aspek: 1) antara saya dan tubuhku tidak
terdapat struktur qui-quid (subyek yang mempunyai dan yang dipunyai)
seperti antara saya dan anjingku; 2) tubuh tidak berada di luar saya
seperti halnya dengan anjing; 3) saya tidak merupakan “yang lain”
terhadap tubuhku seperti saya memang merupakan “yang lain” terhadap
anjingku.

. Tubuh bukanlah alat. Martil berada antara tukang kayu dan papan yang
sedang dikerjakan. Tubuh tidak berada antara aku dan apa yang sedang
dikerjakan. Bila saya menulis, tubuh tidak berada antara “aku” dan
kertas.

. Tubuh adalah “alat absolut”, artinya alat yang memungkinkan alat2
tetapi tidak merupakan alat bagi sesuatu yang lain.

. Tubuh adalah “prototipe” di bidang “mempunyai”, yang memungkinkan
untuk mempunyai tetapi tidak dipunyai oleh sesuatu yang lain.

. Sekalipun demikian saya tidak identik begitu saja dengan tubuhku.
Tetapi jelas penengahan antara saya dan tubuhku tidak bersifat
instrumental. Marcel menyebutnya sympathetic mediation: penengahan pada
taraf “merasakan” (sentir). Saya adalah tubuhku, hanya sejauh saya
adalah makhluk yang merasakan.

. Proses “merasakan” harus dimengerti sebagai suatu “message” dari luar
yang diterima di dalam subyek. Garis pemisah yang ditarik antara “di
luar” dan “di dalam” harus ditolak karena “menerima” dalam hal perasaan
tidak pernah sama dengan “menerima semata-mata pasif”. “Menerima” di
sini harus dimengerti sebagai partisipasi, membuka diri, memberikan
diri; “menerima” seperti tuan rumah menyambut tamu-tamunya. “Merasakan”
berarti menerima dalam wilayah yang merupakan wilayah saya.

. “Inkarnasi” manusia hanya mungkin karena dengan tubuhku saya berada
dalam dunia, bukan saja dalam arti bahwa saya dapat mempengaruhi
benda-benda, tetapi juga dalam arti bahwa saya terpengaruhi oleh
benda-benda. Dualisme antara “di luar” dan “di dalam” harus
ditinggalkan. Inkarnasi itu merupakan titik tolak refleksi filosofis dan
bukan cogito atau kesadaran.

JEAN PAUL SARTRE (1905 -1980)

Manusia merupakan suatu proyek ke masa depan yang tidak mungkin
didefinisikan. Manusia adalah sebagaimana ia diperbuat oleh dirinya
sendiri. Ia adalah masa depannya. Moral dan etika harus diciptakan oleh
manusia sendiri. Kita adalah kebebasan total, “kita dihukum untuk
bertindak bebas”. Inilah kemegahan dan sekaligus kemalangan bagi kita,
sebab kebebasan mengandung juga tanggung-jawab. Kita bertanggung-jawab
atas seluruh eksistensi kita dan bahkan kita bertanggung-jawab atas
semua manusia karena terus-menerus kita adalah manusia yang memilih dan
dengan memilih diri kita sendiri, kita sekaligus memilih untuk semua
orang. Dari tanggung-jawab yang mengerikan ini lahirlah kecemasan atau
keputus-asaan. Kita berusaha meloloskan diri dari kecemasan serta
keputusasaan itu melalui sikap malafide (mauvaise foi) serta keikhlasan
(sincerite), dengan berlagak seolah-olah kita bisa ada sebagaimana
seharusnya kita ada dan secara diam-diam menyisipkan suatu identifikasi
antara en-soi (Ada-pada-dirinya) dan pour-soi (kesadaran kita).

Mungkinkah kehidupan manusia tanpa Tuhan? Apakah hidup manusia masih
mempunyai makna? Secara obyektif kehidupan kita memang tidak mempunyai
makna sedikitpun dan absurd sama sekali. Kita tidak mempunyai alasan
untuk berada. Manusia merupakan une pasion inutile, suatu gairah yang
tidak berguna. Namun kita bisa memberi makna kepada kehidupan kita dan
dengan itu kehidupan manusiawi sebetulnya baru menjadi mungkin. Jadi
seorang manusia dapat memberi makna kepada keberadaannya dengan
merealisasikan kemungkinan-kemungkinan yang ada, dengan merancang
dirinya.

Sartre pernah menyebut orang lain “neraka”, tetapi kemudian ia
menginginkan suatu ikatan dan ia menemukan orang lain sebagai syarat
untuk eksistensinya sendiri. Untuk memperoleh kebenaran tentang diri
saya sendiri, saya memerlukan orang lain. Jadi Sartre yang sebagai
atheis ingin menciptakan suatu way of life yang baru, yaitu semacam
moral manusiawi yang baru. Karena saya terikat dengan orang lain, maka
kebebasan saya harus memperhitungkan juga kebebasan orang lain itu. Saya
tidak boleh membuat kebebasan saya menjadi tujuan tanpa membuat hal yang
sama dengan kebebasan orang lain.

Setelah semua manusia mati, seluruh sejarah umat manusia dapat
disingkatkan dengan mengatakan, “begitulah manusia”. Akan tetapi,
siapakah yang dapat mengetahui serta mengatakan hal itu karena tidak ada
lagi manusia? Selama masih ada manusia hidup, selalu terlalu pagi untuk
mengatakan “begitulah manusia”. Bagi manusia individu, kemungkinan
ultimate adalah kematian, tetapi kemungkinan ultimate seluruh umat
manusia tidak kita ketahui.

RASUL PAULUS

Kita akan mengkonsentrasikan pandangan Paulus, khususnya dalam suratnya
kepada jemaat di Roma (pasal 12:1-2).

Di sini Paulus mengaitkan tubuh (sebagai persembahan yang hidup kepada
Allah), keberbedaan kita dengan dunia, pembaharuan budi dan mengetahui
kehendak Allah (yang baik dan sempurna).

. Berbeda dengan Plato dan Descartes yang cenderung melihat tubuh
sebagai penjara jiwa, yang seringkali menghalangi akal sehat yang
seharusnya memimpin, berbeda juga dengan Marcel yang cenderung
memberhalakan tubuh sebagai “alat absolut” yang tidak dijadikan oleh
sesuatu apapun yang lain, maka Paulus menasihatkan kita untuk
mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Di
sini kita melihat pandangan yang positif tentang tubuh (bukan sesuatu
yang jahat), sekaligus dilarang untuk memberhalakannya, karena Allah
sebagai Pencipta tubuh kita berhak untuk memakainya, bahkan
“mempunyainya” sebagai “alat” di tangan-Nya.

. Berbeda dengan Marcel yang mengatakan bahwa kita seharusnya terbuka
terhadap setiap “message” dari luar yang diterima (dirasakan) oleh
tubuh, terpengaruhi oleh benda-benda dlsb, Paulus mengatakan agar kita
tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Permasalahannya di sini bukanlah
bahwa kita harus memiliki satu sikap eksistensial berani ditransformasi
oleh segala sesuatu “yang lain”, melainkan pertanyaan “apa yang
mentransformasi kita?” Alkitab mengatakan bahwa transformasi itu terjadi
dalam “pikiran” (mind) yang mengenal kehendak Allah. Transformasi
pikiran inilah sebenarnya yang dikejar dan didambakan oleh Plato dan
yang disebutnya sebagai “kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi”.

Alkitab tidak pernah mengajarkan agar kita memberikan diri untuk
ditransformasi oleh apa saja (asal bersedia ditransformasi), melainkan
bahwa yang mentransformasi kita adalah firman Tuhan. Transformasi yang
dikerjakan oleh firman Tuhan membuat kita semakin mengerti dan mengenal
kehendak Allah. Di sini kita melihat bahwa Alkitab menghendaki
pengertian pikiran kita (understanding of our mind) terus-menerus
disempurnakan, sehingga menjadi orang kristen yang berkenan kepada Allah
tidak dapat dipisahkan dari mengerti dan memikirkan apa yang kita
percaya karena di situlah transformasi itu terjadi.

Sebagaimana dikatakan oleh John Piper, orang kristen seharusnya menjadi
seseorang yang memiliki “a mind in love with God”. Mind corresponds to
the understanding of the truth of God’s perfections. Love corresponds to
the delight in the worth and beauty of those perfections. God is
glorified both by being understood and by being delighted in. He is not
glorified so much by one brand of evangelicals who divorce delight from
understanding. And he is not glorified so much by another branch of
evangelicals who divorce understanding from delight (John Piper, God’s
Passion for His Glory. Wheaton: Crossway Books, 1998, p.82).

. Plato mengatakan bahwa kemungkinan dan makna ultimate keberadaan
manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan
yang baik, yang benar, dan yang indah. Paulus mengatakan bahwa
mengetahui dan dapat membedakan kehendak Allah adalah apa yang baik,
yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Plato secara samar-samar memiliki pengertian tentang makna ultimate
keberadaan manusia, namun Pauluslah yang dipercayakan Tuhan untuk
menyatakan apa yang baik itu, yang benar, yang indah, yang berkenan
kepada Allah dan yang sempurna yaitu mengetahui kehendak Allah. Dengan
mengetahui kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya
manusia menemukan makna ultimate keberadaan dirinya.

 

EKSISTENSI MANUSIA DALAM AGAMA

Manusia beragama, khususnya dalam terma keislaman, adalah manusia yang memiliki keterikatan yang bersifat mutlak kepada Tuhannya. Keterikatan dalam pengertian sempit maupun luas. persoalannya adalah, bagaimana terma keterikatan tersebut dimaknai. Dalam tradisi Kalam (teologi Islam) klasik, secara umum diwakili oleh dua kelompok yang memiliki pendapat yang berbeda (bertentangan) dan bersifat radikal. Yaitu: kelompok Mu’tajilah yang sering dianggap memiliki pandangan Qodariyah , dan Asy’ariyah (Sunni) yang memiliki kecenderungan perpandangan Jabariah.
Kelompok Mu’tajilah memandang bahwa keterikatan dan ketergantungan manusia terhadap Tuhan bersifat partial. Artinya, manusia memiliki ketergantungan secara mutlak pada Tuhan hanya pada sisi dan proses penciptaan, sedangkan pada aktivitas kehidupan (berkehendak dan berbuat) sama sekali tidak terikat. Manusia memiliki kebebasan mutlak dalam hal tersebut. Karena, hanya dalam kebebasan tersebut hukum moral (agama, syariah) beserta konsekwensi hukumnya dapat dipahami.
Sementara itu kelompok Asy’ariyah (Sunni), yang mewakili faham Jabariah) memandang bahwa keterikatan dan ketergantungan manusia terhadap Tuhan bukan hanya pada sisi dan proses penciptaan saja, akan tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupannya. Segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah karena kehendak dan kuasa Tuhan. Manusia hanya bisa melakukan apa-apa yang sejalan dengan kehendak-Nya. Apabila kehendak manusia bertentangan atau bentrok dengan kehendak Tuhan, maka yang berlaku adalah apa yang dikehendaki Tuhan. Dengan logika yang sama, apa yang sesuai dengan kehendak manusia dan itu terjadi, sebenarnya bukan karena kehendak manusia hal itu terjadi akan tetapi karena kehendak Tuhan belaka.
Dengan demikian, bila melihat dasar asumsinya yaitu bahwa kedua kelompok tersebut sesungguhnya mengakui ke-Ada-an dan eksistensi (keberadaan) Tuhan, akan tetapi dalam hal hubungan Tuhan-manusia, kedua kelompok tersebut berbeda dan bertentangan secara diametral, dan keduanya mengambil jalan yang bersifat radikal. Asy’ariyah, yang “sedianya” mengambil jalan tengah diantara pandangan Jabariah dan Qadariyah pada akhirnya terjebak dalam kumbangan pemikiran Jabariah.
Indonesia merupakan salah satu wilayah yang secara kuantitas maupun “kualitas” beragama Islam, memiliki kecenderungan berfaham kalam “Asy’ariyah”. Walaupun demikian, faham Asy’ariyah yang terdapat di wiliyah Indonesia telah memiliki bentuk yang lain. Bentuk yang tidak jelas, walaupun kecenderungan jabariah-nya masih kental. Hal tesebut tampak terutama pada kelompok masyarakat Islam yang juga menganut atau telah dicampuri oleh pandangan-pandangan teo-sofi. Hal tersebut telah melahirkan pandangan teo-sofi yang mandul dan responsif. Baru bergerak dan muncul kehendak untuk bergerak bila mendapat tantangan. Pola hidup pasrah dan adem ini secara khusus sangat berakar di tatar Sunda. Di samping karena pengalaman sejarah yang telah membawa masyarakat Sunda ke kultur ”sumuhun dawuh”, juga karena alamnya yang subur telah memanjakan masyarakat Sunda sehingga terlena, kehilangan kreativitas dan vitalitas kehidupannya.
Spirit “spiritualisme” sufistik yang memiliki semangat dan kekuatan untuk mengejar suatu nilai kehidupan “abadi” menuju dan bersama Tuhan telah hilang.
Dalam atmosfir budaya beragama demikian, muncullah seorang tokoh agama (Kiayi) sekaligus priayi dan budayawan, K.H. Hasan Mustapa (selanjutnya disebut HHM). Sosok yang sejak kecil digembleng dalam kehidupan yang serba sulit, sehingga ia hampir tidak mengenal dan merasakan bagaimana alam memanjakan dan meninabobokannya. Keadaannya sebagai anak priayi justru menjadikannya “penasaran” dengan kehidupan yang dijalaninya, karena ia tidak mengalami apa yang orang lain (yang sama-sama anak priayi) alami dan jalani. Namun demikian, “seni tradional” Sunda yang diwariskan dari keluarganya telah memperhalus perasaannya yang paling dalam. Dengan demikian, sejak awal kehidupannya senantiasa dihadapkan pada dua “atmosfir” kehidupan yang berbeda, bertentangan. Kehidupan yang keras, dan tradisi yang membuat perasaanya lebut.
Kondisi dualisme itulah yang telah menempa kehidupannya, dan senantiasa menuntutnya untuk mencari jalan tengah. Sehingga ia merasa nyaman atau betah ketika berhadapan dengan kondisi yang sulit sekali pun.
Biografi yang ditulisnya, lebih menekankan dan mengungkap dilema pertentangan kehidupannya. Seperti dikutif Ajip Rosidi; HHM menjelaskan asal-usul nenek moyahnya, ia menyebutkan bahwa ia (Hasan Mustapa) merupakan turunan ke-14 dari Kean Santang (Kang Jeng Dalem Pagerjaya, nu sumare di karaton, Godog anu pinunjung), dari Jalur Sembah Lebe (Lebe Warta) samapai “eyang pribadi” Mas Kartapraja (keturunan dari ibu), Sukapura. Jalur inilah yang menjadikannya sebagai keluarga priayi. Sementara itu, darah (darah) seninya mengalir dari jalur Manonjaya (Tasikmalaya). Sedangkan darah (tradisi) kesantriannya didapat dari Suci, dekat Gadog (Garut), yaitu Mas Ngabehi Kalipah di Suci, yang kemudian membuka wilayah Cikajang dan menjadi Camat Cikajang. Ia adalah kakek K.H. Hasan Mustapa. Karena kehidupannya yang diangap kurang baik oleh orang tua HHM, anaknya dijauhkan dari tradisi kepriayian tersebut dengan mengirimkan anaknya ke pesantren dan ke Makah, orang tuanya menolak menolak untuk disekolahkan di sekolah Belanda. Sementara itu, bapaknya merupakan keturunan Bungbulan (Cikajang), santri pesantren Manonjaya.

Eksistensi Manusia dalam Pandangan Hasan Mustapa
Perjanan kehidupan manusia digambarkan HHM secara sistematis dalam Naskan Sasaka di Kaislaman dan Naskah Matrabat Tujuh. Kedua naskah tersebut merupakan naskah yang bersambungan dalam alur, namun berbeda dalam karakter serta penekanan persoalan yang diungkap. Sementara itu, sejumlah (ribuah) bait (pada) dangding (puisi tradisional) lebih merupakan pembahsaan melalui media sastra berkenaan dengan persoalan yang diungkap dalam kedua naskah tersebut.
HHM memulai “drama”-nya dengan munculnya “rasa ka-Islaman…”. Bila merujuk pada tradisi pemikiran Islam Indonesia antara penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, ada kemungkinan bahwa terminologi Islam yang dimaksud HHM bukan dalam pengertian “formal”, akan tetapi lebih merupakan terminologi budaya. Sutau terminologi yang didasarkan pada kerangka konseptual fiqiyah, yaitu seseorang yang sudah baligh. Pengertian tersebut, secara fiqhiyah dipahami sebagai keadaan seseorang yang telah mulai mampu membedakan yang benar (haq) dari yang salah (bathil). Secara biologis dan psikologis, dalam konteks hukum Islam, hal ini ditandai oleh pengalaman mimpi “dewasa” bagi laki-laki, dan haid bagi perempuan. Dengan demikian, makna “rasa kaislaman” yang ia maksud adalah suatu “rasa” atau kesadaran moralitas dan “intelek” yang muncul, yang mengenalkannya pada norma baik-buruk atau benar-salah (haq dan bathil).
Kesadaran akan adanya dua nilai tersebut telah secara alami memaksa manusia untuk “memilih”. Memilih untuk mengikuti, menerima, atau menolaknya. Ketika itulah muncul terma “perbawa”. Suatu “kekuatan internal” yang yang bergerak secara dialektis. Penggunaan istilah kapangeranan dan iblis, sesungguhnya lebih merupakan penggambaran (antropomorfistik) dan suatu kekuatan misterius dalam diri manusia. Kekuatan yang sulit untuk dijelaskan dan diurai-pisahkan. Perbawa kapangeranan adalah “simbol” dari kecenderungan manusia untuk meraih dan berjalan di atas nilai-nilai ideal (norma-norma sosio-religius), menurut HHM. Sedangkan perbawa Iblis merupakan simbol bagi kecenderungan terhadap nilai-nilai sekular, duniawi.
Identifikasi tersebut merupakan hal yang biasa dalam dunia ilmu sekali pun. Seperti pembagian unsur-unsur “inner” manusia oleh Sigmund Freud, yang memilah unsur inner manusia dalam tiga bagian besar, yaitu Id yang menggambarkan motor dari dimensi inner untuk mengaktualisasikan kecenderungan jasmaniah manusia, super-ego sebagai motor dari dimensi inner untuk mengaktualisasikan pandangan ideal yang hidup dalam manusia diri manusia sebagai hasil inteaksi dengan masyarakatnya (pengalaman sejarahnya). Sedangkan Ego sebagai katalisator, pendamai (kontrol dan penengah) yang ada dalam diri manusia, dalam tekanan dua kekuatan tersebut.
Dengan demikian, konsidi inner dalam konteks pemikiran Freudian bukanlah sesuatu yang telah dengan sendirinya ada, melaikan sebagai hasil (terbentuk) dari proses interaksi dengan dunia luar. Interaksi terjadi sebagai kemestian mutlak karena adanya kemestian untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan “biologis”. Kebutuhan ini kemudian mendapat kekuatan ketika “lembaga psikologis” terbentuk dari potensi rasional dari adanya kemampuan “otak” manusia yang telah mencapai tingkat evolusi tertinggi. Dengan demikian kebutuhan-kebutuhan biologis tidak sekedar mewujud dalam pemenuhan yang bersifat mekanis belaka, akan tetapi juga dalam wujud imajinatif. Ketika itulah kekuatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan bilogis tersebut semakin menguat, karena “kepuasan” yang didapat bukan sekedar didapat dari obejnya, melainkan juga dari kepusasn imajinatifnya. Kekuatan imajinatif yang secara dinamis dan kompulsif ini dikenal dengan Id. Kekuatan yang berpijak pada “prinsip kesenangan” (pleasure principle).
Peran imajinasi terhadap objek-objek pemenuhan kebutuhan jasmani yang bersifat kongkrit ini kadang mendapat hambatan, baik karena keterbatasan jumlahnya, maupun karena persoalan sosial, sering manusia melakukan melakukan “penyimpangan” imajinasi terhadap benda-benda tertentu yang dibayangkan sebagi benda lain yang dibutuhkannya. Cara ini pada awalnya dilakukan untuk menghilangkan “prustasi” dan ketegangan karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasmaniah tersebut, tapi bila
Keadaan ini terus berlanjut, akan melahirkan cara berpikir yang kacau, karena ia mengalami jalan berpikir predikatif (predicate thinking). Ia mengangap sama suatu objek dengan objek lainnya (dalam pikiran). Hal ini muncul secara nyata dalam mimpi. Prinsip ini menjadi dasar bagi teori tafsir mimpi dari Psiko-analisa Freudian.
Ketika ketegangan-ketegangan tersebut terus berlanjur, terbentuk unsur inner lainnya dalam bentuk “lembaga psikologis” lainnya yang disebut “ego”. Ia terbentuk dari mekanisme imajinasi rasional yang lebih seimbang. Ketika itulah aku “biologis” terbetuk.
Marcel menyebutkan bahwa “nasib” manusia “berada di dalam situasi”, etre-en-situation. Dengan rumusan lain dapat dikatakan, bahwa eksistensi dasar manusia pada dasarnya adalah “berada di dalam dunia” (etre-au-monde) . Pernyataan ini mirip dengan pernyataan Heiddeger ketika menyatakan bahwa manusia adalah “in der-Welt-sein”. Dengan kata lain, kehidupan manusia tidak hanya berhadapan dengan benda-benda “mati” sebagai objek pemenuhan kesenangan, akan tetapi juga berhadapan dengan “masyarakat” yang memiliki struktur yang rumit dan memiliki suatu sistem dan norma tertentu. Norma yang lebih sering menjadi sumber ketegangan dan prustasi bagi sang individu. Tekanan sosial ini terjadi semenjak sang individu kecil. Tekanan sosial tersebut akhirnya berkarat dan menumpuk dalam wilayah imajinasi yang mengalami penolakkan, ia akhirnya membentuk wilayah bawah sadar manusia. Wilayah yang terbentuk dari akumulasi kecenderungan-kecenderungan biologis yang kompulsif dan akumulasi dari norma-norma sosial yang mengakibatkan prustasi. Akumilasi dari ekdua hal tersebut membentuk apa yang disebut Freud dengan “obsesi-obsesi bawah sadar”. Obsesi tersebut, bila menemukan lubang jalan keluar, membentuk pikiran, kepribadian dan sikap atau prilaku yang tidak menemukan akar penyebabnya. Hal itu terjadi karena norma-norma yang telah menekan kemungkinan untuk terpenuhinya suatu hasrat di masa lalu.
Pengalaman-pengalaman masa lalu itulah yang menbentuk “super-ego” dalam lembaga psikologis manusia. Super-ego merupakan cabang moril, lebih mewakili alam ideal dari pada alam nyata, super ego ini menuju ke arah kesempurnaan dari pada ke arah kenyataan atau kesenangan tentatif. Dalam kerangka pikir kebudayaan, terbentuknya Super-ego merupakan hasil dari proses pendidikan budaya. Hasil dari proses internalisasi (istilah Berger) atau subjektivasi (istilah Whitehead)terhadap sistem nilai budaya yang ada, dihadapi dan dialaminya.
Dengan demikian, keberadaan masa lalu dalam proses pembentukan individu manusia sangatlah menentukan, baik dalam konteks biologis, intelek maupun sosial. Disebut “proses” karena semua terbentuk dalam alur yang memiliki hubungan yang saling berkaitan. Dalam konteks inilah bisa dipahami bahwa manusia tidak bisa lepas dan melepaskan diri dari masa lalunya. Rumusan ini semakin mendapatkan makna dalam kerangka filsafat proses. Dalam filsafat proses Whitehead, seorang individu merupakan produk dari masalaunya, dan kemudia ia menjadi bagian dari masa lalu orang lain di depannya.
Masa lalu yang membetuk dimensi inner (psikologis dan kepribadian) seorang individu manusia, sebagai sebuah nasib (Whitehead) atau faktisitas (Jaspers) menjadi “modal” baginya untuk menghadapi kehidupannya sekarang dan dimasa depannya. Terbentuknya tiga unsur (dalam pemikiran Freudian) telah melahirkan suatu dinamikan persona (dinamika individu) yang senantiasa bersikap kritis terhadap apa-apa yang dihadapinya. Sikap kritis tersebut muncul sebagai akibat terjadinya sutau dialektika dalam diri manusia. Dinamika yang terjadi karena adanya “interaksi” antar ketiga unsur inner tersebut (Id, Ego dan Super-Ego). Sikap kritis tersebut digambarkan HHM dalam dialog internal seorang individu ketika ia terjebak dalam dua pilihan antara “taat dan mengkuti” atau “menolak” sistem nilai budaya masyarakat yang senantiasa “merongrong” dan menarik dirinya dalam suatu kultur dan mentalitas komunal, atau menolak dan menjadi indivdu yang menutup diri dari unsur-unsur luar dirinya (sistem nilain budaya).
Ketika dialektika tersebut terjadi, pertanyaan mendasar yang muncul adalah : “Mending lakonan atawa montong”, atau pertanyaan : “Hade lampahkeun atawa montong” (perbawa kapangeranan) atau “Kumaha? Hade lampahkeun atawa montong?” (perbawa Iblis). Ketika akan memutuskah apa akan dilakuakn seorang individu akan melakukan proses “prehensi”. Whitehead membedakan dua macam prehensi, yaitu prehensi posistif (yang dia sebut juga dengan istilah “feeling”) dan prehensi negatif. Yang pertama: merupakan proses inklusi atau pemasukkan unsur-unsur dari lingkungan ke dalam proses pembentukan diri oleh “satuan aktual” yang sedang dalam proses “menjadi’, sedangkan yang merupakan proses ekslusi atau penyingkiran unsur-unsur dari lingkungan dalam proses yang sama. Inklusi dan ekslusi terjadi berdasarkan kerangka relevansi unsur-unsur dari lingkungan (yang sekaligus merupakan data warisan masa lalu) bagi pembentukan diri itu diambil (dinklusikan), dan yang tidak relevan untuk pembentukan tersebut, akan ditolak (diekslusikan).
Dalam setiap “prehensi” terlibat lima faktor, yakni: pertama, subjek yang “merasakan” (the subject wich feels), yaitu sang sunjek atau individu yang merupakan prosek masa lalunya dari proses subjektivasi (internalisasi). Masa lalu yang telah membetuk dirinya, dan membentuk kategori-katerori inner-nya. Atau dalam istilah Berger, individu sebagai produk sisoalnya. Kedua, data awal yang “dirasakan” (“Initial data wich are being felt”). Referensi tentang objek atau persoalan yang dihadapinya. Sejumlah pengetahuan berkenaan dengan objek yang di hadapi. Ketiga, eliminasi unsur-unsur yang dieksklusikan dalam prehensi negatif (“elimination through negative prehension”). Pada saat yang sama ia melakukan “penarikan” terhadap unsur-unsur yang diinklusikan. Di sini terjadi proses evaluasi dan pemilihan. Keempat, data objektif yang “dirasakan” (“objective datum being felt”). Dan kelima: “forma subjektif” (“subjective form”), yakni cara bagaimana subjek “merasakan” data objektif.
Ketika sangat subjek atau individu merasakan objek, unsur-unsur Id, Ego dan Super-ego yang dalam istilah HHM disebut dengan “perbawa kapangeranan”, “perbawa iblis” dan “rasa ati” menjalankan fungsinya. “Rasa ati” atau ego memposisikan diri sebagai penengah dari dua kecenderungan. Ketika objek diketahui dan dirasakan sebagai “sesuatu”, ketika itulah muncul pertanyaan tersebut di atas. Mending lakonan atawa montong”, atau pertanyaan : “Hade lampahkeun atawa montong” atau “Kumaha? Hade lampahkeun atawa montong?”. Pertanyaan yang secara prinsip sama, perlu jawaban dalam bentuk argumen untuk dilakukan (menolak atau menerima).
Pilihan, sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi penentu bagi kehidupan selanjutnya. Jaspers mengilustrasikan bahwa dalam proses pemilihan seluruh unsur manusia terlibat di situ, terutama masa lalu dan masa depannya. Dalam memilih, spasialitas waktu lenyap. Waktu menjadi satu titik yang melingkupi seorang manusia, ia pun melingkupi waktu. Waktu menyatu dengan diri dan diri menyatu dengan waktu. Padahal, secara substansial, eskistensi manusia terbentuk dari masa lalunya. Sementara kembali ke masa lalu adalah “kemunduran”, absurd. Id, dan super-ego adalah produk masa lalu. Perbawa kapangeranan dan perbawa iblis adalah produk masa lalu. Sementara masa depan adalah kegelapan yang tidak bisa ditembus. Ketika itulah individu melakukan penolakan terhadap semua partialitas waktu tersebut dengan bertolak dari masa lalunya yang partial. Maka muncullah penytaaan sebagai jawban (argumen): “Tapi buktina sarua bae, nu ngalakonan tara meunang kauntungan, nu henteu ngalakonan tara jadi karugian atawa kacilakaan”.
Pada titik itu, terjadi absurditas makna kehidupan (anomie). Semua tertolak. “Kehidupan sadar” manusia senantiasa diawali oleh “penolakkan” (rejection, atheism). Prustasi dan taruma dalam kehidupan manusia akan senantiasa terus terjadi dalam setiap pase kehidupannya. Secara dramatis HHM, menggambarkan keadaan tersebut dalam dangdingnya:
Nu diprêbutkrun nawuku,
Kacocog kangeunah ati,
Marukan bisa midua,
Kapan aing ti leuleutik,
Nyembah mah diwarah heula,
Kumaki bawa ngajadi.

Kalingkung ku bingung kitu,
Loba nu nuding ka aing,
Kabuktian mulya hina,
Da kapalingan ti peuting,
Da kasayaban ti beurang,
Aing dipaling ku aing.

Kasarung turut lulurung
Balik deui balik deui
Sabab dina sisimpangan
Ceurik deui Ceurik Deui
Midangdam neangan Allah
Lain deui lain deui

Cara berpikir kongkrit pada pase awal kesadaran eksistensial, dalam memutuskan “lorong” kehidupan yang akan dijalani, cenderung melakukan pemilihan pada objek-objek kongktit. Ada dua kemungkinan pilihan yang diambilnya. Yaitu berkubang dengan dirinya sendiri, ia menarik dan menutup dirinya dari pengaruh luar. Dan kemungkinan kedua adalah ia berkubang dalam lautan relasi dengan individu lainnya.
Menurut Marcel, bila seseorang menjauhi situasi konkretnya, secara tidak sadar ia merongrong dasar akunya sendiri sebagai sebagai subjek. Dengan demikian, ia tengah memutus tali-tali eksistensial yang (tali-tali eksistensial tersebut) justru menjadikannya subjek yang unik dan berpribadi. Akhirnya orang seperti itu akan menjadi seseorang yang terpisah dari akar eksistensinya.
Marcel memandang (berbeda dengan Sartre ), bahwa eksistensi bersifat terbuka. Maksudnya: “Aku” hanya dapat mengetahui sesuatu, sejauh aku mencintai sesuatu itu. Manusia yang terisolasi, terpisah dan terasing dari orang lain sebenarnya orang yang malang. Orang yang demikian (menurut Marcel) boleh dibilang tidak sungguh-sungguh hidup; jadi, tidak betul-betul ada.
Beuki jauh ka cinyusu,
Beuki hilir beuki lali,
Moal nyaah ka pêtetan,
Lamun pamrih ka langari,
Teu paya ku pacengkadan,
Mun teu pambrih ku rejeki.
HHM menjelaskan bahwa orang yang memutuskan untuk memutus tali relasi dengan eksistensi lain dari pada mengalami kemajuan malah akan mengalami kemunduran dan terjerembab dalam kekufuran (penolakkan yang terus menerus). “Lebah dieu batan maju anggur mundur kana kufur, tina ngawula ku badan tina ngawula ku ati”.
Sementara orang yang membuka diri untuk relasi dengan eksistensi lain akan meningkat pada perwujudan eksistensi yang lebih tinggi. Orang harus mengakui keberadaan makhluk-makhluk yang tidak bisa disangkal eksistensinya. Dari kesadaran, di luar berdiri pula makhluk-makhluk lain yang serupa, orang harus memunculkan sebuah keinginan untuk mencintai makhluk-makhluk tersebut. Kalau tidak, maka pengetahuannya akan tetap mandul dan orang akan tetap terisolasi dalam ego-nya sendiri. Tuntutan untuk hadir dan terlibat dengan orang lain “demi” kebenaran, itulah yang Marcel sebut dengan participation (partisipasi). Pengalaman dalam kesasdaranku menjamin berlangsungnyam partisipasi. Akibatnya, “aku” terbenam di dalam dunia yang dapat disentuh dan diresapi oleh panca indera dan sebaliknya aku pun diresapi oleh dunia. Oleh rasa tersebut, “aku” mengalami dengan lebih mendalam sifat sosial dari segala sesuatu yang ada. Maka, dalam pengalaman intersubjektif, kita menjadi sadar, esse est xo-esse (ada selalu berarti ada-bersama-sama). Itulah eksistensi manusia. Manusia selalu berada-bersama-dengan-orang lain.
Tuntutan untuk “hadir” (present) itu bersifat mutlak agar bisa mendekati dan memakai realitas konkret sebagai titik tolak filsafat. Kehadiran (presentation) mengatasi batas-batas yang berlaku untuk ruang dan waktu. Presence berarti “aku” berjumpa dengan Engkau secara pribadi: suatu ada-bersama, suatu persekutuan (communion) dengannya.
Proses membuka relasi dalam atmosfir partisipasi ini digambarkan HHM dalam dangdingnya:

Rêmpug sêmu jeung salêmbur,
Bear budi jeung pangampih,
Mustika tara kasangka,
Bisi batur pada manggih,
Diudag tata satata,
Ditungtik surtina buni.

HHM menjelaskan bahwa inti keputusan dari dilema dialektis eksistensial adalah persoalan relasi. Menutup diri atau membuka diri. HHM secara tegas menjelaskan bahwa kecenderungan orang untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dalam prinsip “kesenangan” secara membabi-buta berkonsekwensi munculnya tuntutan untuk memutus tali relasi dengan eksistensi lainnya. “…sahadena jalma kaparentah batur, ku badan tambah hina ngalakonan nu taya kauntunganana, anggur matak rugi: badan diruksak kangeunahanana. Banda dikaluarkeun taya kagunaanana”. Dalam keadaan demikian , menurut Marcel, maka pengetahuannya akan tetap mandul dan orang akan tetap terisolasi dalam ego-nya sendiri. HHM menyebutkan bahwa kecenderungan material ini, mesebutnya sebagai perbawa iblis yang “watekna belet, guru bukti saharita”.
Persoalan keterbukaan dan ketertutupan relasi ini disimbolkan HHM dengan menggunakan dua kata kunci, yaitu kata "Aing" dan "Urang". Dalam naskah tersebut ada dua istilah, yaitu kata “aing” dan “urang” . Secara semiotik, kata “aing” sebenarnya merupakan kata ganti pertama tunggal, yang bermakna “aku” dan juga bermakna “diri” (sendiri=satu diri, ego individual, kedirian yang soliter). Dan kata urang merupakan kata ganti pertama jamak (plural), yang bermakna “aku” dalam hubungannya dengan kelompok sosial; dalam bahasa Indonesia padanan kata yang mirip ialah kata “kami” atau “kita”. Yaitu “diri” yang terbentuk karena berelasi dengan yang lainnya dalam suasana kebersamaan (solider). Kedua kata tersebut ditemukan tersusun kait mengait dari unsur rasa kaislaman, rasa ati, aing, urang perbawa Iblis (dari kiri) dan “perbawa Kapangeranan” (dari kanan). Misalnya makna kata perbawa secara implisit telah menyiratkan unsur inner, yang ada dalam individu manusia, yang barangkali bermuara pada kata ganti aing.
Penggunaan kata urang maupun aing tidak dijelaskan secara tegas dan eksplisit dalam naskah ini (Sasaka di Kaislaman). Pada maqomat Islam dalam perbawa Iblis, penunjuk subjek menggunakan kata urang, yang merupakan kata ganti pertama (kadang bermakna plural dan kadang bermakna singular, tunggal) yang berarti kami atau kita.
Uniknya, kata aing yang lebih jelas-jelas merupakan kata ganti pertama tunggal ternyata dalam Naskah Sasaka di Kaislaman tampak menyiratkan adanya relasi dan kesertaan dengan individu lainnya (masyarakat). Dengan kata lain, kata aing dalam naskan tersebut bersifat plural, jamak. Sementara itu kata urang, dalam naskah ini tidak menyiratkan adanya kesertaan dengan individu-individu lain, dengan demikian kata urang tersebut bermakna tunggal, singular. Bila demikian, ada kesan terbalik dalam menggunakan kata ganti bagi subjek dalam naskah tersebut. Namun demikian, Hasan Mustapa sebagai seorang budayawan Sunda yang memiliki pemahaman mengenai bahasa dan seluk-beluk bahasa serta budaya Sunda tidak mungkin tidak mengetahui hal tersebut. Dengan demikian perlu untuk megungkap makna penggunaan kata tersebut secara lebih mendalam.
Kata urang, karena dalam naskah tersebut tidak mengisyaratkan adanya kesertaan dengan subjek lain, seperti terungkap dalam pernyataan : “…anggur sahadena jalma kaparentah batur, ku badan tambah hina…”. Dengan demikian, kata tersebut bermakna singular, tunggal. Kata urang merujuk pada “diri” (inner), suatu kata sebagai ungkapan dimensi terdalam dari seorang individu, seperti halnya kata aing. Namun bila melihat pernyataan “…anggur sahadena jalma kaparentah batur, ku badan tambah hina…”, pernyataan tersebut menggambarkan pula adanya kesadaran terhadap realitas jasmaniah. Dengan demkian, kata urang merujuk pada “diri” sebagai dimensi terdalam dalam relasinya dengan dimensi atau unsur jasmaniah (unsur terluar dari seorang individu manusia). Dengan kata lain, kata urang tersebut mengungkapkan kesertaan unsur inner dengan unsur jasmaniah. Kesertaan diri (unsur terdalam) dengan unsur jasmaniah (diri terluar) melahirkan kecenderungan untuk menjadikan rasa jasmaniah (material, hedonis) sebagai ukuran segala sesuatu.
Sedangkan “aing” tidak menemukan kesetaraannya pada diri, melainkan dengan unsur inner pada individu lainnya. Suatu kesertaan yang dibentuk melalui relasi antar rasa. Dengan demikian, relasi yang terjadi adalah relasi inner dengan inner (ngadu rasa pada rasa), suatu relasi yang menyiratkan akan adanya intensionalitas. Inilah yang dimaksud Hasan Mustapa dengan “ngadu rasa pada rasa”. Kesertaan antar aing diantara individu yang berbeda ini melahirkan pola kehidupan yang mengarah pada unsur “rasa”. Pola kehidupan yang senantiasa mempertimbangkan rasa diri dan rasa individu lainnya.

 

 

Haul Ke-73 Wafatnya Begawan Sirna di Rasa K.H. Hasan Mustapa

Menelisik yang Terpendam dan Dipendam1

(Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI*)

SOSOK K.H. Hasan Mustapa (HHM) yang dikenal dengan julukan Begawan Sirna di

Rasa menduduki posisi yang dianggap penting dalam khazanah kebudayaan Sunda. Ia

bagaikan pelita di atas meja pualam. Semua orang yang melihat atau sempat melihatnya

diam mematung seolah tersihir dan silau oleh kilau cahaya yang dipancarkannya.

Selanjutnya pujian dan sanjungan pun terucap deras.

Semua orang, khususnya budayawan Sunda mengenal kebesaran HHM, namun sulit

untuk dipastikan berapa banyak yang sempat dan memberanikan diri untuk

menyentuhnya, untuk "sekadar" merasakan hangat nyala api karya dan pemikirannya.

Jarang sekali yang punya keberanian untuk mendekati dan menyentuhnya, takut

tangannya terbakar lidah api dan menghanguskan tubuhnya. Khawatir katulah dengan

perkataan Wangsaatmadja, "Anu maos ieu salancar teu tanggel kadongkapan

pimamalaeunana."

Perkataan itu tidak terlalu salah, bahkan sangat benar karena hanya orang yang punya

keberanian dan bekal yang cukup yang akan selamat dan mendapatkan mutiara dari

pelayaran mengarungi lautan karya dan pemikiran seorang begawan sekelas HHM yang

sarat dengan gejolak.

"Percintaan" yang terjadi antara budaya(wa)n Sunda dan HHM bagaikan percintaan dua

orang muda-mudi di dunia maya, penuh gejolak, dan membara, namun tidak pernah

merasakan hangatnya persentuhan. Karya besar HHM bagaikan prasasti yang terbuat dari

pualam, berdiri megah dihiasi ribuan permata. Namun, tak pernah seorang pun berani

datang untuk menikmati keindahannya karena takut mengotori kesuciannya. Kemegahan

yang sepi tanpa gairah.

Keheningan itu bermula sejak tahun 1930, tujuh puluh tiga tahun yang lalu. Tepatnya

pada tanggal 13 Januari 1930 saat HHM kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Kini, tujuh

puluh tiga tahun telah lewat, waktu seperti dilipat, tanpa cacatan yang berarti. Jejak yang

dibuatnya selama delapan puluh tahun berakhir di sisian batu keras yang luas

menghampar. Tak seorang yang mampu meneruskan jejaknya di atas kerasnya hamparan

batu itu.

Ilustrasi tersebut barangkali terlalu dibesar-besarkan dan berbau pesimistik kalau bukan

sinis. Namun, bagi yang berpandangan waskita, keheningan itu tidak mengherankan

karena HHM sendiri pernah mengatakan bahwa karya dan pemikirannya baru akan

disentuh oleh sejumlah nonoman Sunda jauh setelah HHM tiada. Kini, gairah itu mulai

bermunculan walaupun masih seperti angin semilir yang hanya bisa dirasakan oleh yang

memerhatikannya. Memang itu belum cukup untuk mengungkap karya besar putra

1 Edisi eBooks oleh Studio579

2

terbaik dari salah satu komunitas etnik terbesar di Tatar Nusantara ini. Kebesaran HHM

memang belum bisa dianggap sebagai milik bangsa Indonesia secara keseluruhan

sehingga jarang (untuk tidak mengatakan "tidak ada") yang tertarik untuk meliriknya

karena masyarakat Sunda sendiri masih setengah hati untuk mengangkatnya ke

permukaan.

Kini, peninggalkan HHM tak lebih sekadar menjadi pusaka spiritual yang disimpan di

dalam peti-peti keramat oleh pemegangnya, tanpa rasa berdosa bahwa ia telah mengubur

pusaka yang semua orang berhak pula untuk mengambil manfaatnya. Padahal, sejumlah

orang yang berniat serius untuk mengkaji dan menggali pusaka itu, diliputi kekecewaan

karena berakhir dengan tangan hampa setelah kelelahan mencarinya. Bisa dipahami bila

orang merasa kesulitan untuk memahami dan mendalami pemikiran dan karya besar

HHM, tetapi sulit dimengerti bila mutiara itu hanya disimpan sendiri hanya sebagai

pajangan atau kebanggaan pribadi tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk

menggalinya, dengan berbagai alasan.

Dengan kecenderungan profesionalisme dan pemilahan ilmu yang kini terjadi memang

menjadi sulit untuk menggali pemikiran dan maha karya HHM karena diperlukan

multidisipliner untuk memahami dan menggalinya. Paling tidak dari disiplin sastra

Sunda, budaya, agama (khususunya tasawuf dan kalam), dan filsafat. Dengan demikian

diperlukan suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai ahli dari berbagai latar belakang

keahlian dan ilmu tersebut.

Mengorek mutiara yang dipendam

Dari pengamatan penulis baru terdapat beberapa tulisan yang mengkaji "pemikiran"

(selain sejarah, antologi karya, biografi HHM, ataupun deskripsi tipologi karya HHM)

beberapa dalam bentuk penelitian skripsi dan dua tulisan dalam bentuk penelitian Tesis.

Pertama yang ditulis Jajang Jahroni, dengan judul "Haji Hasan Mustapa (1852-1930) as

The Great Sundanese Mystic" (Haji Hasan Mustapa (1852-1930) Seorang Sufi Besar

Sunda), sebuah penelitian tentang karakteristik dan tipologi pemikiran tasawuf K.H.

Hasan Mustapa sebagai salah seorang tokoh sufi Sunda. Tulisan ini merupakan tugas

akhir studinya di Belanda untuk mendapat gelar M.A. Jajang adalah seorang Dosen

Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Jakarta. Kedua dengan judul "Eksistensi Manusia

Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" yang di-tulis Ahmad Gibson Al-Bustomi

yang juga dalam bentuk penelitian tesis dalam konsentrasi akidah dan pemikiran Islam di

program pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Jajang menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf HHM dipengaruhi oleh empat sufi besar,

antara lain: Syaikh Muhyi al-Din ibn 'Arabi melalui kitab al-Futuhat al-Makiyya dan

'Abd al-Karim al-Jilli melalui kitab al-Insan al-Kamil fi Ma'rifat al-Awakhir wa al-

Awa'il. Pengaruh kedua sufi ini terutama pada pandangan teosofinya, yang berpijak pada

teori metafisika wihdatul wujud. Secara khusus pengaruh al-Jilli, sebenarnya, sangat

tampak pada kesamaan antara fase-fase atau maqomat yang diadopsi HHM yang tertuang

dalam "Sasaka di Kaislaman" hanya berbeda dalam perumusan argumen dan

pemaparannya. Dua sufi lainnya yang berpengaruh pada pandangan ketasawufan HHM

3

dalam dari al-Ghazali melalui kitab Ihya 'Ulum al-Din yang berusaha untuk

menghubungkan antara syariat dan thariqat. Ibn Fadlillah al-Burhanpuri perumus awal

konsep Martabat Tujuh, yang menulis al-Tuhfa al-Mursala ila al-Ruh al-Nabi. Jajang

menjelaskan bahwa HHM telah berhasil merelasikan antara tradisi mistik lokal Jawa-

Sunda dan tradisi tasawuf klasik Islam. Hal tersebut, katanya, tampak dalam

membandingkan antara term-term kosmologi Jawa-Sunda baik dalam mitologi maupun

pewayangan dengan term-term yang dikenal dalam tasawuf.

Sementara itu dalam tesis yang berjudul "Eksistensi Manusia Menurut K.H. Hasan

Mustapa (1852-1930)" dengan menggunakan pendekatan filsafat Eksistensialisme,

Gibson berusaha membedah pemikiran HHM tentang eksistensi manusia. Dalam

penelitian tersebut ditemukan bahwa inti pemikiran HHM khususnya tentang manusia

dan eksistensi manusia terangkum dalam dua naskah besarnya, yaitu naskah Gelaran

Sasaka di Kaislaman dan naskah (Ajip Rosidi menyebutnya sebagai catatan ringkas)

Martabat Tujuh. Pemikiran-pemikiran HHM yang terinci dalam ribuan Dangding tersebut

bila dikerucutkan dalam tema sentral eksistensi manusia, terangkum dalam dua naskah

besar tersebut.

Bila menggunakan perspektif filsafat Eksistensialisme Gelaran Sasaka di Kaislaman

merupakan naskah yang menjelaskan fase-fase aktualisasi eksistensi seorang manusia

yang berhadapan dengan sejumlah norma-norma sosial yang oleh individu manusia pada

umumnya disikapi (secara sadar) dan secara faktual (di luar kesadaran sadar) merupakan

unsur yang mengancam eksistensi dan otonomi individu. Dalam naskah tersebut HHM

menegaskan bahwa justru tekanan-tekanan norma sosial (agama) tersebut secara

eksistensial merupakan unsur dialektis yang menjadi potensi pendorong dan dinamisator

bagi munculnya proses penyadaran eksistensi manusia. Gelaran Sasaka di Kaislaman

sebagai fase aktualisasi eksistensi manusia diawali oleh fase atau maqomat Islam hingga

Kurbah. Maqomat Islam sebagai maqomat awal hingga maqomat Sahadah, digambarkan

HHM sebagai maqomat yang sarat dengan sikap "menyebelah" dari individu manusia

dalam memandang apa pun, baik diri maupun sesuatu di luar diri dan mulai maqomat

Sidiqiah hingga Kurbah sikap-sikap menyebelah tersebut secara bertahap hilang dari cara

pandang individu manusia. HHM melihat bahwa pada gelaran inilah sikap dan cara

pandang keberagamaan manusia lahir dalam pengertian yang sesungguhnya.

Naskah Martabat Tujuh-nya HHM menjelaskan fase lanjutan dari fase-fase yang dilalui

dalam Gelaran Sasaka di Kaislaman. Suatu fase puncak dalam sikap dan cara pandang

keagamaan yang berakhir pada maqomat Insan Kamil. Maqom yang tidak lagi melihat

perbedaan dan pertentangan dalam kehidupan di dunia sebagai kenyataan hakikiah.

Perbedaan-perbedaan dan pertentangan tersebut tak lebih disebabkan oleh cara pandang

manusia yang memiliki kecenderungan menyebelah dan mengutub. Cara pandang yang

terlahir dari sikap yang membedakan secara radikal sifat-sifat Jamal dan Jalal Tuhan yang

termanifestasi dalam keragaman alam makhluknya. Individu manusia yang telah sampai

pada maqom Insan Kamil, memandang bahwa keragaman tersebut tak lebih dari

manifestasi dari sifat Jamal dan Jalal Tuhan yang merupakan derivasi (tajalli) dari sifat

Kamal atau Kemahasempurnaan Tuhan.

4

Dari kedua tulisan tersebut tampak dan dapat dimaklumi betapa pemikiran HHM

dipijakkan di atas dasar-dasar teori besar, khususnya teori teosofi yang dalam dunia

pesantren sekalipun dianggap sebagai teori yang tidak bisa dipelajari secara mudah.

Dengan demikian, wajarlah bila ditemukan kesulitan yang tidak kecil dalam memahami

dan mendalami pemikiran dan karya besar HHM karena diperlukan sejumlah disiplin

yang memadai, khususnya dalam bidang sastra Sunda, budaya, agama (khususunya

tasawuf dan kalam), dan filsafat.

Tampaknya persoalan yang terjadi bukan hanya dalam mengkaji dan mendalami karya

dan pemikiran HHM, tetapi juga dalam mengkaji budaya Sunda karena bila benar bahwa

HHM merupakan representasi ideal budayawan dan pencetus konsep ideal manusia

Sunda, maka untuk mengkaji persoalan kesundaan, persiapan dan bekal yang harus

disiapkan dan dimiliki kurang lebih sama. Oleh karena itu, keberadaan konsorsium

sebagai alat dan sistem kajian untuk mengorek mutiara dari khazanah budaya Sunda yang

dipendam dan terpendam menjadi prasyarat yang mutlak adanya.***

*) Penulis: Ketua Jurusan Aqidah Filsafat, Dosen Teologi dan Filsafat di Fakultas

Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.*

 

 

2002 digitized by USU digital library 1

AKTUALITAS FILSAFAT ILMU DALAM PERKEMBANGAN PSIKOLOGI

RARAS SUTATMININGSIH, Spsi

Fakultas Kedokteran

Jurusan Psikologi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tulisan ini menekankan pada topik Aktualitas Filsafat Ilmu Dalam

Perkembangan Psikologi. Pengulasan topik didasarkan pada penganalisaan

pemahaman terhadap landasan filosofik yang digunakan dalam perkembangan

Psikologi.

Awal pembahasan dalam tulisan ini dimulai dengan sejarah psikologi sebagai

bagian dari ilmu filsafat. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan

diri dari filsafat. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari dulu hingga kini

tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat.

Perkembangan psikologi sejak berinduk pada filsafat hingga

perkembangannya kini memunculkan banyak aliran. Pembuka pintu bagi kemunculan

banyak aliran dalam dunia Psikologi dimulai dengan jasa Wilhelm Wundt yang

terkenal dengan strukturalismenya. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian

muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan

tokohnya Max Wertheimer, humanisme dengan tokohnya Maslow, kognitif dengan

tokohnya George Miller, dan psikoanalitik dengan tokohnya Freud..

Aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan psikologi sejak awal hingga kini

diletakkan penulis pada landasan filosofik, dalam kaitannya pada perkembangan

psikologi secara umum, khususnya masing-masing aliran psikologi, serta beberapa

bentuk terapan psikologi.

Benang merah yang tampil adalah perkembangan psikologi dari awal hingga

kini tetap diwarnai filsafat ilmu, terutama dalam penelusuran bidang-bidang kajian

psikologi yang lebih baru.

I.SEJARAH PSIKOLOGI

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah

ilmu Filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan

satu-satunya ilmu pada waktu itu. Oleh karena itu, ilmu-ilmu yang tergabung dalam

filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat, demikian pula halnya dengan

psikologi.

Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang

dapat memenuhi kebutuhan manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan

dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat. Pada saat

psikologi masih tergabung dengan filsafat, dasar pemikirannya sejalan dengan

pemikiran perkembnagan ilmu pengetahuan di jaman sebelum Renaissance, yaitu,

2002 digitized by USU digital library 2

jaman Yunani Kuno dan jaman pertengahan. Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat

sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sejak awal

pertumbuhan hingga pertengahan abad ke-19, psikologi lebih banyak dikembangkan

oleh para pemikir dan ahli filsafat, yang kurang melandasi pengamatannya pada

fakta kongkrit. Mereka lebih mempercayai pemikiran filsafat dan pertimbanganpertimbangan

abstrak serta spekulatif. Teori-teori yang mereka ciptakan lebih

banyak didasarkan pada pengalaman pribadi dan pengertian sepintas lalu. Oleh

karena itu, dapat dimengerti bahwa psikologi pada waktu itu kurang dapat dipercaya

kebenarannya. Dalam perkembangan psikologi selanjutnya, dirasakan perlunya

penggunaan metode lain, untuk menjamin obyektifitasnya sebagai ilmu, yaitu

menggunakan metode “empiris”. Metode empiris menyandarkan diri pada :

pengalaman, pengamatan, dan eksperimen/percobaan (empiris, empiria, yang

berarti pengalaman dan pengamatan) (Ahmadi, 1998:52), dimana hal ini sejalan

dengan penemuan ilmu pengetahuan modern yang sudah mulai dirintis pada zaman

Renaissance.

Zaman Renaissance (14-17 M) menanamkan pengaruh yang kuat bagi

perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menunjukkan beberapa hal, seperti :

pengamatan (abservasi), penyingkiran segala hal yang tidak termasuk dalam

peristiwa yang diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa

tersebut, peramalan, pengukuran, dan percobaan (eksperimen) untuk menguji teori

yang didasarkan pada ramalan matematik (Mustansyir, 2001:133).

Hal tersebut adalah jasa dari Wilhelm Wundt yang mendirikan laboratorium

psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 untuk menyelidiki peristiwa-peristiwa

kejiwaan secara eksperimental. Dengan perkembangan ini, maka berubahlah

psikologi yang tadinya bersifat filosofik menjadi psikologi yang bersifat empirik

(Amadi, 1998:6).

Dalam hal ini, sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari

filsafat, namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat, bahkan

ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafatpun tetap masih ada hubungan

dengan filsafat, khususnya filsafat ilmu, terutama mengenai hal-hal yang

menyangkut sifat, hakikat, serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu, (Ahmadi,

1998:28-29). Dengan demikian, maka akan dapat dianalisa lebih lanjut tentang

aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan ilmu pengetahuan sebagai landasan

filosofiknya, khususnya psikologi, baik dalam hal ontology, epistemology, maupun

aksiologinya.

II.FILSAFAT ILMU DAN DIMENSI-DIMENSINYA.

Filsafat Ilmu memiliki ruang lingkup sebagai berikut : 1) komparasi kritis

sejarah perkembangan ilmu, 2) sifat dasar ilmu pengetahuan, 3) metode ilmiah, 4)

praanggapan-praanggapan ilmiah, 5) sikap etis dalam pengembangan ilmu

pengetahuan (Mustansyir, 2001:49-50).

Filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofik untuk minimal memahami

berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmiah. Secara substantif fungsi

pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dari disiplin ilmu masing-masing,

agar dapat menampilkan teori substantif. Selanjutnya, secara teknis diharapkan

dengan dibantu metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoperasionalkan

pengembangan konsep, tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing

(Muhadjir, 1998:2).

2002 digitized by USU digital library 3

Dimensi-dimensi utama filsafat ilmu, yaitu : ontology, epistemology, dan

aksiologi. Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi

dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

Epistemologi adalah sarana, sumber, tatacara untuk menggunakannya

dengan langkah-langkah progresinya menuju pengetahuan (ilmiah).

Aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah),

etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta

penerapan ilmu (Wibisono, 2001).

III.FILSAFAT ILMU DAN ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI MODERN

III.1 Wilhelm Wundt, Edward Titchener dan Strukturalisme.

Wilhelm Wundt (1832-1920), pada mulanya memperoleh pendidikan dokter,

kemudian mengajar fisiologi selama 17 tahun pada Universitas Heidelberg, Jerman.

Sejak awal karirnya, dia telah memperlihatkan minat yang besar sekali terhadap

proses mental. Pada waktu itu, psikologi belum merupakan bidang tersendiri. Pokok

bahasannya masih satu dengan filsafat. Hal yang merupakan ambisi Wundt saat itu

ialah memperkembangkan psikologi sedemikian rupa sehingga mempunyai identitas

sendiri. Dengan adanya tujuan ini, maka dia mengambil langkah dengan

meninggalkan Universitas Heidelberg dan menerima jabatan sebagai Ketua Bagian

Filsafat di Universitas Leipzig, Jerman. Empat tahun kemudian, tahun 1879, Wundt

mendirikan laboratorium psikologi eksperimen yang pertama di dunia, dan

merupakan satu kehormatan yang luar biasa bagi psikologi, sehingga psikologi dapat

dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Wundt sangat yakin bahwa tugas utama seorang psikolog adalah meneliti serta

mempelajari proses dasar manusia, yaitu berupa pengalaman langsung, kombinasikombinasinya,

dan hubungan-hubungannya.

Bagaimana psikolog dapat mempelajari proses dasar kesadaran ini ? Wundt dan

pengikut-pengikutnya telah mengembangkan satu metode yang dinamakan

introspeksi analitik (analytic introspection), yaitu suatu bentuk formal dari observasi

yang dilakukan diri sendiri.

Titchener (1892), seorang murid Wundt, yang diserahi tanggung jawab terhadap

laboratorium psikologi yang masih baru di Universitas Cornell, Amerika Serikat, terus

menyebarluaskan pandangan Wundt dan kemudian menjadi pemimpin satu gerakan

yang disebut Strukturalisme.

Strukturalisme ini meyakini hal-hal berikut :

1.Psikolog seharusnya mempelajari kesadaran manusia, terutama aspek

pengindraannya.

2.Psikolog seharusnya menggunakan metode introspeksi analitis yang nyata di dalam

laboratorium.

3.Psikolog seharusnya menganalisis proses mental ke dalam elemen sedemikian

rupa, sehingga dapat menemukan kombinasi-kombinasinya serta hubungan satu

sama lain. Dengan analisis seperti itu juga akan dapat diketahui tempat dimana

struktur saling berhubungan dalam system syaraf (Davidoff, 1988:11-14).

2002 digitized by USU digital library 4

III.2 William James dan Fungsionalisme.

William James (1842-1910) adalah salah satu psikolog Amerika yang cukup

terkenal. Ia mengajarkan filsafat dan psikologi di Universitas Harvard selama 35

tahun. Dia sangat menentang strukturalis, karena menurutnya aliran ini sangat

dangkal, tidak murni dan kurang dapat dipercaya kebenarannya. Kesadaran menurut

James bersifat unik dan sangat pribadi, terus-menerus berubah, muncul setiap saat,

dan selektif sekali ketika harus memilih dari sekian banyak rangsang yang mengenai

seseorang. Yang paling menonjol dan utama ialah, bahwa kesadaran ini mampu

membuat manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Pengikut fungsionalisme meyakini hal-hal berikut :

1.Psikolog seharusnya meneliti secara mendalam bagaimana proses-proses mental

ini berfungsi, dan juga mengenai topik lainnya.

2.Mereka seharusnya menggunakan introspeksi informal, yaitu observasi terhadap

diri sendiri serta laporan diri, serta metode obyektif, yaitu yang dapat terbebas dari

prasangka, seperti misalnya elsperimen.

3.Psikologi, sebagai ilmu pengetahuan, seharusnya dapat diterapkan di dalam

kehidupan kita sehari-hari, misalnya dalam pendidikan, hukum, ataupun

perusahaan.

Karena masalah-masalah dasar sangat banyak, maka psikolog yang

tergabung di dalam aliran fungsionalisme, berpisah untuk menentukan caranya

sendiri. Pada akhirnya, di Amerika Serikat, fungsionalisme digantikan oleh

Behaviorisme. Banyak asumsi-asumsi dari aliran fungsional yang dapat bertahan,

dan dimasukkan ke dalam pendekatan lainnya yang dikenal sebagai Psikologi

Kognitif (Davidoff, 1988:14-15).

III.3 John Watson dan Behaviorisme.

John Watson (1878-1958) menamatkan pendidikannya dalam bidang psikologi

hewan, di Universitas Chicago, di bawah asuhan seorang professor dari aliran

fungsionalis.

Watson tidak puas terhadap strukturalisme dan fungsionalisme dengan

keluhan-keluhan sebagai berikut : bahwa fakta mengenai kesadaran tidak mungkin

dapat dites dan direproduksi kembali oleh para pengamat, sekalipun sudah sangat

terlatih.

Aliran behaviorisme menguraikan keyakinannya sebagai berikut :

1.Psikolog seharusnya mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi di sekeliling

(rangsangan/stimulus) dan perilaku yang dapat diamati (respon).

2.Terhadap perilaku, kemampuan, dan sifat, faktor pengalaman mempunyai

pengaruh yang lebih penting dibandingkan dengan faktor keturunan. Dengan

demikian, belajar merupakan topik utama untuk dipelajari.

3.Introspeksi sebaiknya ditinggalkan saja dan digantikan dengan metode obyektif

(misalnya eksperimen, observasi, dan tes berulang-ulang).

4.Psikolog seharusnya bertujuan untuk dapat membuat deskripsi, penjelasan,

peramalan ke masa depan, dan pengendalian perilaku sehari-hari.

5.Sebaiknya perilaku makhluk sederhana juga diteliti, karena makhluk-makhluk

sederhana ini mudah diteliti dan dipahami, bila dibandingkan dengan manusia

(Davidoff, 1988:15-16).

2002 digitized by USU digital library 5

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Landasan filosofik dari aliran behaviorisme sangat dipengaruhi oleh positivisme.

Positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar, 1985, dalam Muhadjir,

1998:61). Positivisme berakar pada empirisme. Prinsip filosofik tentang positivisme

dikembangkan pertama kali oleh empirist Inggris Francis Bacon (sekitar 1600).

Tesis positivisme adalah bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid dan faktafakta

sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian,

positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta,

menolak segala penggunaan metoda di luar yang digunakan untuk menelaah fakta.

Ontologi positivisme hanya mengakui sesuatu sebagai nyata dan benar bila

sesuatu itu dapat diamati dengan indera kita. Positivisme menolak yang dinyatakan

sebagai fakta tetapi tidak diamati oleh siapapun dan tidak dapat diulang kembali.

Sesuatu akan diterima sebagai fakta bila dapat dideskripsikan secara inderawi. Apa

yang di hati dan ada di pikiran, bila tidak dapat dideskripsikan dalam perilaku, tidak

dapat ditampilkan dalam gejala yang teramati, tidak dapat diterima sebagai fakta,

maka tidak dapat diterima sebagai dasar untuk membuktikan bahwa sesuatu itu

benar. Apa yang di hati harus ditampilkan dalam ekspresi marah, senang atau

lainnya yang dapat diamati (Muhadjir, 1998:68).

Ontologi pada positivisme sejalan dengan dasar pemikiran yang digunakan oleh

pendekatan behaviorisme (perilaku) yang ada pada psikologi. Pada pendekatan ini,

perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati. Dengan pendekatan

perilaku, seorang ahli psikologi mempelajari individu dengan cara mengamati

perilakunya dan bukan mengamati kegiatan bagian dalam tubuh. Pendapat bahwa

perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal dalam psikologi mulai diungkapkan

oleh seorang ahli psikologi Amerika John B. Watson pada awal tahun 1900-an.

Introspeksi mengacu pada observasi dan pencatatan pribadi yang cermat

mengenai persepsi dan perasaannya sendiri. Watson berpendapat bahwa introspeksi

merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya. Alasannya ialah jika psikologi

dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan diukur. Watson

mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari apa yang

dilakukan manusia-yaitu perilaku mereka-memungkinkan psikologi menjadi ilmu

yang obyektif.

Behaviorisme, sebutan bagi aliran yang dianut Watson, turut berperan dalam

pengembangan bentuk psikologi selama awal pertengahan abad ini, dan cabang

perkembangannya yaitu psikologi stimulus-response (rangsangan-tanggapan) masih

tetap berpengaruh. Hal ini terutama karena hasil jerih payah seorang ahli psikologi

dari Harvard, B.F.Skinner. Psikologi Stimulus-Response (S-R) mempelajari

rangsangan yang menimbulkan respon dalam bentuk perilaku, mempelajari ganjaran

dan hukuman yang mempertahankan adanya respon itu, dan mempelajari

perubahan perilaku yang ditimbulkan karena adanya perubahan pola ganjaran dan

hukuman (Skinner, 1981. dalam Hilgard, 1987:8-9).

Telaah aksiologi terhadap aliran behaviorisme yang menempatkan faktor

belajar sebagai konsep yang penting akan dapat didekati dengan teori moral

imperatif dari Immanuel Kant. Immanuel Kant mengemukakan bahwa manusia

berkewajiban melaksanakan moral imperatif. Pada satu sisi, dengan moral imperatif,

manusia masing-masing bertindak baik, bukan karena ada paksaan, melainkan

karena sadar bahwa tindakan tidak baik orang lain adalah mungkin merugikan kita

2002 digitized by USU digital library 6

dimana disini terlihat pentingnya aspek belajar dalam kehidupan manusia. Pada sisi

lain, dengan moral imperatif tersebut, semua orang menjadi saling mengakui

otonominya. Dilihat dari sisi rekayasawan, teori moral ini lebih mengaksentuasikan

pada kewajiban dan otonomi serta tanggung jawab rekayasawan.

III.4 Max Wertheimer dan Psikologi Gestalt.

Sementara Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di

negara Jerman muncul aliran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt,

dalam bahasa Jerman, ialah bentuk, pola, atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin

bahwa pengalaman seseorang mempunyai kualitas kesatuan dan struktur. Aliran

Gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan terhadap aliran strukturalis, khususnya

karena strukturalis mengabaikan arti pengalaman seseorang yang kompleks, bahkan

dijadikan elemen yang disederhanakan.

Aliran psikologi Gestalt mempunyai banyak tokoh terkemuka, antara lain

Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan Max Wertheimer.

Aliran psikologi Gestalt ini nampaknya merupakan aliran yang cukup kuat dan

padu. Falsafah yang dikemukakannya sangat mempengaruhi bentuk psikologi di

Jerman, yang kelak juga akan terasa pengaruhnya pada psikologi di Amerika Serikat

(terutama dalam penelitian mengenai persepsi). Hal itu nampak dari kedua aliran

psikologi modern yang sejaman, yaitu aliran Humanisme dan aliran Kognitif

(Davidoff, 1988:16-19).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Telaah filosofik psikologi gestalt dapat didekati dengan fenomenologi. Heidegger

adalah juga seorang fenomenolog. Fenomenologi memainkan peran yang sangat

penting dalam sejarah psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-

1938), pendiri fenomenologi modern. Husserl adalah murid Carl Stumpf, salah

seorang tokoh psikologi eksperimental “baru” yang muncul di Jerman pada akhir

pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheimer yang mendirikan

psikologi Gestalt adalah juga murid Stumpf, dan mereka menggunakan

fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis.

Fenomenologi adalah deskripsi tentang data (secara harafiah disebut the

givens:yang diberi) tentang pengalaman langsung). Fenomenologi berusaha

memahami dan bukan menerangkan gejala-gejala. Van Kaam (1966, dalam Hall,

1993:173) merumuskannya sebagai metode dalam psikologi yang berusaha untuk

menyingkapkan dan menjelaskan gejala-gejala tingkah laku sebagaimana gejalagejala

tingkah laku tersebut mengungkapkan dirinya secara langsung dalam

pengalaman. Fenomenologi kadang-kadang dipandang sebagai suatu metode

pelengkap untuk setiap ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan mulai dengan

mengamati apa yang dialami secara langsung (Boring, 1950:18, dalam Hall,

1993:173). Ide tentang fenomenologi diungkapkan secara indah pada buku Kohler

(1974) yang berjudul Gestalt Psychology, sebagai berikut :

Tampaknya ada satu titik tolak untuk psikologi, bahkan untuk semua ilmu

pengetahuan, yakni dunia sebagaimana kita alami apa adanya, secara naïf dan

tidak secara kritis. Kenaifan itu bisa hilang manakala kita melangkah terus.

Masalah-masalah mungkin timbul yang mula-mula sama sekali tertutup dari

pandangan kita. Untuk memecahkannya, mungkin perlu merancang konsep

2002 digitized by USU digital library 7

konsep yang sepertinya hanya sedikit berhubungan dengan pengalaman utama

yang bersifat langsung. Walaupun demikian, seluruh perkembangan harus

mulai dengan suatu gambaran dunia yang naïf. Sumber ini adalah perlu karena

tidak ada dasar lain yang menjadi titik tolak ilmu pengetahuan. Dalam kasus

saya, yang mungkin dapat dianggap mewakili banyak orang lain, gambaran

yang naïf itu, pada saat ini berupa sehamparan danau biru dikelilingi hutan

yang gelap, sebongkah besar batu karang berwarna abu-abu, keras dan dingin,

yang telah saya pilih sebagai tempat duduk, sehelai kertas tempat saya

menulis, suara angin redup yang hampir tidak menggerakkan pohon-pohon,

dan bau menusuk yang biasa dating dari perahu dan penangkapan ikan. Ada

hal yang lebih dari itu di dunia ini, entah bagaimana saya lihat sekarang,

meskipun tidak menjadi kacau dengan danau biru masa kini, sehamparan

danau lain berwarna biru lebih muda, tempat saya terpaku, beberapa tahun

lalu, melayangkan pandangan dari pantainya di Illinois. Saya benar-benar

sudah terbiasa melihat beribu-ribu pemandangan semacam ini yang muncul

pada waktu saya berada sendirian. Masih ada lagi di dunia ini, tangan dan jarijari

saya yang bergerak dengan ringan di atas kertas. Sekarang, setelah saya

berhenti menulis dan melihat lagi keliling, muncul juga perasaan sehat dan

kuat. Pada saat berikutnya, saya merasakan seperti ada tekanan misterius

pada suatu tempat dalam diri saya yang cenderung berkembang menjadi

perasaan diburu-saya sudah berjanji untuk menyelesaikan naskah ini dalam

beberapa bulan.

Salah seorang di antara fenomenolog kontemporer yang paling fasih dan paling

ulung adalah Erwin Straus (1963,19660). Sebuah pembahasan ilmiah dan ringkas

tentang fenomenologi oleh salah seorang pendukung utamanya dari kalangan

psikolog di Amerika Serikat dapat ditemukan dalam karya MacLeod (1964, dalam

Hall, 1993 : 174).

Fenomenologi sebagaimana terdapat dalam karya para psikolog Gestalt dan

Erwin Starus, pertama kali telah dipakai untuk meneliti gejala-gejala dari prosesproses

psikologis seperti persepsi, belajar, ingatan, pikiran, dan perasaan, tetapi

tidak digunakan untk meneliti kepribadian. Sebaliknya, psikologi eksistensial telah

menggunakan fenomenologi untuk menjelaskan gejala-gejala yang kerapkali

dipandang sebagai wilayah bidang kepribadian. Psikologi eksistensial dapat

dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan empiris tentang eksistensi manusia yang

menggunakan metode analisis fenomenologis (Hall, 1993:.174).

Telaah aksiologi terhadap aliran psikologi Gestalt dapat didekati melalui teori

keadilan. Terdapat 2 prinsip teori keadilan, menurut Rawls, yaitu : 1) bahwa setiap

orang memiliki persamaan hak atas kebebasan yang sangat luas hingga kompatibel

dengan hak kebebasan orang lain; 2) ketidaksamaan sosial dan ekonomi ditata

sedemikian sehingga keduanya (sosial dan ekonomi) : a) menjadi bermanfaat bagi

setiap orang sesuai harapan yang patut, dan b) memberi peluang yang sama bagi

semua untuk segala posisi dan jabatan (Muhadjir, 1998:155-156).

III.5 Sigmund Freud dan Teori Psikoanalitik.

Sigmund Freud (1856-1939) adalah seorang dokter berkebangsaan Vienna

yang mengkhususkan diri untuk mempelajari gangguan kejiwaan, terutama

gangguan jiwa neurotik, yaitu gangguan kejiwaan dimana penderita akan

memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, mudah lelah, insomnia, depresi,

kelumpuhan, dan gejala-gejala lainnya yang berhubungan dengan adanya konflik

2002 digitized by USU digital library 8

dan tekanan jiwa. Teori Freud ini dikenal dengan teori Psikoanalisis, yaitu teori

pemikiran Freud mengenai kepribadian, abnormalitas, dan perawatan penderita.

Aliran psikoanalisa disini tidak menampakkan adanya kemiripan dengan teori yang

sudah dibicarakan sebelumnya, karena pada dasarnya Freud sendiri tidak pernah

bertujuan mempengaruhi psikologi untuk keperluan akademis. Sejak ssemula Freud

hanya bertujuan meringankan penderitaan pasien-pasiennya, tetapi karena pengaruh

dari teori psikoanalisis ini nyatanya telah menembus psikologi sebagai ilmu, maka

kita akan melihat teori ini sebagai salah satu teori di dalam psikologi.

Beberapa pandangan yang diyakini oleh pengikut Freud adalah sebagai

berikut :

1. Psikolog sebaiknya mempelajari dengan tekun mengenai hukum dan faktor-faktor

penentu di dalam kepribadian (baik yang normal ataupun yang tidak normal), dan

menentukan metode penyembuhan bagi gangguan kepribadian.

2. Motivasi yang tidak disadari, ingatan-ingatan, ketakutan-ketakutan,

pertentangan-pertentangan batin, serta kekecewaan adalah aspek-aspek yang

sangat penting di dalam kepribadian. Dengan membawa gejala-gejala tersebut ke

alam sadarnya sudah merupakan satu bentuk terapi bagi penderita

kelainan/gangguan kepribadian.

3.Kepribadian seseorang terbentuk selama masa kanak-kanak dini. Dengan meneliti

ingatan-ingatan yang dimiliki seseorang ketika ia berusia 5 tahun, akan sangat

besar perannya bagi penyembuhan.

4.Kepribadian akan lebih tepat bila dipelajari di dalam konteks hubungan pribadi

yang sudah berlangsung lama antara terapis dan pasien. Selama terjadinya

hubungan yang seperti itu, maka pasien dapat menceritakan segala pikiran,

perasaan, harapan, khayalan, ketakutan, kecemasa, mimpi kepada terapis

(introspeksi informal), dan tugas terapis ialah mengobservasi serta

menginterpretasikan perilaku pasien (Davidoff, 1988:19-21).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Freud sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivisme ilmu

pengetahuan abad XIX. Analisa terhadap pandangan psikoanalisis tersebut, terutama

yang berkaitan dengan tugas terapis yaitu observasi dan interpretasi perilaku,

sejalan dengan metodologi psitivisme Auguste Comte. Alat penelitian yang pertama

menurut Comte adalah observasi. Kita mengobservasi fakta; dan kalimat yang penuh

tautology hanyalah pekerjaan sia-sia. Tindak mengamati sekaligus menghubungkan

dengan sesuatu hukum yang hipotetik, diperbolehkan oleh Comte. Itu merupakan

kreasi simultan observasi dengan hukum, dan merupakan lingkaran tak berujung

(Muhadjir, 1998:62-63).

Selain itu, pandangan-pandangan psikoanalisis tentang aspek-aspek penting

kepribadian juga sejalan dengan epistemology positivisme kritis dari Mach dan

Avenarius, yang lebih dikenal dengan empiriocritisisme. Menurutnya, fakta menjadi

satu-satunya jenis unsur untuk membangun realitas. Realitas bagi keduanya adalah

sejumlah rangkaian hubungan beragam hal indrawi yang relatif stabil. Unsur hal

yang indrawi itu dapat fisik, dapat pula psikis (Muhadjir, 1998:64-65).

Menurut Popper, filsafat deterministic mencermati keteraturan biologik.

Pooper dipengaruhi oleh Kant, dimana ia menampilkan hipotesa besar imajinatifnya

berupa teori keteraturan deterministic. Alam semesta ini teratur. Ilmuwan berupaya

membaca keteraturan tersebut. Dalam hal ini, uji falsifikasi diharapkan diketemukan

2002 digitized by USU digital library 9

kawasan benar dan kawasan salah dari teori itu. Popper menguji teorinya secara

deduktif dengan uji falsifikasi, dan kesimpulan yang hendak dicapai adalah

kebenaran probabilistic. Teori relatifitas Einstein merupakan salah satu teori yang

tepat diuji validitasnya dengan uji falsifikasi Popper (Muhadjir, 1998:99)..

Sejalan dengan filsafat determinisme dari Popper tersebut, Freud

menganggap organisme manusia sebagai suatu energi kompleks, yang memperoleh

energinya dari makanan yang dimakannya dan menggunakannya untuk bermacammacam

hal, seperti sirkulasi, pernapasan, gerakan otot, mengamati, berpikir, dan

mengingat. Freud tidak melihat alas an untuk menganggap bahwa energi yang

dikeluarkan untuk bernapas atau pencernaan adalah berbeda dari energi yang

dikeluarkan untuk berpikir dan mengingat, kecuali dalam hal bentuknya.

Sebagaimana sangat didengungkan oleh ahli-ahli ilmu alam abad XIX, energi harus

didefinisikan berdasarkan sejenis pekerjaan yang dilakukannya. Apabila

pekerjaannya merupakan kegiatan psikologis, seperti berpikir, maka Freud yakin

bahwa adalah sangat sah menyebut bentuk energi ini energi psikis. Menurut doktrin

penyimpanan energi, energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi

tidak dapat hilang dari seluruh system kosmis; berdasarkan pemikiran ini maka

energi psikis dapat diubah menjadi energi fisiologis dan demikian sebaliknya. Titik

hubunghan atau jembatan antara energi tubuh dan energi kepribadian adalah id

beserta insting-instingnya (Hall, 1993:68-69).

Telaah aksiologi terhadap aliran psikoanalisa ini akan tepat jika didekati

dengan teori moral tentang keutamaan dan jalan tengah yang baik dari Aristoteles.

Aristoteles mengetengahkan tendensi memilih jalan tengah yang baik antara terlalu

banyak (ekses) dengan terlalu sedikit (defisiensi). Keberanian merupakan jalan

tengah antara kenekatan dengan kepengecutan. Kejujuran merupakan jalan tengah

antara membukakan segala yang menghancurkan dengan menyembunyikan segala

sesuatu. Pada dataran rasional, Aristoteles juga mengetengahkan teori keutamaan

intelektual, dalam tampilan seperti : efisiensi dan kreatif. Teori moral ini sangat

realistic, dimana dalam mengatasi konflik dilakukan dengan mencari jalan tengah

yang terbaik (Muhadjir, 1998:156)

III.6 Aliran Humanisme.

Psikolog yang berorientasi humanistic mempunyai satu tujuan, mereka inin

memanusiakan psikologi. Mereka ingin membuat pskologi sebagai studi tentang “apa

makna hidup sebagai seorang manusia”. Mereka berasal dari berbagai latar belakang

dan keyakinan yang beragam. Sebagian besar psikolog yang berorientasi

humanistic mempunyai sikap yang sama, yaitu :

1.Para ilmuwan seharusnya tidak melupakan bahwa tugas utama mereka ialah

melayani sesama, sekalipun mereka memang mempunyai tugas mengumpulkan

dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Psikolog seharusnya dapat menolong

orang lain sedemikian rupa sehingga orang tersebut mampu lebih mengenal dirinya

secara baik serta mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya secara

maksimal. Psikolog harus mengarahkan tugasnya untuk memperkaya kehidupan

seseorang.

2.Ilmuwan perilaku seharusnya mempelajari makhluk hidup sebagai satu

keseluruhan yang utuh, tanpa mengkotak-kotakkan ke dalam penggolongan fungsi

2002 digitized by USU digital library 10

seperti misalnya persepsi, belajar, dan kepribadian (lihat adanya pengaruh

psikologi Gestalt).

3.Tugas psikolog adalah mempelajari tujuan hidup, keterkaitan diri, pemenuhan

kebutuhan, kreativitas, spontanitas, dan nilai-nilai yang dianutnya. Ini semua

adalah persoalan manusia yang sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya pribadi.

4.Ilmuwan perilaku seharusnya memusatkan perhatiannya pada kesadaran subyektif

(bagaimana seseorang memandang pengalaman pribadinya) karena interpretasi

yang dia lakukan mempunyai arti yang amat penting dan mendasar bagi semua

kegiatan manusia (pemikiran ini juga mencerminkan pengaruh psikologi Gestalt).

5. Ilmuwan perilaku harus belajar untuk memahami manusia sebagai individu yang

mempunyai perkecualian serta tidak dapat diramalkan sebelumnya, namun tetap

sebagai makhluk yang umum dan universal. Kebalikannya, justru psikolog

psikoanalitik, neobehavioristik, dan kognitif lebih memusatkan perhatiannya untuk

mempelajari sifat umum.

6.Metode-metode ilmiah khusus yang hendak dipakai oleh ilmuwan perilaku

seyogyanya bersifat sekunder. Hal ini karena persoalan yang mereka pilih untuk

dipelajari adalah yang utama. Oleh karena itu, psikologi humanistic menggunakan

bermacam-macam stategi penelitian ilmiah : metode obyektif, studi kasus

individual, teknik-teknik introspeksi informal, bahkan menganalisis karya tulisnya.

Hal ini karena para psikolog humanistic yakin bahwa kesadaran naluriah

merupakan sumber informasi yang amat penting, maka mereka tidak ragu-ragu

untuk mengandalkan dan percaya sepenuhnya pada perasaan subyektif mereka,

serta kesan-kesan mereka secara psibadi (Davidoff, 1988:27-28).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Martin Heidegger, yang semula dikenal sebagai filosof eksistensialis, sejak

1947, dengan bukunya Letter of Humanism mulai dikenal perubahannya, dan

selanjutnya dikenal sebagai tokoh yang memberi landasan ontology modern yang

phenomenologist. Dalam pandangan Heidegger, ilmu tentang yang ada pilah dari

ilmu positif. Ilmu tentang yang ada merupakan teanscendental temporal science,

ilmu transenden yang temporal. Makna transenden pada pustaka Barat umumnya

diartikan dunia obyektif universal. Demikian pula makna metafisik, sebagai dataran

obyektif universal. Berbeda dengan makna transenden dan metaphisik dalam

pustaka keagamaan.

Menurut Heidegger, humanisme dapat berakar pada dataran metafisik atau

setidaknya pada sesuatu yang lebih tinggi dan bearakar pada konsep human being

sebagai animal rasional. Being sebagai being momot commonality (ontology) dan

momot dasar mutlak dari being, yaitu a supreme Being (teologi), sehingga Heidegger

mengenalkan konsep Being atau Da-Sein (da artinya disini; dan Sein artinya Being)

(Muhadjir, 1998:51-52)..

Telaah aksiologi terhadap aliran Humanisme dapat didekati dengan teori etika

hak asasi manusia dari John Locke (1632-1704). Menurut John Locke, hak asasi

ditafsirkan sangat individualistic. Hak kebebasan individual, pada hak negatifnya

menjadi tidak mencampuri kehidupan orang lain. Melden (1977) berpendapat bahwa

hak moral kebebasan individu mempunyai saling keterkaitan antarindividu.

III.7 Aliran Kognitif.

Pada awal 1960-an, banyak psikolog kognitif mulai memberontak terhadap

pandangan behavioral yang kuna. Para psikolog dari pandangan kognitif yakin

akan hal-hal di bawah ini :

2002 digitized by USU digital library 11

1.Ilmuwan perilaku seharusnya mempelajari proses-proses mental seperti pikiran,

persepsi, ingatan, perhatian, pemecahan persoalan, dan penggunaan bahasa.

2.Mereka ini seharusnya berusaha untuk memperoleh pengetahuan yang setepattepatnya

mengenai cara kerja dari proses-proses tersebut, dan bagaimana prosesproses

ini dapat dipergunakan di dalam kehidupan sehari-harinya.

3.Para ilmuwan perilaku seharusnya juga tetap memakai introspeksi informal,

khususnya bila ingin mengembangkan dugaan-dugaan yang dibuat, sedangkan

metode obyektif dapat dipergunakan untuk menguji kebenaran dugaan ini.

Psikologi kognitif ini berusaha menggabungkan aspek-aspek fungsionalisme,

psikologi Gestalt, dan behaviorisme (Davidoff, 1988:25).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Psikologi kognitif memiliki landasan filosofil Rasionalisme. Tokoh aliran filsafat

rasionalisme ialah Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Dalam rasionalisme, usaha

manusia untuk memberi kepada akal suatu kedudukan yang berdiri sendiri. Abad ke-

17 adalah abad dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam arti yang

sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar

terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan

kemampuan akal pasti dapat diterangkan segala macam permasalahan dan dapat

dipecahkannya segala macam masalah kemanusiaan.

Dengan berkuasanya akal ini, orang mengharapkan akan lahirnya suatu dunia

baru yang dipimpin oleh akal manusia yang sehat.Aliran filsafat rasionalisme ini

berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya adalah

akal (rasio). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang memenuhi

syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutlak, yaitu syarat yang dituntut

oleh semua pengetahuan ilmiah.

Secara ringkas dapat dikemukakan dua hal pokok yang

merupakan ciri dari setiap bentuk rasionalisme, yaitu :

1.Adanya pendirian bahwa kebenaran-kebenaran yang hakiki itu secara langsung

dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya.

2.Adanya suatu penjabaran secara logis atau deduksi yang dimaksudkan untuk

memberikan pembuktian seketat mungkin mengenai lain-lain segi dari seluruh sisa

bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagai kebenarankebenaran

hakiki tersebut di atas (Mustansyir, 2001:73-75).

Telaah aksiologi terhadap aliran psikologi kognitif dapat didekati melalui teori

keadilan. Terdapat 2 prinsip teori keadilan, menurut Rawls, yaitu : 1) bahwa setiap

orang memiliki persamaan hak atas kebebasan yang sangat luas hingga kompatibel

dengan hak kebebasan orang lain; 2) ketidaksamaan sosial dan ekonomi ditata

sedemikian sehingga keduanya (sosial dan ekonomi) : a) menjadi bermanfaat bagi

setiap orang sesuai harapan yang patut, dan b) memberi peluang yang sama bagi

semua untuk segala posisi dan jabatan (Muhadjir, 1998:155-156).

IV.FILSAFAT ILMU DALAM PSIKOLOGI EKSISTENSIAL

Tokoh psikologi eksistensial yang terkenal adalah Ludwig Binswanger (1881)

dan Medard Boss (1903). Psikologi eksistensial menolak konsep tentang kausalitas,

dualisme antara jiwa dan badan, serta pemisahan orang dari lingkungannya.

2002 digitized by USU digital library 12

Psikologi eksistensial tidak mengkonsepsikan perilaku sebagai akibat dari

perangsangan dari luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia. Seorang

individu bukanlah mangsa lingkungan dan juga bukanlah makhluk yang teridir dari

insting-insting, kebutuhan-kebutuhan, dan dorongan-dorongan. Manusia memiliki

kebebasan untuk memilih, dan hanya ia sendiri yang bertanggungjawab terhadap

eksistensinya. Manusia dapat mengatasi baik lingkungan maupun badan fisiknya

apabila ia memang memilih begitu. Apa saja yang dilakukannya adalah pilihannya

sendiri. Orang sendirilah yang menentukan akan menjadi apa doa dan apa yang

akan dilakukannya (Hall, 1993:192-193).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Martin Heidegger (1889-1976) seorang filsuf Jerman dan Karl Jaspers (1883-

1969) (Hall, 1993:172-175) merupakan pencipta filsafat eksistensial dalam abad ini.

Hal yang lebih penting adalah bahwa Heidegger merupakan jembatan ke arah

psikolog dan psikiater. Ide pokok dalam ontology Heidegger (ontology adalah cabang

filsafat yang berbicara tentang ada atau eksistensi) ialah bahwa individu adalah

sesuatu yang ada-di dunia. Ia tidak ada sebagai diri atau sebagai subyek yang

berhubungan dengan dunia luar; seorang pribadi juga bukan merupakan benda atau

obyek atau badan yang berinteraksi dengan benda-benda lain yang membentuk

dunia. Manusia memiliki eksistensi dengan mengada-di-dunia, dan dunia memiliki

eksistensinya karena terdapat suatu Ada yang menyingkapnya. Ada dan dunia

adalah satu. Barret (1962, dalam Hall, 1993:172-175) menyebut ontology Heidegger

dengan teori Medan tentang Ada.

Telaah aksiologi terhadap Psikologi Eksistensial dapat didekati dengan teori

etika hak asasi manusia dari John Locke (1632-1704). Menurut John Locke, hak

asasi ditafsirkan sangat individualistic. Hak kebebasan individual, pada hak

negatifnya menjadi tidak mencampuri kehidupan orang lain. Melden (1977)

berpendapat bahwa hak moral kebebasan individu mempunyai saling keterkaitan

antarindividu.

V.FILSAFAT ILMU DALAM KONSELING

Banyak ahli sependapat bahwa di dalam pribadi yang sehat terdapat aspekaspek

yang berinteraksi secara terpadu. Ia bisa mempersepsikan diri sendiri secara

realistis, bisa menyesuaiakn dorongan dan keinginan dengan nilai moral yang ad, ia

memahami system nilai yang dimiliki, sehingga ia memahami pula apa dan

sejauhmana sesuatu boleh dan tidak bileh dilakukan. Dilihat dari sudut ini, hakikat

dan falsafah tujuan konseling adalah membantu seseorang agar mencapai prestasi,

hasil dengan kemampuan yang dimiliki secara maksimal. Untuk membantu hal ini

perlu dilatarbelakangi oleh dasar falsafah untuk konseling, bahwa ada kepercayaan

terhadap martabat dan harga diri seseorang, bahwa ada pengakuan terhadap

kebebasan dari seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya dan hak

seseorang untuk menentukan gaya dan corak kehidupan sendiri. Dalam

kenyataanya, tidak mungkin menghindari bahwa dalam proses konseling yang antara

lain bertujuan mengubah system nilai yang ada pada klien, namun dasar falsafahnya

harus tetap ada, yakni menghargai system nilai yang dimiliki klien, sehingga tidak

ada istilah keharusan atau pemaksaan. Inilah dasar munculnya konsep mengenai

individualisme , konsep yang mengakui adanya keunikan yang dimiliki setiap individu

dan yang memiliki hak untuk menentukan perkembangan dan perubahan sesuai

dengan kondisi khusus pribadinya. Dari sudut ini, salah satu tujuan penting dari

2002 digitized by USU digital library 13

seorang konselor adalah membantu agar pribadinya lebih merasa memiliki

kebebasan. Kebebasan yang dirasakan sebagai milik dan hak pribadinya dan yang

diakui dan dihargai oleh orang lain.

Pada tahun 1975, Arbuckle mengemukakan model filsafat untuk

mendasari teorinya mengenai konseling, yang singkatnya sebagai berikut :

1.Setiap orang dalam batas-batas tertentu adalah hasil kondisioning dengan

lingkungannya, yang pada saat ini merupakan hasil kondisioning di dalam dirinya

sendiri.

2.Kenyataan mengenai tekanan negatif dari luar, acapkali menutupi keadaan

sebenarnya bahwa dasar perubahan pada diri pribadi sama-sama bisa terjadi dari

dalam ke luar dan tidak selalu dari luar ke dalam.

3.Tanggung jawab pribadi adalah pencipta kebebasan perorangan dan bukan

sebaliknya.

4.Pemakaian istilah kebebasan pada hakekatnya hanya berupa istilah, karena dalam

kenyataannya tidak sebagaimana yang tercatat dalam literature, artinya

kebebasan yang tidak sepenuhnya bebas.

5.Pribadi yang bertanggungjawab dan bebas adalah pribadi yang mempersempit

perbedaan antara sikap dan perbuatan.

6.Kebebasan dan tanggungjawab berubah jika kultur juga berubah.

7.Seorang pribadi yang bertanggungjawab adalah seseorang yang tidak merasakan

kebutuhan untuk memaksa diri sendiri atau ide-idenya kepada orang lain.

Tiga kelompok system falsafah yang mendasari konseling, yakni :

1.Esensialisme.

Ada tiga aspek dalam kelompok ini, yakni : rasionalisme, idealisme, dan

realisme. Filsafat esensialitik menerima asumsi bahwa manusia adalah makhluk

satu-satunya didunia ini yang memiliki akal dan karena itu fungsi utama

mempergunakan akal adalah untuk mengetahui dunianya dimana ia hidup.

Selanjutnya dikemukakan bahwa kebenaran adalah universal dan absolut dan

manusia menemukan kebenaran dengan membedakan antara yang esensial dan

yang tidak. Mengenai absolutisme ini, Arbuckle (1975) menunjukkan bahwa

kepercayaan terhadap nilai absolut dapat menimbulkan kesulitan bagi para konselor.

Kalau konselor berpegang teguh pada konsep absolut, maka konselor akan sulit

menerima kebebasan pada klien untuk mengembangkan nilai-nilainya sendiri. Lebih

lanjut, Arbuckle mengemukakan bahwa yang penting adalah apakah konselor

percaya terhadap diri sendiri bahwa ia bisa memahami konsep absolut itu.

2.Progresivisme.

Menurut Blocher (1966), filsafat progresivistic ini muncul sebagai akibat dari

melunturnya kepercayaan terhadap konsep-konsep yang absolut. Para ahli tidak lagi

terlalu menitikberatkan pada teori, atau teori umum tentang pengetahuan,

melainkan memperhatikan hal-hal yang langsung dan khusus yang dapat dilihat

sebagai realitas dan obyek yang dapat dilihat, yang realistis dan membutuhkan

pemecahan persoalan secara langsung. Pendekatan-pendekatan dengan dasar

filsafat progresivistic antara lain eksperimentalisme, pragmatisme, dan

instrumentalisme. Pendekatan ini menitikberatkan pada pertanyaan seperti : apa

yang akan terjadi ? daripada pertanyaan : apakah kebenaran itu ? Suatu fakta akan

berharga dilihat dari kegunaannya dan bukan universalitasnya. Nilai adalah sesuatu

yang bersifat pribadi dan kebenaran adalah sesuatu yang dinamis, karena berada di

2002 digitized by USU digital library 14

dalam dunia yang selalu berubah. Suatu pandangan yang dijadikan dasar oleh aliran

empirisme dan behaviorime. Konsep dasar filsafat progresivistik bilamana dipakai

secara utuh oleh para konselor, akan bisa menimbulkan banyak kesulitan, karena

patokan atau ukuran yang dipakai adalah lingkungan dan masyarakat luas, termasuk

misalnya masalah penyesuaian diri yang berhubungan dengan integrasi kepribadian

dan kesehatan mental dan karena itu mengecilkan arti individualitas dan faktor yang

bisa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, padahal faktor tersebut adalah

faktor yang penting diperhitungkan sebagai faktor yang mempengaruhi gambaran

individualitasnya.

3.Eksistensialisme.

Konsep dasar filsafat eksistensialistik sebagai kelompok ketiga menurut

Blocher adalah kerinduan manusia untuk mencari sesuatu yang penting, sesuatu

yang bermakna dalam dirinya. Sesuatu yang paling bermakna di dalam diri

seseorang adalah eksistensi dirinya. Perhatian yang lebih besar terhadap pribadi,

terhadap manusia daripada terhadap system yang formal. Konsep identitas menjadi

sesuatu yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia. Konseling dari sudut

filsafat eksistensialistik ialah keterlibatan konselor untuk mengalami bersama apa

yang dialami klien, suatu respon empatik (empathic response) yang diperlihatkan

konselor, dalam usaha merekonstruksi struktur pribadi yang bermakna pada klien.

Mengenai ini, Beck (1963) menyusun beberapa paham dasar sebagai konsep dasar

falsafahnya untuk konseling yang diambil sebagian besar dari filsafat

eksistensialisme, sebagai berikut :

1.Setiap pribadi bertanggungjawab terhadap perbuatan-perbuatannnya sendiri.

2.Orang harus menganggap orang lain sebagai obyek dari nilai-nilai sebagai bagian

dari perhatiannya.

3.Manusia berada dalam dunia realitas.

4.Kehidupan yang bermakna harus terhindar sejauh mungkin dari ancaman, baik

fisik maupun psikis.

5.Setiap orang memiliki latar belakang keturunannya sendiri dan memperoleh

pengalaman-pengalaman unik.

6.Orang bertindak atas dasar pandangan terhadap realitasnya sendiri yang subyektif,

tidak karena realitas yang obyektif di luar dirinya.

7. Manusia tidak bisa digolongkan sebagai baik atau jahat dari asalnya (by nature).

8.Manusia berreaksi sebagai kesatuan organisasi terhadap setiap situasi (Gunarsa,

1996:9-13).

2002 digitized by USU digital library 15

KESIMPULAN

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah

ilmu Filsafat, sehingga . Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat. Psikologipun

lebih banyak dikembangkan oleh para pemikir dan ahli filsafat, yang kurang

melandasi pengamatannya pada fakta kongkrit. Lama-kelamaan, disadari bahwa

filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Dalam hal ini, sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat,

namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat, utamanya filsat

ilmu, bahkan ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafatpun, terutama

mengenai hal-hal yang menyangkut sifat, hakikat, serta tujuan dari ilmu

pengetahuan itu, (Ahmadi, 1998:28-29). Dengan demikian, maka akan dapat

dianalisa lebih lanjut tentang aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan psikologi

sebagai landasan filosofiknya, dalam hal ontology, epistemology, maupun

aksiologinya.

Perkembangan psikologi sejak berinduk pada filsafat hingga

perkembangannya kini memunculkan banyak aliran. Pembuka pintu bagi kemunculan

banyak aliran dalam dunia Psikologi dimulai dengan jasa Wilhelm Wundt yang

terkenal dengan strukturalismenya. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian

muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan

tokohnya Max Wertheimer, humanisme dengan tokohnya Maslow, kognitif dengan

tokohnya George Miller, dan psikoanalitik dengan tokohnya Sigmund Freud..

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Umum. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Davidoff, Linda L. 1988. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta, Erlangga.

Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta, PT BPK Gunung

Mulia.

Hall, Calvin S. dan Lindzey, Gardner. 1993. Teori-Teori Holistik (Organismik-

Fenomenologi). Yogyakarta, Kanisius.

Teori-Teori Psikodinamik

(Klinis). Yogyakarta, Kanisius.

Hilgard, Ernest R. 1987. Pengantar Psikologi, Edisi Kedelapan. Jakarta, Penerbit

Erlangga.

Muhadjir, Noeng. 1998. Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional

Komparatif. Yogyakarta, Rake Sarasin.

Mustansyir, Rizal dan Munir, Misnal. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta, Pustaka

Pelajar Offset.

 

 

Saling Hormat Agama dan Sains
Oleh ASEP BUNYAMIN

SEPANJANG sejarah manusia, pertarungan antara sains dan agama seolah tak pernah berhenti. Di satu pihak, ada kelompok saintis yang tak pernah dianggap sebagai intelektual, tetapi kerjanya yang berpijak pada dunia empiris secara nyata telah mengubah dunia seperti yang kita lihat sekarang ini. Di pihak lain ada para agamawan, kelompok yang secara tradisional menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua ihwal tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah tak pernah berhenti untuk saling klaim bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan.

Agama dan sains adalah bagian penting dalam kehidupan sejarah manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (agama) dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama.

Kerinduan akan tersintesisnya agama dan sains pernah diurai Charles Percy Snow. Ceramahnya di Universitas Cambridge yang dibukukan dengan judul The Two Cultures menyorot kesenjangan antar budaya, yaitu antara kelompok agamawan yang mewakili budaya literer dan kelompok saintis yang mewakili budaya ilmiah.

Dalam edisi kedua buku itu, C.P. Snow menyertakan satu esai penutup dan mengharapkan lahirnya budaya ketiga yang menyatukan budaya literer dan ilmiah antara agamawan dan saintis. C.P. Snow mempertanyakan identitas dari kedua budaya tersebut sehingga ia merasa perlu untuk menyatukan kedua budaya tersebut atau mungkin melahirkan budaya baru yang lebih memiliki identitas sebagai wujud pengakuan atas eksistensinya.

Saat ini, di tengah-tengah kemajuan bidang teknologi dan pengetahuan, dunia dihadapkan pada berbagai krisis yang mengancam eksistensi manusia. Bahkan jauh-jauh hari Sayyed Hosen Nasr telah mengidentifikasi krisis eksistensi tersebut sebagai ancaman yang cukup serius. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa krisis eksistensi ini disebabkan karena manusia modern mengingkari kehidupan beragama. Hingga pada akhirnya mereka arogan terhadap agama bahkan tak jarang menolak keberadaan Tuhan.

Modernisme --diakui atau tidak-- telah membawa manusia kepada kemajuan yang tak terduga sebelumnya. Hal ini bisa kita rasakan dengan semakin mudahnya hidup. Kemudahan itu membuat manusia kehilangan fungsi sebagai makhluk sosial. Implikasi dari itu semua, manusia modern semakin hidup individualis dan tak peduli pada orang lain. Kenyataan seperti ini memang tak bisa dihindari. Sains telah berhasil menyulap dunia ini menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Kemajuan sains membawa dampak pada dikesampingkannya agama. Kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Houston Smith dalam bukunya Why Religion Matters: The Fate of The Human Spirit in an Age of Disbelief mengungkapkan kematian agama di tengah kedigdayaan sains. Menurutnya, agama semakin tidak memiliki peran strategis dalam posisi manusia modern. Ini menyebabkan krisis spiritual melanda manusia zaman ini.

Namun, di tengah krisis spiritual ini, kritik terhadap modernisme juga datang seiring semakin terasa hampanya hidup. Banyak para tokoh intelektual yang mencoba mengambil jalan tengah dengan memadukan sains dan agama. Sebutlah Fritjof Capra, seorang ahli fisika bertangan dingin yang menulis buku The Tao of Phisics mengungkap bahwa adanya paralelisme antara mistisisme timur (Konghucu, Konfusian, dan agama timur lainnya) dengan fisika baru (dalam hal ini sains modern). Paralelisme tersebut dapat menjadi penyatu manusia dalam memasuki kehadiran kemajuan teknologi ini.

Menurut Fritjof Capra, keselarasan untuk menemukan ide-ide spiritualitas (baca: agama) dengan fisika (baca: sains) sebenarnya sudah berlangsung lama. Hal itu ditandai dengan ditemukannya rumusan fisika quantum oleh Einstein yang mengawali bangkitnya sains modern pascakemelut berkepanjangan di awal abad ke-20. Albert Einstein --dengan teori relativitasnya-- mengatakan bahwa tidak mungkin alam diciptakan dengan aturan yang tidak bisa diketahui. "Tuhan tidak (sedang) bermain dadu," katanya.

Baik sains maupun agama memiliki dua wajah, intelektual dan sosial. Agama bisa didekati dengan rasional dan empiris dan tidak melulu urusan hati. Sains pun sebaliknya bisa berwajah sosial, tidak melulu urusan rasional dan empiris. Sains mungkin telah berhasil melayani kemanusiaan tetapi ia juga menimbulkan senjata pemusnah massal yang justru mengingkari kemanusiaan. Di sisi lain, agama semakin hari semakin tereduksi oleh sikap para pemeluknya. Agama terus dilembagakan. Diakui atau tidak, banyak kasus yang dilakukan para pelaku komunitas keagamaan justru menyelewengkan toleransi yang dianjurkan oleh agama yang dipeluknya.

Sudah saatnya kini kita menghilangkan dikotomi antara agama dan sains. Kita sudah lama merindukan sebuah harmoni yang par excellence antara ruh spiritualitas agama-agama dan sains. Saatnya agama dan sains menghadirkan kesadaran yang muncul lewat pandangan-pandangan yang lebih harmonis, holistik, serta jauh dari sistem oposisi biner yang diagungkan para penganut positivistik. Agama yang dulu sering tidak menerima penemuan-penemuan sains karena dianggap bertentangan dengan pemahaman wahyu, kini harus bersikap lebih inklusif.

Sains yang sering dianggap bebas nilai sehingga melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama juga harus membuat ruang yang lebih lebar bagi saran-saran kaum agamawan. Dengan mempelajari secara komprehensif, kita bisa mengetahui keselarasan dalam relasi agama dan sains.

Paul Davies dalam bukunya God and The New Phyisics merekomendasikan kebangkitan relasi agama dan sains. Pertama, adanya dialog yang semakin intensif antara para ahli sains, filsafat dan teolog mengenai persoalan yang berkaitan dengan gagasan penciptaan (evolusi) --yang menjadi biang keladi perdebatan agama dan sains karena beda pandangan. Kedua, adanya minat yang besar untuk pemikiran mistik dan filsafat timur.

Akhirnya keinginan kita pun sama dengan kerinduan C.P. Snow bahwa semua itu dapat termanifestasi dalam sikap dan perilaku kaum agamawan dan saintis. Caranya, duduk bersama dalam rangka mengisi kehidupan yang lebih harmonis dan manusiawi sehingga menjadi pelopor dari lahirnya pencerahan jilid kedua yang dirindukan setiap orang.

 

 

 

 

PIGURA PEMIKIRAN DRIYARKARA

1. Obsesi Driyarkara

Menarik untuk mencatat bahwa Driyarkara lebih banyak menulis esai filsafat daripada buku-buku filsafat panjang atau diktat untuk itu. Menarik juga untuk mencermati bahwa cara berfilsafatnya Driyarkara lebih berada dalam pergulatan masuk ke peristiwa hidup kemasyarakatan, kebudayaan dan kepolitikan pada jamannya daripada membuat sistematika filsafat dengan kekuatan pendalaman analisis ilmiah yang barangkali sebagai filsafat sistematis berkualitas intelektual tinggi namun menukiknya pada problematika kehidupan terlalu jauh.

Mengapa menarik mencatat dua fenomena di atas? Sebab dari kumpulan karangan Driyarkara dan ceramah-ceramah serta uraiannya di radio (jadi beliau peka pada corong media massa) tema-tema besar mengenai siapa manusia, keberadaannya di dunia dan dalam masyarakat, apa itu kebudayaannya dan proses pendidikannya, semua ini dipigurkan dalam refleksi konkrefenomenal (berdasar fenomena-fenomena eksistensi manusia) dan direfleksi sebagai rentangan perjalanan bereksistensi (berada di masyarakat sampai kepulangannya ke Yang Menciptakannya).

Bukan lantaran pemikiran sejamannya, yang dominan adalah para eksistensialis, lalu Driyarkara merangkumkan refleksi eksistensial pada filsafatnya tetapi lebih-lebih saya kira karena pertama-tama manusia sebagai subyek pelaku peziarahan eksistensinya, itulah yang menjadi titik tolak rentanan filsafat Driyarkara.

Saya mengagumi di satu pihak khasanah pencerapan situasi jaman Driyarkara yang menerpa manusia sang peziarah eksistensinya. Dan di lain pihak, saya berdecak mengagumi pengolahan refleksi mendalam filsafatnya sebagai usaha mengkontekstualisasikan problematika pertanyaan mendasar ziarah sang manusia ini. Satu tema besar yang dahsyat muncul dalam dialektika eksistensial ini adalah tesis Driyarkara mengenai siapa manusia dan siapa sesama manusia. Tesis Driyarkara mengenai manusia dan sesama, ia rangkum dalam "homo homini socius": manusia adalah kawan atau rekan bagi sesamanya. Tesis ini diolah sebagai "kaunter" lawan balik terhadap terpaan usaha menghabisi sesama dalam persaingan berdarah bahkan usaha meniadakan sesama dengan menghilangkannya lewat iklim hidup sosial yang kejam, keji yaitu "homo homini lupus" yang berarti manusia adalah srigala (yang saling iri, dengki, mencakar dan membunuh) bagi sesamanya.

Tesis manusia adalah kawan bagi sesama bila dirajut sebagai proses peradaban lalu menjadi kepastian perjalanan peradaban yang memberikan ruang gerak kemerdekaan berkembang dan pemekaran keunikan masing-masing individu dalam saling menyapa, menghormati sebagai sesama rekan dalam hidup ini.

Di sini pola bernegara, pola bermasyarakat lalu dipijakkan pada sang manusia dalam pemekaran bakat dan kreatifitas serta keputusan-keputusan pilihannya untuk bertemu dan berkonsensus mendirikan negara yang berproses "human", manusiawi satu terhadap yang lain. Humanisasilah parameter atau ukuran peradabannya yang amat berlawanan dengan iklim persaingan keji "homo homini lupus": manusia adalah srigala bagi sesamanya.

Tema besar kedua yang mengagumkan saya adalah konsekuensi logis dari tesis: manusia adalah kawan sesamanya yaitu proses kebudayaan. Bagi Driyarkara ruang hidup tesis "homo homini socius" (manusia adalah rekan bagi sesamanya) adalah ruang kebudayaan. Dan yang dimaksud kebudayaan adalah seluruh proses pemekaran energi serta kemampuan-kemampuan kreatif manusia, bakat-bakatnya yang membuatnya bahagia sejahtera dalam hubungan ke atas dan ke sesama (atau horizontal). Ini berarti kemampuan penguasaan diri terhadap naluri destruktif juga pemanusiawian apa-apa yang membuatnya jadi liar, brutal dan mau berkuasa liar.  Berikutnya...

Dengan tegas Driyarkara menyebut proses kebudayaan sebagai proses humanisasi dan bukan pembuayaan (dari kata "buaya") peristilahan buaya saja sudah menandai dengan jelas maksud ketulusan proses pemekaran bakat dan rentang keberadaan manusia di dunia dan nanti di dunia sana.

Dalam ramuan yang inkulturatif, artinya, mencari dan menggali dari idiom-idiom tradisi seperti "Wedhatama", "Wulang Reh", serta problematik ideologi (dalam hal ini yaitu Pancasila), sumbangan pemikiran Driyarkara terletak dalam ikhtiar mengangkat permasalahan tema eksistensi manusia Indonesia, dalam keprihatinan proses humanisasinya. Dan ujung-ujungnya terlihat pula bahwa untuk menyuarakan sang manusia sebagai subyek yang menziarahi keberadaannya ini, pengenalan situasi, pencecepan sampah, dan anugerah yang hidup di udara sehari-hari yang menyebabkan renung filsafat Driyarkara mampu aktual dan tidak melayang di udara awan-awan abstraksi belaka.

2. Eksistensialisme versus materialisme; idealisme; "sekularisme"-ateisme?

Idealisme lewat Jaspers dinamika penghayatan hidup sesama adalah pilihan terus menerus untuk menghadapi dan mengatasi situasi-situasi batas yang harus dihayati dengan "cinta" (dengan pengorbanan).

3. Dari eksistensialisme homo homini lupus (di mana hidup bersama adalah saling rampas, tatapan yang membunuh = San) menuju ke eksistensialisme homo homini socius.

Sosialitas konflik sesama = neraka saling benci.

Lewat Soren Kierkegaard, Driyarkara mau menempatkan makna sejati eksistensi manusia satu-satunya bila manusia ditempatkan di hadapan Tuhan sebagai Penciptanya dan cinta sesamanya yang diciptanya sebagai saudara-saudaranya!

4. Siapa manusia menurut Driyarkara?

Ia adalah makhluk yang mempunyai dorongan dan tekad untuk mengangkat harkatnya derajat hidupnya sesuai kodratnya sebagai ciptaan Tuhan. Proses mengatasi atau transendensi diri di atas kodrat alam dan determinasi dunia material inilah proses pembudayaan yang aktif.

Dua langkah prosesnya yaitu hominisasi menuju humanisasi. Hominisasi proses panjang dari kandungan, kelahiran sampai kematian berlangsung sebagai proses perkembangan fisik, biologis semakin matang untuk menjadi manusia, hominisasi ini lekat dengan proses humanisasi, artinya pembudayaan diri dan lingkungan pematangan diri secara fisik biologis dan secara budaya dalam memberi arti dan merajut makna terjadi simultan.

Humanisasi sebagai pemanusiaan kultural itu diberi dimensi oleh Driyarkara yaitu: pertama, dimensi ekonomis, karya manusia mengolah yang materi atau barang-barang hingga berguna bagi manusia (Driyarkara, Kumpulan Kenangan, Kanisius, 1980, hal 84 dst). Kedua, dimensi teknik, olehmanusia untuk mengembangkan potensi-potensi (kemungkinan-kemungkinan) dan sifat dunia materi dengan memanfaatkan hukum alam dan mengembangkannya menjadi ilmu teknik (ibid; hal 84-85 dst). Ketiga, dimensi kebudayaan dalam arti sempit yaitu ekspresi diri, rasa, cinta, dan jiwa manusia saat mengolah dan mengangkat alam. Ekspresi paling menonjol di sini adalah penggunaan budi untuk mengolah dunia materi. Dimensi keempat, adalah dimensi "civilization" atau peradaban sebagai proses mempersantun ekspresi dalam budi bahasa dan ungkapan yang berkeadaban.   Berikutnya...

Dengan bahasa atau terminologi pendidikan, proses di atas diungkapkan Driyarkara sebagai memanusiakan manusia muda dalam hidup konkritnya untuk menjadi insan yang tanggap dan bertanggungjawab.

Bagaimana humanisasi atau proses pembudayaan untuk semakin merajut lingkungan hidup bersama dimana manusia bersesama mencapai kemanusiaan penuh dan harkat untuk itu dijalani atau dihayati? Ditunjukkan 3 matra prosesi humanisasi itu dalam: pertama, tematisasi, penghayatan hidup yang diberi makna (dimakna) atau diberi nilai kedua: universalisasi, kesadaran manusia yang menghayati bahwa nilai-nilai atau pemberian makna tadi (tematisasi) yang berharga bagi sesamanya atau orang lain, ketiga: teorisasi, proses pemberian bingkai pengertian yang lebih dalam sistematis dan dinamis pada tematisasi dan universalisasi.

Batu uji pembudayaan ini adalah bila terjadi situasi pembalikan atau anti nilai pada humanisasi. Misalnya, perangkat hukum yang seharusnya berfungsi dalam humanisasi untuk menegakkan hak dan keadilan bisa menjadi anti nilai kalau ia ternyata menginjak-injak keadilan.

5. Modernisasi: paham yang berpendapat bahwa peradaban manusia bisa berkembang bila modernitas dan perkembangan iptek dipesatkan dan dimajukan dimana rasionalisme diterapkan dalam teknologi dan industrialisasi untuk mencapai kemajuan masyarakat.

Segi-segi negatif modernisasi.

Sisi negatif pertama dari modernisasi adalah kecenderungan untuk "masivikasi" penyeragaman manusia dalam kerangka kerja teknis, sistem kerja industri yang menempatkan semua orang sebagai mesin atau sekrup dari sebuah sistem teknis rasional.

Segi negatif kedua yang dibawa modernisasi adalah sekularisme yang berarti tidak diakuinya lagi adanya ruang nafas buat yang ilahi atau dimensi religius dalam hidup ini.

Sekularisme adalah wujud ekstrem negatif dari proses sekularisme (yang semula sehat) karena mau memilah-milah adanya jagat religius dengan hukum-hukumnya dan jagat dunia (sekular) dengan hukum-hukum pula.

Sisi negatif ketiga dari modernisasi adalah orientasi nilai-nilai yang menomorsatukan " instant solution" resep jawaban tepat cepat langsung dalam tempo sesingkat-singkatnya. Maka yang muncul adalah sistem-sistem jawaban pak terhadap persoalan-persoalan hidup.

Padahal kehidupan yang sejati ini berjalan dari dinamika sebagai proses jatuh bangunnya orang yang secara evolutif, proses berkembang dari 9 bulan bayi, anak kecil, anak, remaja, dewasa dan menjadi orang tua, mampukah eksistensialisme menyajikan alternatif yang meyakinkan bahwa hidup adalah proses panjang yang hanya menjadi bermakna apabila dihayati secara tekun, sabar, teliti dan realisme kebahagiaan dalam perjalanan yang panjang dengan terus mengolah pengalaman-pengalaman hidup dalam terang maka dan arti dari agama? Ini berarti ia ditantang untuk melawan arus nilai "instant solution" dengan arus ziarah sabar tekun mengolah pengalaman-pengalaman. Disini bukan banyaknya pengalaman yang penting tetapi kualitas pengolahannya hingga menjadi sikap hidup penghayatnya.

Segi negatif keempat adalah gejala atomisme dari modernisme dan terpencarnya tempat kerja suami dan istri dengan rumah entah berkeping-kepingnya keamanan ikatan keluarga besar menjadi keluarga-keluarga kecil, entah berkepingnya solidaritas kampung yang dicabut akarnya lantaran menjadi pekerja-pekerja di kota atau pinggiran kota.

Mampukah humanisasi dengan religiositasnya menjadi tempat menurut kembali keping-kepingan krisis makna akibat atomisasi tadi mejadi rajutan-rajutan makna baru lantaran ditemukannya benang-benang arti baru yang menjawab bahwa pada hakekatnya setiap makhluk adalah para peziarah atau musafir menuju ke tanah berjanji bersama saudara-saudaranya lain yang tiap kali menjumpai "tanah-tanah asing" (kepingan-kepingan krisis) bagian kehidupan yang wajar sehingga "tanah asing" bukannya menghentikan ziarahnya menuju keselamatan abadi.

Sisi negatif kelima: teknologisme yang secara reduksionis memutlakkan rasionalitas teknis atau sarana sebagai cara kerja hingga melupakan rasionalitas kehidupan sebagai cara kerja hingga melupakan rasionalitas kehidupan sebagai rasionalitas tujuan. Benturan tajam yang terjadi adalah "gap"(celah) eksistensialisme dimana kawanan mayoritas masyarakat masih bereksistensi dengan logika sarana mencapai tujuan (means to ends logic) padahal elite kekuasan (gabungan teknokrat, teknolog, militer, pengusaha dan birokrat) sudah melaksanakan tanpa kompromi sebuah eksistensi "totally centralized engineered society" yang totaliter.

Penulis,

 

 

 

Mencari Orientasi Pendidikan
* Sebuah Perspektif Historis

Thomas Hidya Tjaya

Kebanyakan universitas di Eropa Barat dan Amerika Serikat, khususnya yang sudah cukup tua, memiliki moto atau semboyan yang biasanya dapat dilihat pada logo universitas tersebut. Semboyan ini pada hakikatnya menunjukkan visi dan orientasi pendidikan yang ditekankan oleh institusi tersebut.

FORDHAM University, New York, misalnya, tempat penulis pernah belajar, memiliki semboyan Sapientia et Doctrina (Kebijaksanaan dan Doktrin). Kalau kita menengok logo Harvard University di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, kita akan menemukan Veritas (Kebenaran) sebagai motonya.

Akan tetapi, tidak jarang pula sekolah menengah dan bahkan sekolah dasar pun memiliki moto dan gagasan ideal yang dicoba dihayati dan dijunjung tinggi oleh para pendidik dan siswanya.

Beberapa ratus meter dari Kampus Harvard terdapat Sekolah Dasar St Peter dan semboyannya tertulis jelas pada tembok luar gedung sekolah, For God and Our Country (Untuk Allah dan Bangsa Kita). Meskipun lokasi kedua institusi pendidikan ini sangat berdekatan satu sama lain, tidak banyak orang lokal menyadari bahwa orientasi pendidikan mereka, yang terungkap dalam moto-moto tersebut, merupakan warisan dari dua gerakan pendidikan yang pernah muncul dari sejarah manusia dan yang sampai kini, dalam tingkat tertentu, masih mempengaruhi orientasi pendidikan universal manusia: yang satu berorientasi pada pencarian kebenaran, yang lain mengidealkan pengabdian kepada masyarakat banyak.

Dalam karangan ini penulis akan mengantar pembaca ke dalam perkembangan dan orientasi kedua tradisi pendidikan tersebut, yang dalam sejarah intelektual disebut ’skolastisisme’ dan ’humanisme’. Setelah sekilas memaparkan perbandingan di antara kedua tradisi ini, penulis akan menyajikan beberapa butir refleksi mengenai visi-visi pokok orientasi pendidikan mereka, yang barangkali berguna bagi pemikiran mengenai pendidikan di Indonesia.

Skolastisisme: Hasrat mencari kebenaran

Dalam dunia pendidikan, kita sudah biasa mendengar bahwa pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengajarkan kepada peserta didik berbagai kebenaran yang telah ditemukan oleh manusia, baik yang bersifat saintifik, filosofis, maupun religius. Tidak banyak orang menyadari bahwa tradisi dan institusi akademik seperti universitas yang kita miliki sekarang ini berasal dari dua perkembangan yang terjadi dalam zaman keemasan Abad Pertengahan di Eropa Barat.

Perkembangan pertama berkaitan dengan penyebaran tradisi filsafat Aristoteles (384-322 SM) ke dunia Barat. Berlainan dengan tradisi Byzantium dan Arab yang memiliki dan mempelajari banyak karya Aristoteles yang berupa koleksi bahan-bahan kuliah, tradisi Latin di Eropa Barat praktis terputus dari warisan filosofis zaman klasik ini. Tradisi Aristotelianisme berbahasa Latin ini praktis baru muncul pada permulaan abad kedua belas. Sebelumnya, hanya sedikit sekali karya terkenal para filsuf Yunani, termasuk karya Aristoteles, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Para pemikir Barat dalam Abad Pertengahan hanya memiliki beberapa teks filsafat Yunani kuno, termasuk karya Aristoteles mengenai logika yang cukup terkenal itu. Keterbatasan akses inilah yang menyebabkan para filsuf Abad Pertengahan di Eropa Barat memusatkan perhatian mereka pada logika dan filsafat bahasa. Mereka mengenal karya-karya filsafat Yunani lainnya hanya secara tidak langsung, terutama karya-karya dalam tradisi Platonisme, yakni melalui tulisan-tulisan para pemikir Latin seperti Agustinus dan Boethius dalam zaman Romawi akhir.

Boethius (480-524 M) merupakan pengecualian penting dalam hal ini. Karena khawatir bahwa kemunduran vitalitas intelektual dalam zamannya akhirnya akan membuat generasinya yang berbahasa Latin dan kurang terdidik itu kehilangan kontak dengan warisan filsafat Yunani kuno, ia pun menerjemahkan karya-karya Aristoteles yang tersedia, misalnya teks mengenai logika, Categories (Kategori) dan On Interpretation (Mengenai Penafsiran).

Ia sangat terkesan dengan penggunaan pemikiran yang benar melalui silogisme dalam membuktikan kebenaran argumen teologis. Ia setuju dengan pandangan bahwa logika menyediakan jawaban terhadap setiap misteri eksistensi manusia. Bukunya yang terkenal, Consolation of Philosophy (Hiburan Filsafat), sangat populer dalam Abad Pertengahan, yang di kemudian hari sangat mempengaruhi munculnya minat terhadap filsafat.

Baru antara pertengahan abad kesebelas dan akhir abad ketiga belas, para pembaca di dunia Barat menikmati karya para filsuf dan ilmuwan Yunani secara lebih luas berkat adanya terjemahan baru dalam bahasa Latin dari bahasa Arab dan Yunani. Bersama dengan karya-karya Euclid, Ptolemeus, Galen, Hippokrates, dan sejumlah filsuf Neoplatonis, hampir semua karya Aristoteles beserta buku-buku komentar dalam bahasa Yunani dan Arab, khususnya karangan Ibn Sîna dan Ibn Rushd, menjadi sumber bacaan baru yang sangat menarik bagi pembaca berbahasa Latin.

Fenomena baru ini membakar semangat dan minat mereka yang memang sudah cukup besar terhadap filsafat dan sains. Teks-teks baru ini menjadi bahan komentar intelektual yang semakin canggih dan mendalam, yang kemudian segera dimasukkan ke dalam kurikulum inti universitas. Karena belum pernah menemukan sebuah sistem filosofis yang begitu luas dan canggih, dapat dipahami bahwa para filsuf dalam abad ketiga belas dan keempat belas menyebut Aristoteles sebagai ’Sang Filsuf’ (the Philosopher).

Untuk memahami lebih mendalam teks-teks baru ini, mereka biasanya merujuk pada terjemahan Latin dari karya-karya berbahasa Yunani dan Arab yang berisi komentar atas karya-karya Aristoteles. Mereka yang mempelajari teks-teks ini, berlainan dengan kelompok biarawan, masuk dalam kelompok yang disebut scholastici (scholars). Kelompok ini memperlihatkan hasrat untuk mengetahui kebenaran demi kebenaran itu sendiri, dan bukan sekadar untuk memperdalam hidup rohani.

Perkembangan kedua berkaitan dengan munculnya institusi pendidikan tinggi yang baru, yakni universitas. Institusi pendidikan dalam Abad Pertengahan dimulai dengan sekolah-sekolah monastik dan katedral, dan dalam abad kedua belas sekolah-sekolah ini menghasilkan universitas-universitas mereka yang pertama: Bologna, Salerno, Paris, Montpellier, dan Oxford.

Kata ’universitas’ sendiri pada dasarnya berarti sebuah perkumpulan (corporation) atau kelompok (guild). Dalam Abad Pertengahan yang memiliki begitu banyak bentuk hidup korporasi, makna istilah ’universitas’ perlahan-lahan dipersempit dan akhirnya hanya menunjuk secara eksklusif pada kelompok intelektual atau masyarakat pelajar dan pakar (universitas societas magistrorum discipulorumque).

Pada akhir abad ketiga belas, Paris telah menjadi ’ibu’ berbagai universitas serta ’ibu’ segala macam sains, yang mencakup semua universitas Abad Pertengahan di Eropa Utara, Inggris Raya, Jerman, Perancis Utara, dan sejumlah negara lainnya. Oxford, yang sering disebut ’putri tertua’ dari keluarga besar ini menjadi ’ibu’ universitas-universitas di Inggris.

Di dalam universitas-universitas inilah hasrat untuk mencari kebenaran itu berkembang dengan pesat. Orang yang berpendidikan, atau biasanya disebut master, adalah orang yang dapat mengemukakan pendapat sendiri, menganalisis, serta mengkritik argumen-argumen orang lain yang tidak logis. Sang master juga diharapkan dapat memberi komentar atas teks-teks filsafat yang diajarkannya.

Model para master di sini adalah Aristoteles, yang memberi komentar dan kritik atas pandangan para filsuf pendahulunya. Menjelang awal abad keempat belas, Aristoteles telah menjadi ’guru dari mereka yang berpengetahuan’ (the master of those who know). Maka bentuk pengajaran baru di universitas terdiri atas kuliah (lectura), berupa bacaan dan penjelasan atas teks standar tertentu serta debat (disputatio), yang merupakan diskusi publik berdasarkan tesis yang diajukan dengan argumen-argumen formal. Bentuk-bentuk pengajaran ini menghasilkan dua bentuk utama literatur ilmiah Abad Pertengahan, yakni buku komentar dan pertanyaan.

Dalam tulisan-tulisan mereka, para skolastik, yakni mereka yang melakukan studi atas karya-karya Aristoteles dan mencoba menggali kebenaran, juga mencoba mengumpulkan segala macam informasi dan memasukkannya ke dalam ensiklopedi atau summa. Tulisan-tulisan mereka bersifat sistematis dan mengacu pada proyek untuk menghasilkan pengetahuan obyektif.

Sebagaimana dalam pengajaran lisan, dalam tulisan pun mereka biasanya menggunakan metode disputasi untuk membantah pendapat-pendapat yang dianggap keliru, sebelum akhirnya mengajukan pendapat mereka sendiri. Teks Summa Theologiae dari Thomas Aquinas merupakan pengejawantahan konkret dari hasrat untuk mengejar kebenaran ini secara penuh dan obyektif. Metode skolastik inilah yang menjadi akar dari kultur akademik atau saintifik dalam institusi pendidikan seperti universitas dan menjadi standar yang harus dicapai oleh setiap (calon) master atau pengajar profesional. Ketika sains modern berkembang dalam abad keenam belas dan ketujuh belas, metode ini kemudian diganti dengan cara yang lebih empiris dan eksperimental. Akan tetapi, orientasinya tidaklah berubah, yakni untuk menemukan kebenaran.

Humanisme: Hasrat mengabdi masyarakat

Tradisi atau kultur pendidikan yang kedua, yakni humanisme Renaissance, berkembang di Italia sekitar akhir abad keempat belas sebelum akhirnya berkembang di Eropa Utara, kira-kira dua abad setelah tradisi skolastisisme bercokol di universitas-universitas. Kata ’humanisme’ di sini hendaknya tidak dilihat sebagai pandangan filosofis yang mengangkat konsern dan nilai-nilai kemanusiaan, melainkan sebagai sebuah gerakan budaya dan sastra tertulis yang menekankan dan mengembangkan studi literatur klasik.

Para tokoh humanis adalah kelompok profesional dalam bidang tata bahasa, retorika, puisi, sejarah, dan filsafat moral, atau yang biasa disebut studia humanitatis. Gerakan humanisme ini dimulai ketika para dictatores, yakni para pengajar seni menulis surat (ars dictaminis) dan ahli pidato Abad Pertengahan, mencoba mengembangkan keterampilan mereka dengan berpaling pada para pengarang klasik serta karya-karya mereka yang memiliki gaya bahasa yang elegan.

Untuk memahami karya-karya ini, mereka pun mulai mempelajari bahasa Yunani dan Latin klasik. Maka bahasa adalah inti dan akar dari gerakan humanisme Renaissance. Peradaban klasik ini kemudian menjadi tolok ukur standar dan model bagi para tokoh humanisme dalam menuntun segala macam kegiatan pendidikan dan budaya.

Sekurang-kurangnya ada dua ciri khas gerakan humanisme Renaissance. Ciri pertama dapat ditemukan dalam minat yang besar dan proyek untuk melanjutkan dan mengembangkan tradisi retorika dalam dunia Barat. Tradisi ini, yang umurnya sudah setua para Sofis Yunani, menekankan pentingnya peran para ahli pidato (orators atau rhetoricians) dalam zaman klasik, yakni mereka yang menyediakan bentuk paling umum pendidikan tinggi.

Dalam zaman klasik, orang cukup bisa membaca dan berbicara dengan fasih untuk dipandang sebagai orang yang berpendidikan. Para tokoh humanis mengembangkan sebuah keyakinan baru bahwa cara yang paling baik untuk berbicara dengan fasih adalah dengan meniru para ahli pidato klasik, khususnya Cicero (106-43 SM). Dalam hal ini Renaissance dapat dikatakan sebagai era Ciceronisme dalam mana studi dan peniruan terhadap gaya retorika Cicero sangat populer.

Dalam banyak karyanya, termasuk De Officiis (Mengenai Tanggung Jawab Publik), Cicero menekankan pentingnya kefasihan berbicara (eloquence): "Sebab, adakah hal lain yang lebih baik daripada kefasihan berbicara dalam membangkitkan kekaguman di antara para pendengarnya, harapan bagi orang yang sedang berkesusahan, atau rasa syukur bagi mereka yang bernasib baik?"

Para humanis setuju dengan apa yang diyakini Cicero, yakni keterampilan dan cara beretorika yang baik, yang selain menyentuh akal budi juga menggugah imajinasi dan emosi, akan membawa para pendengar ke arah tindakan yang positif. Sementara karya-karya retorikanya memuat teori, orasi-orasi Cicero, surat-surat, serta dialog-dialognya menjadi contoh konkret bagi banyak orang mengenai berbagai bentuk literatur prosa.

Secara khusus para humanis menaruh minat pada sintesa filsafat dan retorika dalam karya-karya Cicero. Semangat ini kemudian menjadi gagasan ideal bagi para humanis, yakni kombinasi antara kefasihan berbicara (eloquence) dan kebijaksanaan (wisdom), yang cukup banyak mewarnai corak literatur Renaissance.

Ciri khas kedua Humanisme Renaissance berkaitan erat dengan tujuan umum pendidikan humanistik sebagai persiapan atas tugas pelayanan publik. Yang ditanamkan di sini adalah keutamaan sivik (civic virtue). Dalam De Officiis, Cicero membangun relasi antara setiap individu dan seluruh komunitas umat manusia, dan secara khusus antara seorang warga negara dan negaranya: "Tidak ada relasi sosial yang lebih erat dan lebih intim daripada relasi yang menghubungkan kita semua dengan negara kita."

Menurut Cicero, segala yang kita miliki, termasuk bakat dan keterampilan kita, harus dibagi-bagikan kepada orang lain demi perbaikan dan kesejahteraan seluruh masyarakat: "Seperti diungkapkan dengan penuh kekaguman oleh Plato, kita dilahirkan bukan untuk diri kita sendiri. Negara kita pun mengklaim bagian dari kita, demikian juga para sahabat kita…. Kita, sebagai manusia, juga dilahirkan untuk manusia lainnya, supaya kita dapat saling menolong satu sama lain. Dalam hal ini kita harus mengikuti alam sebagai petunjuk, dalam memberikan sumbangan bagi kebaikan umum melalui pertukaran tindakan baik (acts of kindness), dengan saling memberi dan menerima. Dengan keterampilan, ketekunan, dan bakat yang kita miliki, dapatlah kita merekatkan masyarakat manusia secara lebih dekat, dari pribadi ke pribadi."

Cicero menekankan kewajiban sosial dari mereka yang terdidik serta pentingnya pengabdian mereka bagi kemanusiaan: "Kalau kebijaksanaan adalah keutamaan yang paling penting, dan memang begitu, itu berarti bahwa kewajiban yang berkaitan dengan kehidupan sosial adalah kewajiban yang paling penting.… Pengabdian itu lebih baik daripada sekadar pengetahuan teoretis, sebab studi dan pengetahuan mengenai alam semesta akan menjadi lumpuh dan rusak, seandainya tidak diikuti oleh hasil yang praktis."

Menurut Cicero, pada akhirnya kebijaksanaan harus digunakan untuk melayani keadilan. Di sinilah keterampilan retorika dapat memainkan peranan yang sangat penting karena dapat digunakan untuk mempengaruhi orang untuk menghidupi sebuah kehidupan yang lebih berkeutamaan dan untuk menjadi warga negara yang baik dan peduli dengan kesejahteraan dan kebaikan negaranya.

Dalam zamannya Francesco Petrarch (1304-74), ekspatriat di Florence dan ahli studi pengarang klasik dan bahasa Latin terbesar dalam era Renaissance, mengembangkan gagasan Cicero dengan memperlihatkan tujuan praktis studi bagi umat manusia: "Untuk apa-saya tanya kepada Anda-kita mengetahui hakikat hewan berkaki empat, burung, ikan, dan ular, tetapi tidak tahu mengenai atau bahkan mengabaikan kodrat manusia, yang merupakan tujuan kita dilahirkan dan arah perjalanan hidup kita?"

Ia menggemakan pandangan Cicero bahwa pendidikan seharusnya diarahkan kepada pembentukan kepribadian peserta didik: "Filsuf etika yang benar dan guru keutamaan yang berguna adalah mereka yang maksud pertama dan terakhir mereka adalah membuat pendengar dan pembaca menjadi baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajar apa itu keutamaan dan apa itu kejahatan serta mendengungkan ke dalam telinga kita kehebatan nama yang satu [yakni keutamaan] dan keburukan nama yang lain [kejahatan], melainkan juga menaburkan ke dalam hati kita, cinta akan yang terbaik (the best) dan keinginan yang kuat untuk memilikinya, dan pada saat yang sama kebencian terhadap yang terburuk (the worst)dan bagaimana cara menjauhinya."

Para humanis sesudah Petrarch memeluk tujuan program pendidikan untuk menghasilkan pembicara cakap dan efektif yang akan mempengaruhi dan mendorong pembaruan moral dalam masyarakat tempat mereka tinggal. Pendidikan moral dilakukan antara lain dengan studi sejarah, sebab para humanis yakin bahwa orang dapat dan perlu belajar dari sejarah supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam hal ini studi mengenai humanisme Renaissance dewasa ini pada umumnya telah mengikis kesan Jacob Burckhardt, seorang pakar Renaissance Italia, bahwa para humanis adalah kaum intelektual miskin, individualis, suka akan kemasyhuran, tanpabanyakpengaruhdalammasyarakat.>sav<>up<10>res< Sebaliknya, kurikulum pendidikan para humanis pada umumnya bertujuan untuk membentuk pribadi yang cakap dengan mengembangkan kualitas moral serta kemanusiaan bagi pelayanan kepada orang banyak.

Visi dan orientasi pendidikan

Gambaran sekilas mengenai sejarah kedua gerakan pendidikan ini memperlihatkan kepada kita visi dan orientasi pendidikan yang berbeda. Pertama-tama, pendidikan dengan gaya skolastik cenderung bersifat abstrak dan spekulatif, sedangkan pendidikan humanistik bersifat praktis. Kemudian, pendidikan skolastik berfokus pada pengejaran kebenaran obyektif, sedangkan pendidikan humanistik, dengan fokus pada bahasa dan retorika, pada akhirnya lebih berorientasi pada usaha untuk mengabdi masyarakat banyak.

Dalam zaman Renaissance memang terdapat debat besar antara kedua gerakan dan kultur pendidikan ini yang, karena keterbatasan ruang, tentu saja tidak dapat dibahas di sini. Yang akan penulis lakukan adalah memberikan beberapa butir refleksi atas visi dan orientasi pendidikan mereka, yang kiranya dapat membantu kita memikirkan visi pendidikan di Indonesia.

Pertama, orientasi untuk mencari kebenaran. Keinginan untuk mendapatkan kebenaran, baik yang bersifat filosofis, saintifik, maupun religius, inilah yang mendorong para tokoh skolastik untuk mencari tahu dan mengumpulkan berbagai macam teks serta menyusun ensiklopedi.

Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa mencari kebenaran adalah tugas utama dan layak (proper) bagi seorang manusia. Di antara makhluk yang ada, hanya manusialah yang memiliki akal budi, yang memungkinkannya untuk berpikir, mendapatkan pengetahuan, dan menemukan kebenaran. Pendidikan merupakan sarana bagi manusia untuk mewariskan kebenaran yang sudah ditemukan dalam sejarah manusia kepada generasi berikutnya.

Yang patut direfleksikan di sini adalah apakah seluruh sistem dan program pendidikan kita memang diarahkan kepada usaha pencarian kebenaran. Adalah tantangan besar bagi para pendidik untuk menanamkan dalam diri siswa keberanian untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran. Sangatlah berbahaya kalau sistem, program, dan orientasi pendidikan di negeri kita dikompromikan oleh motif-motif politik atau ekonomi. Yang terjadi adalah, seperti sudah banyak dikeluhkan, pembodohan masyarakat.

Kedua, kemandirian dan profesionalitas. Baik tradisi skolastisisme maupun humansime berakar pada teks. Dalam program pendidikan mereka, peserta didik diajar untuk menafsirkan dan memberi komentar. Yang ditekankan di sini, seperti pada seorang master, adalah kemandirian dan profesionalitas dalam mengungkapkan pandangan pribadi.

Metode pendidikan yang menekankan pada sekadar hafalan dan ketepatan menjawab sesuai dengan petunjuk jawaban yang ada jelas tidak mendukung pendidikan ke arah kemandirian. Cara semacam itu tidak merangsang siswa untuk berpikir sendiri dan tidak mempersiapkan mereka untuk membangun pendapat pribadi secara rasional dan bertanggung jawab. Bagaimanapun, pada akhirnya orang harus diajar untuk memberikan jawaban dan membuat keputusan sendiri, tidak melulu merujuk pada perintah dan petunjuk guru atau atasan.

Ketiga, pengabdian kepada publik. Para tokoh humanis yakin bahwa pendidikan pada akhirnya harus mengarahkan peserta didik pada pengabdian kepada masyarakat banyak. Alasannya adalah setiap manusia adalah makhluk sosial, yang secara hakiki terikat pada manusia lainnya; ia dilahirkan tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain juga.

Menerapkan visi pendidikan yang demikian memang tidak mudah, terlebih ketika pendidikan ditempuh sekadar untuk mendapatkan gelar akademik dan dikejar supaya dapat membantu mendapatkan pekerjaan yang baik. Motif ekonomi pada peserta didik dalam mengejar pendidikan pada akhirnya hanya akan menyuburkan individualisme dalam masyarakat. Tantangannya di sini adalah menumbuhkan dalam diri siswa rasa keterikatan dengan negara dan masyarakat supaya selalu ada keinginan untuk memperbaiki situasi negara. Di tengah merosotnya nilai nasionalisme di negeri yang hampir masuk jurang karena korupsi ini, orientasi pelayanan kepada orang banyak patut mendapat perhatian serius.

Keempat, pendidikan hati. Berlainan dengan pendidikan skolastik yang cenderung menekankan pendidikan kognitif dan memuaskan rasa ingin tahu, pendidikan humanistik sangat memerhatikan pendidikan hati. Hal ini terlihat dalam penekanannya pada retorika sebagai sebuah metode untuk menggerakkan hati orang dan mengarahkannya pada tindakan positif.

Dalam pendidikan humanistik peserta didik lebih banyak diajak untuk meningkatkan keterampilan dan mengungkapkan diri dalam bahasa dan seni. Visi pendidikan yang memadai, selain memuat dimensi kognitif, tentunya harus juga mencakup dimensi afektif dan psikomotorik agar ada keseimbangan. Keputusan yang kita buat pada akhirnya haruslah didasarkan pada pertimbangan hati dan tidak sekadar pertimbangan murni rasional belaka.

Kelima, tekanan pada dimensi moral. Pendidikan humanistik secara hakiki menekankan cara-cara untuk hidup dengan baik (bene vivere). Oleh karena itu, pendidikan moral memegang peranan penting. Bersama dengan metode retorika, metode pendidikan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik dan supaya mereka akhirnya sungguh mencintai keutamaan (virtue) dan membenci kejahatan (vice).

Bagi para tokoh humanis, pendidikan mestinya membuat orang menjadi lebih bermoral dan bukan sekadar menjadi lebih pandai. Maka dalam kerangka pendidikan mereka, kasus STPDN yang menyangkut kekerasan dan penganiayaan terhadap sesama calon pemimpin rakyat merupakan hal yang sangat memalukan, terlebih karena mereka adalah calon-calon pengabdi rakyat yang semestinya memegang moralitas tinggi. Kegagalan mereka untuk menghormati hak dan martabat rekan-rekannya tentunya menimbulkan pertanyaan besar mengenai kepantasan mereka menjadi pemimpin rakyat.

Kiranya masih banyak butir refleksi yang dapat digali dari kedua gerakan dan kultur pendidikan ini. Butir-butir di atas pun tentunya masih dapat diperdalam lagi. Tulisan singkat ini diharapkan dapat meningkatkan ketajaman pandangan dan refleksi kita mengenai tujuan, visi, serta orientasi pendidikan di negeri kita, agar kita sungguh memberikan bekal dan mewariskan sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

 

 

2002 digitized by USU digital library 1

AKTUALITAS FILSAFAT ILMU DALAM PERKEMBANGAN PSIKOLOGI

RARAS SUTATMININGSIH, Spsi

Fakultas Kedokteran

Jurusan Psikologi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tulisan ini menekankan pada topik Aktualitas Filsafat Ilmu Dalam

Perkembangan Psikologi. Pengulasan topik didasarkan pada penganalisaan

pemahaman terhadap landasan filosofik yang digunakan dalam perkembangan

Psikologi.

Awal pembahasan dalam tulisan ini dimulai dengan sejarah psikologi sebagai

bagian dari ilmu filsafat. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan

diri dari filsafat. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari dulu hingga kini

tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat.

Perkembangan psikologi sejak berinduk pada filsafat hingga

perkembangannya kini memunculkan banyak aliran. Pembuka pintu bagi kemunculan

banyak aliran dalam dunia Psikologi dimulai dengan jasa Wilhelm Wundt yang

terkenal dengan strukturalismenya. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian

muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan

tokohnya Max Wertheimer, humanisme dengan tokohnya Maslow, kognitif dengan

tokohnya George Miller, dan psikoanalitik dengan tokohnya Freud..

Aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan psikologi sejak awal hingga kini

diletakkan penulis pada landasan filosofik, dalam kaitannya pada perkembangan

psikologi secara umum, khususnya masing-masing aliran psikologi, serta beberapa

bentuk terapan psikologi.

Benang merah yang tampil adalah perkembangan psikologi dari awal hingga

kini tetap diwarnai filsafat ilmu, terutama dalam penelusuran bidang-bidang kajian

psikologi yang lebih baru.

I.SEJARAH PSIKOLOGI

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah

ilmu Filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan

satu-satunya ilmu pada waktu itu. Oleh karena itu, ilmu-ilmu yang tergabung dalam

filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat, demikian pula halnya dengan

psikologi.

Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang

dapat memenuhi kebutuhan manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan

dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat. Pada saat

psikologi masih tergabung dengan filsafat, dasar pemikirannya sejalan dengan

pemikiran perkembnagan ilmu pengetahuan di jaman sebelum Renaissance, yaitu,

2002 digitized by USU digital library 2

jaman Yunani Kuno dan jaman pertengahan. Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat

sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sejak awal

pertumbuhan hingga pertengahan abad ke-19, psikologi lebih banyak dikembangkan

oleh para pemikir dan ahli filsafat, yang kurang melandasi pengamatannya pada

fakta kongkrit. Mereka lebih mempercayai pemikiran filsafat dan pertimbanganpertimbangan

abstrak serta spekulatif. Teori-teori yang mereka ciptakan lebih

banyak didasarkan pada pengalaman pribadi dan pengertian sepintas lalu. Oleh

karena itu, dapat dimengerti bahwa psikologi pada waktu itu kurang dapat dipercaya

kebenarannya. Dalam perkembangan psikologi selanjutnya, dirasakan perlunya

penggunaan metode lain, untuk menjamin obyektifitasnya sebagai ilmu, yaitu

menggunakan metode “empiris”. Metode empiris menyandarkan diri pada :

pengalaman, pengamatan, dan eksperimen/percobaan (empiris, empiria, yang

berarti pengalaman dan pengamatan) (Ahmadi, 1998:52), dimana hal ini sejalan

dengan penemuan ilmu pengetahuan modern yang sudah mulai dirintis pada zaman

Renaissance.

Zaman Renaissance (14-17 M) menanamkan pengaruh yang kuat bagi

perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menunjukkan beberapa hal, seperti :

pengamatan (abservasi), penyingkiran segala hal yang tidak termasuk dalam

peristiwa yang diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa

tersebut, peramalan, pengukuran, dan percobaan (eksperimen) untuk menguji teori

yang didasarkan pada ramalan matematik (Mustansyir, 2001:133).

Hal tersebut adalah jasa dari Wilhelm Wundt yang mendirikan laboratorium

psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 untuk menyelidiki peristiwa-peristiwa

kejiwaan secara eksperimental. Dengan perkembangan ini, maka berubahlah

psikologi yang tadinya bersifat filosofik menjadi psikologi yang bersifat empirik

(Amadi, 1998:6).

Dalam hal ini, sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari

filsafat, namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat, bahkan

ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafatpun tetap masih ada hubungan

dengan filsafat, khususnya filsafat ilmu, terutama mengenai hal-hal yang

menyangkut sifat, hakikat, serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu, (Ahmadi,

1998:28-29). Dengan demikian, maka akan dapat dianalisa lebih lanjut tentang

aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan ilmu pengetahuan sebagai landasan

filosofiknya, khususnya psikologi, baik dalam hal ontology, epistemology, maupun

aksiologinya.

II.FILSAFAT ILMU DAN DIMENSI-DIMENSINYA.

Filsafat Ilmu memiliki ruang lingkup sebagai berikut : 1) komparasi kritis

sejarah perkembangan ilmu, 2) sifat dasar ilmu pengetahuan, 3) metode ilmiah, 4)

praanggapan-praanggapan ilmiah, 5) sikap etis dalam pengembangan ilmu

pengetahuan (Mustansyir, 2001:49-50).

Filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofik untuk minimal memahami

berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmiah. Secara substantif fungsi

pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dari disiplin ilmu masing-masing,

agar dapat menampilkan teori substantif. Selanjutnya, secara teknis diharapkan

dengan dibantu metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoperasionalkan

pengembangan konsep, tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing

(Muhadjir, 1998:2).

2002 digitized by USU digital library 3

Dimensi-dimensi utama filsafat ilmu, yaitu : ontology, epistemology, dan

aksiologi. Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi

dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

Epistemologi adalah sarana, sumber, tatacara untuk menggunakannya

dengan langkah-langkah progresinya menuju pengetahuan (ilmiah).

Aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah),

etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta

penerapan ilmu (Wibisono, 2001).

III.FILSAFAT ILMU DAN ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI MODERN

III.1 Wilhelm Wundt, Edward Titchener dan Strukturalisme.

Wilhelm Wundt (1832-1920), pada mulanya memperoleh pendidikan dokter,

kemudian mengajar fisiologi selama 17 tahun pada Universitas Heidelberg, Jerman.

Sejak awal karirnya, dia telah memperlihatkan minat yang besar sekali terhadap

proses mental. Pada waktu itu, psikologi belum merupakan bidang tersendiri. Pokok

bahasannya masih satu dengan filsafat. Hal yang merupakan ambisi Wundt saat itu

ialah memperkembangkan psikologi sedemikian rupa sehingga mempunyai identitas

sendiri. Dengan adanya tujuan ini, maka dia mengambil langkah dengan

meninggalkan Universitas Heidelberg dan menerima jabatan sebagai Ketua Bagian

Filsafat di Universitas Leipzig, Jerman. Empat tahun kemudian, tahun 1879, Wundt

mendirikan laboratorium psikologi eksperimen yang pertama di dunia, dan

merupakan satu kehormatan yang luar biasa bagi psikologi, sehingga psikologi dapat

dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Wundt sangat yakin bahwa tugas utama seorang psikolog adalah meneliti serta

mempelajari proses dasar manusia, yaitu berupa pengalaman langsung, kombinasikombinasinya,

dan hubungan-hubungannya.

Bagaimana psikolog dapat mempelajari proses dasar kesadaran ini ? Wundt dan

pengikut-pengikutnya telah mengembangkan satu metode yang dinamakan

introspeksi analitik (analytic introspection), yaitu suatu bentuk formal dari observasi

yang dilakukan diri sendiri.

Titchener (1892), seorang murid Wundt, yang diserahi tanggung jawab terhadap

laboratorium psikologi yang masih baru di Universitas Cornell, Amerika Serikat, terus

menyebarluaskan pandangan Wundt dan kemudian menjadi pemimpin satu gerakan

yang disebut Strukturalisme.

Strukturalisme ini meyakini hal-hal berikut :

1.Psikolog seharusnya mempelajari kesadaran manusia, terutama aspek

pengindraannya.

2.Psikolog seharusnya menggunakan metode introspeksi analitis yang nyata di dalam

laboratorium.

3.Psikolog seharusnya menganalisis proses mental ke dalam elemen sedemikian

rupa, sehingga dapat menemukan kombinasi-kombinasinya serta hubungan satu

sama lain. Dengan analisis seperti itu juga akan dapat diketahui tempat dimana

struktur saling berhubungan dalam system syaraf (Davidoff, 1988:11-14).

2002 digitized by USU digital library 4

III.2 William James dan Fungsionalisme.

William James (1842-1910) adalah salah satu psikolog Amerika yang cukup

terkenal. Ia mengajarkan filsafat dan psikologi di Universitas Harvard selama 35

tahun. Dia sangat menentang strukturalis, karena menurutnya aliran ini sangat

dangkal, tidak murni dan kurang dapat dipercaya kebenarannya. Kesadaran menurut

James bersifat unik dan sangat pribadi, terus-menerus berubah, muncul setiap saat,

dan selektif sekali ketika harus memilih dari sekian banyak rangsang yang mengenai

seseorang. Yang paling menonjol dan utama ialah, bahwa kesadaran ini mampu

membuat manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Pengikut fungsionalisme meyakini hal-hal berikut :

1.Psikolog seharusnya meneliti secara mendalam bagaimana proses-proses mental

ini berfungsi, dan juga mengenai topik lainnya.

2.Mereka seharusnya menggunakan introspeksi informal, yaitu observasi terhadap

diri sendiri serta laporan diri, serta metode obyektif, yaitu yang dapat terbebas dari

prasangka, seperti misalnya elsperimen.

3.Psikologi, sebagai ilmu pengetahuan, seharusnya dapat diterapkan di dalam

kehidupan kita sehari-hari, misalnya dalam pendidikan, hukum, ataupun

perusahaan.

Karena masalah-masalah dasar sangat banyak, maka psikolog yang

tergabung di dalam aliran fungsionalisme, berpisah untuk menentukan caranya

sendiri. Pada akhirnya, di Amerika Serikat, fungsionalisme digantikan oleh

Behaviorisme. Banyak asumsi-asumsi dari aliran fungsional yang dapat bertahan,

dan dimasukkan ke dalam pendekatan lainnya yang dikenal sebagai Psikologi

Kognitif (Davidoff, 1988:14-15).

III.3 John Watson dan Behaviorisme.

John Watson (1878-1958) menamatkan pendidikannya dalam bidang psikologi

hewan, di Universitas Chicago, di bawah asuhan seorang professor dari aliran

fungsionalis.

Watson tidak puas terhadap strukturalisme dan fungsionalisme dengan

keluhan-keluhan sebagai berikut : bahwa fakta mengenai kesadaran tidak mungkin

dapat dites dan direproduksi kembali oleh para pengamat, sekalipun sudah sangat

terlatih.

Aliran behaviorisme menguraikan keyakinannya sebagai berikut :

1.Psikolog seharusnya mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi di sekeliling

(rangsangan/stimulus) dan perilaku yang dapat diamati (respon).

2.Terhadap perilaku, kemampuan, dan sifat, faktor pengalaman mempunyai

pengaruh yang lebih penting dibandingkan dengan faktor keturunan. Dengan

demikian, belajar merupakan topik utama untuk dipelajari.

3.Introspeksi sebaiknya ditinggalkan saja dan digantikan dengan metode obyektif

(misalnya eksperimen, observasi, dan tes berulang-ulang).

4.Psikolog seharusnya bertujuan untuk dapat membuat deskripsi, penjelasan,

peramalan ke masa depan, dan pengendalian perilaku sehari-hari.

5.Sebaiknya perilaku makhluk sederhana juga diteliti, karena makhluk-makhluk

sederhana ini mudah diteliti dan dipahami, bila dibandingkan dengan manusia

(Davidoff, 1988:15-16).

2002 digitized by USU digital library 5

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Landasan filosofik dari aliran behaviorisme sangat dipengaruhi oleh positivisme.

Positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar, 1985, dalam Muhadjir,

1998:61). Positivisme berakar pada empirisme. Prinsip filosofik tentang positivisme

dikembangkan pertama kali oleh empirist Inggris Francis Bacon (sekitar 1600).

Tesis positivisme adalah bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid dan faktafakta

sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian,

positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta,

menolak segala penggunaan metoda di luar yang digunakan untuk menelaah fakta.

Ontologi positivisme hanya mengakui sesuatu sebagai nyata dan benar bila

sesuatu itu dapat diamati dengan indera kita. Positivisme menolak yang dinyatakan

sebagai fakta tetapi tidak diamati oleh siapapun dan tidak dapat diulang kembali.

Sesuatu akan diterima sebagai fakta bila dapat dideskripsikan secara inderawi. Apa

yang di hati dan ada di pikiran, bila tidak dapat dideskripsikan dalam perilaku, tidak

dapat ditampilkan dalam gejala yang teramati, tidak dapat diterima sebagai fakta,

maka tidak dapat diterima sebagai dasar untuk membuktikan bahwa sesuatu itu

benar. Apa yang di hati harus ditampilkan dalam ekspresi marah, senang atau

lainnya yang dapat diamati (Muhadjir, 1998:68).

Ontologi pada positivisme sejalan dengan dasar pemikiran yang digunakan oleh

pendekatan behaviorisme (perilaku) yang ada pada psikologi. Pada pendekatan ini,

perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati. Dengan pendekatan

perilaku, seorang ahli psikologi mempelajari individu dengan cara mengamati

perilakunya dan bukan mengamati kegiatan bagian dalam tubuh. Pendapat bahwa

perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal dalam psikologi mulai diungkapkan

oleh seorang ahli psikologi Amerika John B. Watson pada awal tahun 1900-an.

Introspeksi mengacu pada observasi dan pencatatan pribadi yang cermat

mengenai persepsi dan perasaannya sendiri. Watson berpendapat bahwa introspeksi

merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya. Alasannya ialah jika psikologi

dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan diukur. Watson

mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari apa yang

dilakukan manusia-yaitu perilaku mereka-memungkinkan psikologi menjadi ilmu

yang obyektif.

Behaviorisme, sebutan bagi aliran yang dianut Watson, turut berperan dalam

pengembangan bentuk psikologi selama awal pertengahan abad ini, dan cabang

perkembangannya yaitu psikologi stimulus-response (rangsangan-tanggapan) masih

tetap berpengaruh. Hal ini terutama karena hasil jerih payah seorang ahli psikologi

dari Harvard, B.F.Skinner. Psikologi Stimulus-Response (S-R) mempelajari

rangsangan yang menimbulkan respon dalam bentuk perilaku, mempelajari ganjaran

dan hukuman yang mempertahankan adanya respon itu, dan mempelajari

perubahan perilaku yang ditimbulkan karena adanya perubahan pola ganjaran dan

hukuman (Skinner, 1981. dalam Hilgard, 1987:8-9).

Telaah aksiologi terhadap aliran behaviorisme yang menempatkan faktor

belajar sebagai konsep yang penting akan dapat didekati dengan teori moral

imperatif dari Immanuel Kant. Immanuel Kant mengemukakan bahwa manusia

berkewajiban melaksanakan moral imperatif. Pada satu sisi, dengan moral imperatif,

manusia masing-masing bertindak baik, bukan karena ada paksaan, melainkan

karena sadar bahwa tindakan tidak baik orang lain adalah mungkin merugikan kita

2002 digitized by USU digital library 6

dimana disini terlihat pentingnya aspek belajar dalam kehidupan manusia. Pada sisi

lain, dengan moral imperatif tersebut, semua orang menjadi saling mengakui

otonominya. Dilihat dari sisi rekayasawan, teori moral ini lebih mengaksentuasikan

pada kewajiban dan otonomi serta tanggung jawab rekayasawan.

III.4 Max Wertheimer dan Psikologi Gestalt.

Sementara Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di

negara Jerman muncul aliran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt,

dalam bahasa Jerman, ialah bentuk, pola, atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin

bahwa pengalaman seseorang mempunyai kualitas kesatuan dan struktur. Aliran

Gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan terhadap aliran strukturalis, khususnya

karena strukturalis mengabaikan arti pengalaman seseorang yang kompleks, bahkan

dijadikan elemen yang disederhanakan.

Aliran psikologi Gestalt mempunyai banyak tokoh terkemuka, antara lain

Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan Max Wertheimer.

Aliran psikologi Gestalt ini nampaknya merupakan aliran yang cukup kuat dan

padu. Falsafah yang dikemukakannya sangat mempengaruhi bentuk psikologi di

Jerman, yang kelak juga akan terasa pengaruhnya pada psikologi di Amerika Serikat

(terutama dalam penelitian mengenai persepsi). Hal itu nampak dari kedua aliran

psikologi modern yang sejaman, yaitu aliran Humanisme dan aliran Kognitif

(Davidoff, 1988:16-19).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Telaah filosofik psikologi gestalt dapat didekati dengan fenomenologi. Heidegger

adalah juga seorang fenomenolog. Fenomenologi memainkan peran yang sangat

penting dalam sejarah psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-

1938), pendiri fenomenologi modern. Husserl adalah murid Carl Stumpf, salah

seorang tokoh psikologi eksperimental “baru” yang muncul di Jerman pada akhir

pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheimer yang mendirikan

psikologi Gestalt adalah juga murid Stumpf, dan mereka menggunakan

fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis.

Fenomenologi adalah deskripsi tentang data (secara harafiah disebut the

givens:yang diberi) tentang pengalaman langsung). Fenomenologi berusaha

memahami dan bukan menerangkan gejala-gejala. Van Kaam (1966, dalam Hall,

1993:173) merumuskannya sebagai metode dalam psikologi yang berusaha untuk

menyingkapkan dan menjelaskan gejala-gejala tingkah laku sebagaimana gejalagejala

tingkah laku tersebut mengungkapkan dirinya secara langsung dalam

pengalaman. Fenomenologi kadang-kadang dipandang sebagai suatu metode

pelengkap untuk setiap ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan mulai dengan

mengamati apa yang dialami secara langsung (Boring, 1950:18, dalam Hall,

1993:173). Ide tentang fenomenologi diungkapkan secara indah pada buku Kohler

(1974) yang berjudul Gestalt Psychology, sebagai berikut :

Tampaknya ada satu titik tolak untuk psikologi, bahkan untuk semua ilmu

pengetahuan, yakni dunia sebagaimana kita alami apa adanya, secara naïf dan

tidak secara kritis. Kenaifan itu bisa hilang manakala kita melangkah terus.

Masalah-masalah mungkin timbul yang mula-mula sama sekali tertutup dari

pandangan kita. Untuk memecahkannya, mungkin perlu merancang konsep

2002 digitized by USU digital library 7

konsep yang sepertinya hanya sedikit berhubungan dengan pengalaman utama

yang bersifat langsung. Walaupun demikian, seluruh perkembangan harus

mulai dengan suatu gambaran dunia yang naïf. Sumber ini adalah perlu karena

tidak ada dasar lain yang menjadi titik tolak ilmu pengetahuan. Dalam kasus

saya, yang mungkin dapat dianggap mewakili banyak orang lain, gambaran

yang naïf itu, pada saat ini berupa sehamparan danau biru dikelilingi hutan

yang gelap, sebongkah besar batu karang berwarna abu-abu, keras dan dingin,

yang telah saya pilih sebagai tempat duduk, sehelai kertas tempat saya

menulis, suara angin redup yang hampir tidak menggerakkan pohon-pohon,

dan bau menusuk yang biasa dating dari perahu dan penangkapan ikan. Ada

hal yang lebih dari itu di dunia ini, entah bagaimana saya lihat sekarang,

meskipun tidak menjadi kacau dengan danau biru masa kini, sehamparan

danau lain berwarna biru lebih muda, tempat saya terpaku, beberapa tahun

lalu, melayangkan pandangan dari pantainya di Illinois. Saya benar-benar

sudah terbiasa melihat beribu-ribu pemandangan semacam ini yang muncul

pada waktu saya berada sendirian. Masih ada lagi di dunia ini, tangan dan jarijari

saya yang bergerak dengan ringan di atas kertas. Sekarang, setelah saya

berhenti menulis dan melihat lagi keliling, muncul juga perasaan sehat dan

kuat. Pada saat berikutnya, saya merasakan seperti ada tekanan misterius

pada suatu tempat dalam diri saya yang cenderung berkembang menjadi

perasaan diburu-saya sudah berjanji untuk menyelesaikan naskah ini dalam

beberapa bulan.

Salah seorang di antara fenomenolog kontemporer yang paling fasih dan paling

ulung adalah Erwin Straus (1963,19660). Sebuah pembahasan ilmiah dan ringkas

tentang fenomenologi oleh salah seorang pendukung utamanya dari kalangan

psikolog di Amerika Serikat dapat ditemukan dalam karya MacLeod (1964, dalam

Hall, 1993 : 174).

Fenomenologi sebagaimana terdapat dalam karya para psikolog Gestalt dan

Erwin Starus, pertama kali telah dipakai untuk meneliti gejala-gejala dari prosesproses

psikologis seperti persepsi, belajar, ingatan, pikiran, dan perasaan, tetapi

tidak digunakan untk meneliti kepribadian. Sebaliknya, psikologi eksistensial telah

menggunakan fenomenologi untuk menjelaskan gejala-gejala yang kerapkali

dipandang sebagai wilayah bidang kepribadian. Psikologi eksistensial dapat

dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan empiris tentang eksistensi manusia yang

menggunakan metode analisis fenomenologis (Hall, 1993:.174).

Telaah aksiologi terhadap aliran psikologi Gestalt dapat didekati melalui teori

keadilan. Terdapat 2 prinsip teori keadilan, menurut Rawls, yaitu : 1) bahwa setiap

orang memiliki persamaan hak atas kebebasan yang sangat luas hingga kompatibel

dengan hak kebebasan orang lain; 2) ketidaksamaan sosial dan ekonomi ditata

sedemikian sehingga keduanya (sosial dan ekonomi) : a) menjadi bermanfaat bagi

setiap orang sesuai harapan yang patut, dan b) memberi peluang yang sama bagi

semua untuk segala posisi dan jabatan (Muhadjir, 1998:155-156).

III.5 Sigmund Freud dan Teori Psikoanalitik.

Sigmund Freud (1856-1939) adalah seorang dokter berkebangsaan Vienna

yang mengkhususkan diri untuk mempelajari gangguan kejiwaan, terutama

gangguan jiwa neurotik, yaitu gangguan kejiwaan dimana penderita akan

memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, mudah lelah, insomnia, depresi,

kelumpuhan, dan gejala-gejala lainnya yang berhubungan dengan adanya konflik

2002 digitized by USU digital library 8

dan tekanan jiwa. Teori Freud ini dikenal dengan teori Psikoanalisis, yaitu teori

pemikiran Freud mengenai kepribadian, abnormalitas, dan perawatan penderita.

Aliran psikoanalisa disini tidak menampakkan adanya kemiripan dengan teori yang

sudah dibicarakan sebelumnya, karena pada dasarnya Freud sendiri tidak pernah

bertujuan mempengaruhi psikologi untuk keperluan akademis. Sejak ssemula Freud

hanya bertujuan meringankan penderitaan pasien-pasiennya, tetapi karena pengaruh

dari teori psikoanalisis ini nyatanya telah menembus psikologi sebagai ilmu, maka

kita akan melihat teori ini sebagai salah satu teori di dalam psikologi.

Beberapa pandangan yang diyakini oleh pengikut Freud adalah sebagai

berikut :

1. Psikolog sebaiknya mempelajari dengan tekun mengenai hukum dan faktor-faktor

penentu di dalam kepribadian (baik yang normal ataupun yang tidak normal), dan

menentukan metode penyembuhan bagi gangguan kepribadian.

2. Motivasi yang tidak disadari, ingatan-ingatan, ketakutan-ketakutan,

pertentangan-pertentangan batin, serta kekecewaan adalah aspek-aspek yang

sangat penting di dalam kepribadian. Dengan membawa gejala-gejala tersebut ke

alam sadarnya sudah merupakan satu bentuk terapi bagi penderita

kelainan/gangguan kepribadian.

3.Kepribadian seseorang terbentuk selama masa kanak-kanak dini. Dengan meneliti

ingatan-ingatan yang dimiliki seseorang ketika ia berusia 5 tahun, akan sangat

besar perannya bagi penyembuhan.

4.Kepribadian akan lebih tepat bila dipelajari di dalam konteks hubungan pribadi

yang sudah berlangsung lama antara terapis dan pasien. Selama terjadinya

hubungan yang seperti itu, maka pasien dapat menceritakan segala pikiran,

perasaan, harapan, khayalan, ketakutan, kecemasa, mimpi kepada terapis

(introspeksi informal), dan tugas terapis ialah mengobservasi serta

menginterpretasikan perilaku pasien (Davidoff, 1988:19-21).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Freud sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivisme ilmu

pengetahuan abad XIX. Analisa terhadap pandangan psikoanalisis tersebut, terutama

yang berkaitan dengan tugas terapis yaitu observasi dan interpretasi perilaku,

sejalan dengan metodologi psitivisme Auguste Comte. Alat penelitian yang pertama

menurut Comte adalah observasi. Kita mengobservasi fakta; dan kalimat yang penuh

tautology hanyalah pekerjaan sia-sia. Tindak mengamati sekaligus menghubungkan

dengan sesuatu hukum yang hipotetik, diperbolehkan oleh Comte. Itu merupakan

kreasi simultan observasi dengan hukum, dan merupakan lingkaran tak berujung

(Muhadjir, 1998:62-63).

Selain itu, pandangan-pandangan psikoanalisis tentang aspek-aspek penting

kepribadian juga sejalan dengan epistemology positivisme kritis dari Mach dan

Avenarius, yang lebih dikenal dengan empiriocritisisme. Menurutnya, fakta menjadi

satu-satunya jenis unsur untuk membangun realitas. Realitas bagi keduanya adalah

sejumlah rangkaian hubungan beragam hal indrawi yang relatif stabil. Unsur hal

yang indrawi itu dapat fisik, dapat pula psikis (Muhadjir, 1998:64-65).

Menurut Popper, filsafat deterministic mencermati keteraturan biologik.

Pooper dipengaruhi oleh Kant, dimana ia menampilkan hipotesa besar imajinatifnya

berupa teori keteraturan deterministic. Alam semesta ini teratur. Ilmuwan berupaya

membaca keteraturan tersebut. Dalam hal ini, uji falsifikasi diharapkan diketemukan

2002 digitized by USU digital library 9

kawasan benar dan kawasan salah dari teori itu. Popper menguji teorinya secara

deduktif dengan uji falsifikasi, dan kesimpulan yang hendak dicapai adalah

kebenaran probabilistic. Teori relatifitas Einstein merupakan salah satu teori yang

tepat diuji validitasnya dengan uji falsifikasi Popper (Muhadjir, 1998:99)..

Sejalan dengan filsafat determinisme dari Popper tersebut, Freud

menganggap organisme manusia sebagai suatu energi kompleks, yang memperoleh

energinya dari makanan yang dimakannya dan menggunakannya untuk bermacammacam

hal, seperti sirkulasi, pernapasan, gerakan otot, mengamati, berpikir, dan

mengingat. Freud tidak melihat alas an untuk menganggap bahwa energi yang

dikeluarkan untuk bernapas atau pencernaan adalah berbeda dari energi yang

dikeluarkan untuk berpikir dan mengingat, kecuali dalam hal bentuknya.

Sebagaimana sangat didengungkan oleh ahli-ahli ilmu alam abad XIX, energi harus

didefinisikan berdasarkan sejenis pekerjaan yang dilakukannya. Apabila

pekerjaannya merupakan kegiatan psikologis, seperti berpikir, maka Freud yakin

bahwa adalah sangat sah menyebut bentuk energi ini energi psikis. Menurut doktrin

penyimpanan energi, energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi

tidak dapat hilang dari seluruh system kosmis; berdasarkan pemikiran ini maka

energi psikis dapat diubah menjadi energi fisiologis dan demikian sebaliknya. Titik

hubunghan atau jembatan antara energi tubuh dan energi kepribadian adalah id

beserta insting-instingnya (Hall, 1993:68-69).

Telaah aksiologi terhadap aliran psikoanalisa ini akan tepat jika didekati

dengan teori moral tentang keutamaan dan jalan tengah yang baik dari Aristoteles.

Aristoteles mengetengahkan tendensi memilih jalan tengah yang baik antara terlalu

banyak (ekses) dengan terlalu sedikit (defisiensi). Keberanian merupakan jalan

tengah antara kenekatan dengan kepengecutan. Kejujuran merupakan jalan tengah

antara membukakan segala yang menghancurkan dengan menyembunyikan segala

sesuatu. Pada dataran rasional, Aristoteles juga mengetengahkan teori keutamaan

intelektual, dalam tampilan seperti : efisiensi dan kreatif. Teori moral ini sangat

realistic, dimana dalam mengatasi konflik dilakukan dengan mencari jalan tengah

yang terbaik (Muhadjir, 1998:156)

III.6 Aliran Humanisme.

Psikolog yang berorientasi humanistic mempunyai satu tujuan, mereka inin

memanusiakan psikologi. Mereka ingin membuat pskologi sebagai studi tentang “apa

makna hidup sebagai seorang manusia”. Mereka berasal dari berbagai latar belakang

dan keyakinan yang beragam. Sebagian besar psikolog yang berorientasi

humanistic mempunyai sikap yang sama, yaitu :

1.Para ilmuwan seharusnya tidak melupakan bahwa tugas utama mereka ialah

melayani sesama, sekalipun mereka memang mempunyai tugas mengumpulkan

dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Psikolog seharusnya dapat menolong

orang lain sedemikian rupa sehingga orang tersebut mampu lebih mengenal dirinya

secara baik serta mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya secara

maksimal. Psikolog harus mengarahkan tugasnya untuk memperkaya kehidupan

seseorang.

2.Ilmuwan perilaku seharusnya mempelajari makhluk hidup sebagai satu

keseluruhan yang utuh, tanpa mengkotak-kotakkan ke dalam penggolongan fungsi

2002 digitized by USU digital library 10

seperti misalnya persepsi, belajar, dan kepribadian (lihat adanya pengaruh

psikologi Gestalt).

3.Tugas psikolog adalah mempelajari tujuan hidup, keterkaitan diri, pemenuhan

kebutuhan, kreativitas, spontanitas, dan nilai-nilai yang dianutnya. Ini semua

adalah persoalan manusia yang sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya pribadi.

4.Ilmuwan perilaku seharusnya memusatkan perhatiannya pada kesadaran subyektif

(bagaimana seseorang memandang pengalaman pribadinya) karena interpretasi

yang dia lakukan mempunyai arti yang amat penting dan mendasar bagi semua

kegiatan manusia (pemikiran ini juga mencerminkan pengaruh psikologi Gestalt).

5. Ilmuwan perilaku harus belajar untuk memahami manusia sebagai individu yang

mempunyai perkecualian serta tidak dapat diramalkan sebelumnya, namun tetap

sebagai makhluk yang umum dan universal. Kebalikannya, justru psikolog

psikoanalitik, neobehavioristik, dan kognitif lebih memusatkan perhatiannya untuk

mempelajari sifat umum.

6.Metode-metode ilmiah khusus yang hendak dipakai oleh ilmuwan perilaku

seyogyanya bersifat sekunder. Hal ini karena persoalan yang mereka pilih untuk

dipelajari adalah yang utama. Oleh karena itu, psikologi humanistic menggunakan

bermacam-macam stategi penelitian ilmiah : metode obyektif, studi kasus

individual, teknik-teknik introspeksi informal, bahkan menganalisis karya tulisnya.

Hal ini karena para psikolog humanistic yakin bahwa kesadaran naluriah

merupakan sumber informasi yang amat penting, maka mereka tidak ragu-ragu

untuk mengandalkan dan percaya sepenuhnya pada perasaan subyektif mereka,

serta kesan-kesan mereka secara psibadi (Davidoff, 1988:27-28).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Martin Heidegger, yang semula dikenal sebagai filosof eksistensialis, sejak

1947, dengan bukunya Letter of Humanism mulai dikenal perubahannya, dan

selanjutnya dikenal sebagai tokoh yang memberi landasan ontology modern yang

phenomenologist. Dalam pandangan Heidegger, ilmu tentang yang ada pilah dari

ilmu positif. Ilmu tentang yang ada merupakan teanscendental temporal science,

ilmu transenden yang temporal. Makna transenden pada pustaka Barat umumnya

diartikan dunia obyektif universal. Demikian pula makna metafisik, sebagai dataran

obyektif universal. Berbeda dengan makna transenden dan metaphisik dalam

pustaka keagamaan.

Menurut Heidegger, humanisme dapat berakar pada dataran metafisik atau

setidaknya pada sesuatu yang lebih tinggi dan bearakar pada konsep human being

sebagai animal rasional. Being sebagai being momot commonality (ontology) dan

momot dasar mutlak dari being, yaitu a supreme Being (teologi), sehingga Heidegger

mengenalkan konsep Being atau Da-Sein (da artinya disini; dan Sein artinya Being)

(Muhadjir, 1998:51-52)..

Telaah aksiologi terhadap aliran Humanisme dapat didekati dengan teori etika

hak asasi manusia dari John Locke (1632-1704). Menurut John Locke, hak asasi

ditafsirkan sangat individualistic. Hak kebebasan individual, pada hak negatifnya

menjadi tidak mencampuri kehidupan orang lain. Melden (1977) berpendapat bahwa

hak moral kebebasan individu mempunyai saling keterkaitan antarindividu.

III.7 Aliran Kognitif.

Pada awal 1960-an, banyak psikolog kognitif mulai memberontak terhadap

pandangan behavioral yang kuna. Para psikolog dari pandangan kognitif yakin

akan hal-hal di bawah ini :

2002 digitized by USU digital library 11

1.Ilmuwan perilaku seharusnya mempelajari proses-proses mental seperti pikiran,

persepsi, ingatan, perhatian, pemecahan persoalan, dan penggunaan bahasa.

2.Mereka ini seharusnya berusaha untuk memperoleh pengetahuan yang setepattepatnya

mengenai cara kerja dari proses-proses tersebut, dan bagaimana prosesproses

ini dapat dipergunakan di dalam kehidupan sehari-harinya.

3.Para ilmuwan perilaku seharusnya juga tetap memakai introspeksi informal,

khususnya bila ingin mengembangkan dugaan-dugaan yang dibuat, sedangkan

metode obyektif dapat dipergunakan untuk menguji kebenaran dugaan ini.

Psikologi kognitif ini berusaha menggabungkan aspek-aspek fungsionalisme,

psikologi Gestalt, dan behaviorisme (Davidoff, 1988:25).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Psikologi kognitif memiliki landasan filosofil Rasionalisme. Tokoh aliran filsafat

rasionalisme ialah Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Dalam rasionalisme, usaha

manusia untuk memberi kepada akal suatu kedudukan yang berdiri sendiri. Abad ke-

17 adalah abad dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam arti yang

sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar

terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan

kemampuan akal pasti dapat diterangkan segala macam permasalahan dan dapat

dipecahkannya segala macam masalah kemanusiaan.

Dengan berkuasanya akal ini, orang mengharapkan akan lahirnya suatu dunia

baru yang dipimpin oleh akal manusia yang sehat.Aliran filsafat rasionalisme ini

berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya adalah

akal (rasio). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang memenuhi

syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutlak, yaitu syarat yang dituntut

oleh semua pengetahuan ilmiah.

Secara ringkas dapat dikemukakan dua hal pokok yang

merupakan ciri dari setiap bentuk rasionalisme, yaitu :

1.Adanya pendirian bahwa kebenaran-kebenaran yang hakiki itu secara langsung

dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya.

2.Adanya suatu penjabaran secara logis atau deduksi yang dimaksudkan untuk

memberikan pembuktian seketat mungkin mengenai lain-lain segi dari seluruh sisa

bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagai kebenarankebenaran

hakiki tersebut di atas (Mustansyir, 2001:73-75).

Telaah aksiologi terhadap aliran psikologi kognitif dapat didekati melalui teori

keadilan. Terdapat 2 prinsip teori keadilan, menurut Rawls, yaitu : 1) bahwa setiap

orang memiliki persamaan hak atas kebebasan yang sangat luas hingga kompatibel

dengan hak kebebasan orang lain; 2) ketidaksamaan sosial dan ekonomi ditata

sedemikian sehingga keduanya (sosial dan ekonomi) : a) menjadi bermanfaat bagi

setiap orang sesuai harapan yang patut, dan b) memberi peluang yang sama bagi

semua untuk segala posisi dan jabatan (Muhadjir, 1998:155-156).

IV.FILSAFAT ILMU DALAM PSIKOLOGI EKSISTENSIAL

Tokoh psikologi eksistensial yang terkenal adalah Ludwig Binswanger (1881)

dan Medard Boss (1903). Psikologi eksistensial menolak konsep tentang kausalitas,

dualisme antara jiwa dan badan, serta pemisahan orang dari lingkungannya.

2002 digitized by USU digital library 12

Psikologi eksistensial tidak mengkonsepsikan perilaku sebagai akibat dari

perangsangan dari luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia. Seorang

individu bukanlah mangsa lingkungan dan juga bukanlah makhluk yang teridir dari

insting-insting, kebutuhan-kebutuhan, dan dorongan-dorongan. Manusia memiliki

kebebasan untuk memilih, dan hanya ia sendiri yang bertanggungjawab terhadap

eksistensinya. Manusia dapat mengatasi baik lingkungan maupun badan fisiknya

apabila ia memang memilih begitu. Apa saja yang dilakukannya adalah pilihannya

sendiri. Orang sendirilah yang menentukan akan menjadi apa doa dan apa yang

akan dilakukannya (Hall, 1993:192-193).

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu).

Martin Heidegger (1889-1976) seorang filsuf Jerman dan Karl Jaspers (1883-

1969) (Hall, 1993:172-175) merupakan pencipta filsafat eksistensial dalam abad ini.

Hal yang lebih penting adalah bahwa Heidegger merupakan jembatan ke arah

psikolog dan psikiater. Ide pokok dalam ontology Heidegger (ontology adalah cabang

filsafat yang berbicara tentang ada atau eksistensi) ialah bahwa individu adalah

sesuatu yang ada-di dunia. Ia tidak ada sebagai diri atau sebagai subyek yang

berhubungan dengan dunia luar; seorang pribadi juga bukan merupakan benda atau

obyek atau badan yang berinteraksi dengan benda-benda lain yang membentuk

dunia. Manusia memiliki eksistensi dengan mengada-di-dunia, dan dunia memiliki

eksistensinya karena terdapat suatu Ada yang menyingkapnya. Ada dan dunia

adalah satu. Barret (1962, dalam Hall, 1993:172-175) menyebut ontology Heidegger

dengan teori Medan tentang Ada.

Telaah aksiologi terhadap Psikologi Eksistensial dapat didekati dengan teori

etika hak asasi manusia dari John Locke (1632-1704). Menurut John Locke, hak

asasi ditafsirkan sangat individualistic. Hak kebebasan individual, pada hak

negatifnya menjadi tidak mencampuri kehidupan orang lain. Melden (1977)

berpendapat bahwa hak moral kebebasan individu mempunyai saling keterkaitan

antarindividu.

V.FILSAFAT ILMU DALAM KONSELING

Banyak ahli sependapat bahwa di dalam pribadi yang sehat terdapat aspekaspek

yang berinteraksi secara terpadu. Ia bisa mempersepsikan diri sendiri secara

realistis, bisa menyesuaiakn dorongan dan keinginan dengan nilai moral yang ad, ia

memahami system nilai yang dimiliki, sehingga ia memahami pula apa dan

sejauhmana sesuatu boleh dan tidak bileh dilakukan. Dilihat dari sudut ini, hakikat

dan falsafah tujuan konseling adalah membantu seseorang agar mencapai prestasi,

hasil dengan kemampuan yang dimiliki secara maksimal. Untuk membantu hal ini

perlu dilatarbelakangi oleh dasar falsafah untuk konseling, bahwa ada kepercayaan

terhadap martabat dan harga diri seseorang, bahwa ada pengakuan terhadap

kebebasan dari seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya dan hak

seseorang untuk menentukan gaya dan corak kehidupan sendiri. Dalam

kenyataanya, tidak mungkin menghindari bahwa dalam proses konseling yang antara

lain bertujuan mengubah system nilai yang ada pada klien, namun dasar falsafahnya

harus tetap ada, yakni menghargai system nilai yang dimiliki klien, sehingga tidak

ada istilah keharusan atau pemaksaan. Inilah dasar munculnya konsep mengenai

individualisme , konsep yang mengakui adanya keunikan yang dimiliki setiap individu

dan yang memiliki hak untuk menentukan perkembangan dan perubahan sesuai

dengan kondisi khusus pribadinya. Dari sudut ini, salah satu tujuan penting dari

2002 digitized by USU digital library 13

seorang konselor adalah membantu agar pribadinya lebih merasa memiliki

kebebasan. Kebebasan yang dirasakan sebagai milik dan hak pribadinya dan yang

diakui dan dihargai oleh orang lain.

Pada tahun 1975, Arbuckle mengemukakan model filsafat untuk

mendasari teorinya mengenai konseling, yang singkatnya sebagai berikut :

1.Setiap orang dalam batas-batas tertentu adalah hasil kondisioning dengan

lingkungannya, yang pada saat ini merupakan hasil kondisioning di dalam dirinya

sendiri.

2.Kenyataan mengenai tekanan negatif dari luar, acapkali menutupi keadaan

sebenarnya bahwa dasar perubahan pada diri pribadi sama-sama bisa terjadi dari

dalam ke luar dan tidak selalu dari luar ke dalam.

3.Tanggung jawab pribadi adalah pencipta kebebasan perorangan dan bukan

sebaliknya.

4.Pemakaian istilah kebebasan pada hakekatnya hanya berupa istilah, karena dalam

kenyataannya tidak sebagaimana yang tercatat dalam literature, artinya

kebebasan yang tidak sepenuhnya bebas.

5.Pribadi yang bertanggungjawab dan bebas adalah pribadi yang mempersempit

perbedaan antara sikap dan perbuatan.

6.Kebebasan dan tanggungjawab berubah jika kultur juga berubah.

7.Seorang pribadi yang bertanggungjawab adalah seseorang yang tidak merasakan

kebutuhan untuk memaksa diri sendiri atau ide-idenya kepada orang lain.

Tiga kelompok system falsafah yang mendasari konseling, yakni :

1.Esensialisme.

Ada tiga aspek dalam kelompok ini, yakni : rasionalisme, idealisme, dan

realisme. Filsafat esensialitik menerima asumsi bahwa manusia adalah makhluk

satu-satunya didunia ini yang memiliki akal dan karena itu fungsi utama

mempergunakan akal adalah untuk mengetahui dunianya dimana ia hidup.

Selanjutnya dikemukakan bahwa kebenaran adalah universal dan absolut dan

manusia menemukan kebenaran dengan membedakan antara yang esensial dan

yang tidak. Mengenai absolutisme ini, Arbuckle (1975) menunjukkan bahwa

kepercayaan terhadap nilai absolut dapat menimbulkan kesulitan bagi para konselor.

Kalau konselor berpegang teguh pada konsep absolut, maka konselor akan sulit

menerima kebebasan pada klien untuk mengembangkan nilai-nilainya sendiri. Lebih

lanjut, Arbuckle mengemukakan bahwa yang penting adalah apakah konselor

percaya terhadap diri sendiri bahwa ia bisa memahami konsep absolut itu.

2.Progresivisme.

Menurut Blocher (1966), filsafat progresivistic ini muncul sebagai akibat dari

melunturnya kepercayaan terhadap konsep-konsep yang absolut. Para ahli tidak lagi

terlalu menitikberatkan pada teori, atau teori umum tentang pengetahuan,

melainkan memperhatikan hal-hal yang langsung dan khusus yang dapat dilihat

sebagai realitas dan obyek yang dapat dilihat, yang realistis dan membutuhkan

pemecahan persoalan secara langsung. Pendekatan-pendekatan dengan dasar

filsafat progresivistic antara lain eksperimentalisme, pragmatisme, dan

instrumentalisme. Pendekatan ini menitikberatkan pada pertanyaan seperti : apa

yang akan terjadi ? daripada pertanyaan : apakah kebenaran itu ? Suatu fakta akan

berharga dilihat dari kegunaannya dan bukan universalitasnya. Nilai adalah sesuatu

yang bersifat pribadi dan kebenaran adalah sesuatu yang dinamis, karena berada di

2002 digitized by USU digital library 14

dalam dunia yang selalu berubah. Suatu pandangan yang dijadikan dasar oleh aliran

empirisme dan behaviorime. Konsep dasar filsafat progresivistik bilamana dipakai

secara utuh oleh para konselor, akan bisa menimbulkan banyak kesulitan, karena

patokan atau ukuran yang dipakai adalah lingkungan dan masyarakat luas, termasuk

misalnya masalah penyesuaian diri yang berhubungan dengan integrasi kepribadian

dan kesehatan mental dan karena itu mengecilkan arti individualitas dan faktor yang

bisa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, padahal faktor tersebut adalah

faktor yang penting diperhitungkan sebagai faktor yang mempengaruhi gambaran

individualitasnya.

3.Eksistensialisme.

Konsep dasar filsafat eksistensialistik sebagai kelompok ketiga menurut

Blocher adalah kerinduan manusia untuk mencari sesuatu yang penting, sesuatu

yang bermakna dalam dirinya. Sesuatu yang paling bermakna di dalam diri

seseorang adalah eksistensi dirinya. Perhatian yang lebih besar terhadap pribadi,

terhadap manusia daripada terhadap system yang formal. Konsep identitas menjadi

sesuatu yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia. Konseling dari sudut

filsafat eksistensialistik ialah keterlibatan konselor untuk mengalami bersama apa

yang dialami klien, suatu respon empatik (empathic response) yang diperlihatkan

konselor, dalam usaha merekonstruksi struktur pribadi yang bermakna pada klien.

Mengenai ini, Beck (1963) menyusun beberapa paham dasar sebagai konsep dasar

falsafahnya untuk konseling yang diambil sebagian besar dari filsafat

eksistensialisme, sebagai berikut :

1.Setiap pribadi bertanggungjawab terhadap perbuatan-perbuatannnya sendiri.

2.Orang harus menganggap orang lain sebagai obyek dari nilai-nilai sebagai bagian

dari perhatiannya.

3.Manusia berada dalam dunia realitas.

4.Kehidupan yang bermakna harus terhindar sejauh mungkin dari ancaman, baik

fisik maupun psikis.

5.Setiap orang memiliki latar belakang keturunannya sendiri dan memperoleh

pengalaman-pengalaman unik.

6.Orang bertindak atas dasar pandangan terhadap realitasnya sendiri yang subyektif,

tidak karena realitas yang obyektif di luar dirinya.

7. Manusia tidak bisa digolongkan sebagai baik atau jahat dari asalnya (by nature).

8.Manusia berreaksi sebagai kesatuan organisasi terhadap setiap situasi (Gunarsa,

1996:9-13).

2002 digitized by USU digital library 15

KESIMPULAN

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah

ilmu Filsafat, sehingga . Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat. Psikologipun

lebih banyak dikembangkan oleh para pemikir dan ahli filsafat, yang kurang

melandasi pengamatannya pada fakta kongkrit. Lama-kelamaan, disadari bahwa

filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Dalam hal ini, sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat,

namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat, utamanya filsat

ilmu, bahkan ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafatpun, terutama

mengenai hal-hal yang menyangkut sifat, hakikat, serta tujuan dari ilmu

pengetahuan itu, (Ahmadi, 1998:28-29). Dengan demikian, maka akan dapat

dianalisa lebih lanjut tentang aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan psikologi

sebagai landasan filosofiknya, dalam hal ontology, epistemology, maupun

aksiologinya.

Perkembangan psikologi sejak berinduk pada filsafat hingga

perkembangannya kini memunculkan banyak aliran. Pembuka pintu bagi kemunculan

banyak aliran dalam dunia Psikologi dimulai dengan jasa Wilhelm Wundt yang

terkenal dengan strukturalismenya. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian

muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan

tokohnya Max Wertheimer, humanisme dengan tokohnya Maslow, kognitif dengan

tokohnya George Miller, dan psikoanalitik dengan tokohnya Sigmund Freud..

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Umum. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Davidoff, Linda L. 1988. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta, Erlangga.

Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta, PT BPK Gunung

Mulia.

Hall, Calvin S. dan Lindzey, Gardner. 1993. Teori-Teori Holistik (Organismik-

Fenomenologi). Yogyakarta, Kanisius.

Teori-Teori Psikodinamik

(Klinis). Yogyakarta, Kanisius.

Hilgard, Ernest R. 1987. Pengantar Psikologi, Edisi Kedelapan. Jakarta, Penerbit

Erlangga.

Muhadjir, Noeng. 1998. Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional

Komparatif. Yogyakarta, Rake Sarasin.

Mustansyir, Rizal dan Munir, Misnal. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta, Pustaka

Pelajar Offset.